Setelah malam mabuk yang panjang, ia bertemu dengan pria liar dan penuh gairah itu. Keterikatan yang didorong oleh obat-obatan membuat dua orang yang seharusnya tak akan pernah bersinggungan kini terj
Bar itu, ada yang berkesan liar dan luas, ada yang penuh gairah, ada pula yang lembut dan menyentuh perasaan. Banyak orang tenggelam di sana, meluapkan rasa sakit dari lubuk hati, menyembunyikan kepedihan dengan musik yang menggetarkan dan cahaya temaram.
"Mengapa, mengapa kau tak mencintaiku, kenapa?"
Ning Junlan membanting botol dan gelas di atas meja, mengeluarkan sendawa keras, lalu terkulai lemah di permukaan meja, menangis tersedu-sedu dalam keputusasaan.
Rambutnya lebat dan ikal seperti ganggang laut, wajahnya putih bersih dengan fitur yang halus, tubuhnya indah berbalut gaun putih, cahaya lampu sesekali menyinari wajah mabuknya, menampilkan kesedihan yang halus.
Dia adalah seniornya, dan Junlan selalu mengingat sosok elegan itu saat melintasi jalan yang rindang, senyum sopan yang tersungging di sudut bibirnya, kedipan penuh godaan, tatapan hangat dari balik kacamata, seperti matahari musim dingin yang menghangatkan jiwa, membuatnya terlena dan sulit melepaskan diri.
Tak disangka, hanya oleh senyum tipis itu, dirinya kehilangan jati diri seketika.
Namun hari ini, di pesta ulang tahun sang senior, dia muncul menggandeng seorang gadis lain di hadapan Junlan.
...
"Namanya Hua Yi, pacarku yang sedang aku jalin hubungan. Kenalanlah, Junlan!"
"Hua Yi, dia adik kelasku yang paling baik—Ning Junlan, putri keluarga Ning, sosok yang luar biasa di dunia bisnis!"
...
Junlan meneguk segelas lagi, matanya mulai kabur, teringat cara sang senior memperkenalkan dirinya, rasa pedih meny