Pada era 90-an, ketika David Stern berdiri di luar pintu stasiun televisi negeri Tiongkok dengan wajah penuh kegelisahan, ia memandang kaset rekaman NBA di tangannya, bertanya-tanya dalam hati bagaima
Sebagai seorang guru di SMA Nephalia Philadelphia, John Harper merasa kecerdasannya sedang dihina.
Dan menurut Harper, yang “menghina” kecerdasannya tak lain adalah siswa pertukaran asal Tiongkok yang kini berdiri di hadapannya—Su Feng.
“Kau bilang, di perjalanan ke sekolah, kau terjebak dalam baku tembak di jalanan, lalu setelah baku tembak berakhir, kau menyelamatkan seorang warga yang sama sekali tak kau kenal dan yang tubuhnya bersimbah darah akibat peluru, sehingga kau terlambat masuk kelas hingga dua jam pelajaran?” Mungkin ini alasan keterlambatan paling aneh yang pernah Harper dengar seumur hidupnya.
“Benar, Pak Guru.” Su Feng yang baru berusia enam belas tahun itu menjawab dengan raut tenang. Tak peduli seberapa tajam Harper menatapi kedua matanya, yang ia lihat hanya ketenangan dan keteguhan yang tak tergoyahkan…
“Ini sungguh keterlaluan!”
Nalar Harper berkata, siswa pertukaran dari Tiongkok ini pasti berbohong, pasti ia mengarang alasan sebegitu mustahil demi menghindari nilai nol di ujian akhir nanti.
Namun, Harper yang telah berkali-kali menghadapi kebohongan murid-muridnya, tahu benar, seorang pembohong takkan bisa setenang dan setegar ini.
Terlebih lagi, setelah memperhatikan noda darah di pakaian, sepatu, dan ujung celana Su Feng, Harper mulai bertanya-tanya, mungkinkah kenyataan yang absurd ini… benar adanya?
Bagaimanapun juga, di balik satu kebohongan sering tersembunyi banyak kebohongan lain. Maka untuk pertama kalinya dalam kariernya, Harper—yang oleh para murid kerap dijuluki “Setan Botak”—mengizinkan s