【【2019 Kompetisi Penulisan Sastra Tionghoa Yunqi】Karya Peserta】 Ia memesona, ia penuh daya pikat, ia memancarkan seribu satu pesona, ia menggoda hati siapa pun yang memandangnya. Ada yang berkata ia
Manusia pada hakikatnya pasti akan mati; ada yang berat melebihi Gunung Tai, ada pula yang mati tanpa alasan yang jelas.
Qin Menwu (mei, nada ketiga, dilafalkan seperti ‘mei’ yang berarti ‘indah’) sungguh tak pernah menyangka, dirinya ternyata termasuk golongan yang kedua.
Sebagai perempuan penggoda yang kehadirannya membawa petaka, makhluk yang di dunia kuno dipandang hina—bunga layu di depan orang, penutup peti mati pun enggan hadir—ia pernah membayangkan ribuan macam cara kematian menantinya. Kemungkinan terbesar, ia akan mati di ranjang seorang pria.
Namun, sungguh sial, ia malah mati di tengah jalan menuju ranjang itu!
Mengingat pria yang telah ia kejar sepuluh tahun lamanya, dan ketika akhirnya kesempatan itu datang—untuk mendekatinya, memanjat ke tempat tidurnya—bahkan ujung pakaian sang pria pun belum sempat tersentuh, ia sudah dihantam maut dengan satu tamparan!
Qin Menwu merasa dadanya sesak oleh ketidakadilan.
Kesadarannya perlahan memudar, dunia tenggelam dalam kegelapan. Samar-samar, ia mendengar suara orang bercakap-cakap.
“Ini sudah kelima kalinya ia mencoba bunuh diri, Tuan Qin. Saya sarankan agar Nona Qin segera mendapat perawatan. Kali ini kebetulan ditemukan tepat waktu, masih bisa diselamatkan. Tapi lain kali, siapa yang tahu nasibnya…”
Kelopak matanya terasa begitu berat, seluruh tubuhnya seperti kehilangan tenaga. Dengan susah payah Qin Menwu membuka mata, dan yang pertama kali tertangkap pandangannya adalah sosok punggung seorang pria—tinggi, tegap, dengan rambut pendek yang rapi. Pakaiannya serba hit