A namorada o desprezou por ser pobre, terminou com ele em público e se jogou nos braços de um playboy milionário; na reunião de ex-colegas, foi alvo de todo tipo de zombaria e humilhação, e sua vida a
"Dengung..."
Ponsel pintar bekas yang diletakkan di atas meja komputer tua bergetar. Layarnya menampilkan sebuah nama yang membuat detak jantung Lin Fan sejenak terhenti—Su Ya.
Dia menarik napas dalam-dalam, menekan rasa gugup dan kecemasan yang samar di dalam hatinya, lalu menggeser tombol terima panggilan.
"Halo, Xiao Ya..."
Sisi lain telepon terdiam sejenak. Namun, yang terdengar bukanlah suara lembut yang ia kenal, melainkan nada bicara yang dingin dan penuh ketidaksabaran.
"Lin Fan, ayo kita putus."
Tanpa basa-basi, langsung dan tegas, seperti belati yang dibekukan, menusuk tajam ke jantung Lin Fan.
Otaknya berdengung hebat. Ia hampir mengira dirinya salah dengar. Jari-jarinya yang memegang ponsel mencengkeram erat hingga buku jarinya memutih. "...Kenapa? Xiao Ya, bukankah hubungan kita baik-baik saja? Apakah karena aku terlalu sibuk akhir-akhir ini sehingga mengabaikanmu? Aku..."
"Baik-baik saja?" Su Ya mencemooh, suaranya penuh ejekan. "Lin Fan, sampai kapan kau mau membohongi diri sendiri? Lihatlah kehidupan yang kau jalani sekarang! Tinggal di tempat kumuh seperti ini, gaji pas-pasan setiap bulan, bahkan saat membelikanku tas yang agak bagus saja kau pelit! Aku sudah muak!"
Hati Lin Fan tenggelam ke titik terendah. Di luar jendela, lampu neon berkelap-kelip, mencerminkan malam di kota metropolitan yang gemerlap ini, sementara kamar sewaan seluas kurang dari sepuluh meter persegi tempatnya berada justru tampak begitu kontras, suram, dan menekan. Dindi