Na noite em que ela fugiu do casamento, o Sr. Fu perdeu totalmente o controle

Na noite em que ela fugiu do casamento, o Sr. Fu perdeu totalmente o controle

Penulis: O pincel do templo está em chamas.
45ribu kata Palavras
0kunjungan visualizações
285bab Capítulo

[Primeiro sofrimento, depois satisfação] Após um acidente, Shen Ningwei descobre que Fu Chengyu, o homem a quem amou profundamente por tantos anos, aproximou-se dela com outros interesses. Fu Chengyu

Jilid Satu Bab 1 Ternyata Semua Ini Adalah Tipu Daya Dirinya (Menambahkan Rak Buku Tidak Merugikan)

“Putra sulung keluarga Fu, aku harus bilang kau memang luar biasa. Dulu, butuh kurang dari sebulan untuk mendapatkan hatinya dengan mudah, dan setelah lebih dari tiga tahun, kalian benar-benar berencana menikah minggu depan?”

Ada yang menyampaikan pendapat berbeda.

“Tapi cahaya bulan putihnya Yu-ge akan segera kembali. Kau benar-benar rela melepaskannya? Katakan saja, nanti kau ingin bagaimana membuang masalah ini di hari pernikahan? Membiarkan dia dipermalukan di seluruh ibu kota.”

Di ruangan VIP yang penuh gelak tawa dan candaan, para sahabat pria itu terus menggoda, lampu remang-remang berpadu dengan suara gelas kaca yang saling beradu. Di luar, hujan deras mengguyur, dan karena khawatir Fu Chengyu mabuk dan sulit mengemudi, Shen Ningwei sengaja datang dari Kota B.

Wanita di luar pintu mendengarkan dengan tenang.

Berdiri di depan pintu ruangan, seolah-olah kakinya direkatkan lem, jantungnya berdegup kencang, kunci mobil di tangan digenggam erat hingga ujung jari memutih karena tekanan yang tak terkontrol.

Rasa asam yang menusuk seperti pisau, kejam mengiris hatinya.

Orang-orang di dalam sedang bersenang-senang, pintu yang lupa ditutup rapat menyisakan celah cukup besar, cukup untuk orang luar melihat apa yang terjadi di dalam.

Tubuh Shen Ningwei kaku, tak mampu bergerak. Jika bisa, ia berharap tadi hanya salah dengar.

Namun, justru kata-kata yang tanpa sengaja masuk ke otaknya itu memaksanya untuk terus mendengarkan.

Dari celah, suara tawa dan candaan mereka terasa menusuk, bising tak berkesudahan.

“Ben

📚 Rekomendasi Terkait

Peringkat Terkait