Bab 1 Pulang Bersamaku
"Mau ikut pulang denganku?"
Gadis kecil berusia delapan tahun bernama Meng Lezhi menengadah, menatap remaja laki-laki tinggi di depannya.
Ia ingat, namanya Jing Moqing.
Ini kali kedua ia bertemu dengannya di panti asuhan.
Pertama kali adalah tiga hari lalu.
Hari itu, kepala panti bilang ada yang ingin menemuinya.
Meng Lezhi mengikuti kepala panti ke kantor, di sanalah ia bertemu kakak laki-laki tampan itu.
Ia adalah orang paling tampan yang pernah ia lihat selama hidupnya.
Bau tubuhnya harum, bajunya sangat bersih dan terbuat dari bahan bagus.
Dengan hati-hati ia menatap orang asing itu, tak berani mendekat.
Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah ini orang yang ingin mengadopsinya?
Namun, ia tampak sangat serius.
Tak lama, ia pun mengetahui jawabannya.
Bukan.
Ia hanya diminta seseorang untuk melihat keadaannya.
Ia membelikan pakaian baru, perlengkapan hidup, alat belajar...
Juga memberikan kepala panti sejumlah uang yang sangat besar.
Hari itu kepala panti sangat bahagia.
Ia berjanji akan merawat Meng Lezhi dengan baik.
Namun Meng Lezhi tahu, selama ia masih di sini, kesabaran kepala panti tak akan bertahan lebih dari seminggu.
Ia tetap akan kelaparan, kedinginan, dan selalu mendapat pekerjaan yang tak kunjung selesai.
Orang itu pun pergi.
Meng Lezhi didampingi kepala panti mengantar sampai ke gerbang.
Sebelum pergi, ia menoleh padanya.
Kepala panti segera mendorong Meng Lezhi ke depan, "Ucapkan selamat tinggal pada kakak."
Meng Lezhi menatapnya, kedua tangan erat menggenggam pakaian lusuh hasil cuciannya sendiri, berkata pelan, "Kakak, selamat jalan."
Ia tidak menjawab, langsung berbalik naik ke mobil.
Meng Lezhi menatap mobil hitam mahal itu menjauh.
Selamat jalan?
Benarkah masih bisa bertemu lagi?
Faktanya, mereka benar-benar bertemu lagi.
Dan kini, ia bertanya apakah Meng Lezhi mau ikut pulang bersamanya.
Apakah itu artinya ia akan diadopsi?
Apakah ia boleh meninggalkan tempat ini?
Karena gugup, mata dan bibir Meng Lezhi bergetar pelan.
Jing Moqing mengulurkan tangan ke depannya, sekali lagi bertanya, "Mau ikut pulang denganku?"
Meng Lezhi berkedip, menelan ludah karena gugup, lalu perlahan mengulurkan tangan.
Tepat saat hendak menyentuh tangan laki-laki itu, ia menarik kembali tangannya, mengelapnya pada pakaian sendiri.
Tangan sebersih dan seindah itu, tidak boleh dikotori.
Meski tangan Meng Lezhi baru saja dicuci dan tidak kotor, namun kulit tangannya kasar dan keriput, akibat sering mencuci pakaian dan terendam air.
Ia takut lelaki itu jijik padanya lalu membatalkan niatnya.
Tapi yang bisa ia lakukan hanyalah mengelap tangan pada bajunya.
Jing Moqing mendesah pelan.
Meng Lezhi menatapnya dengan cemas, melihat tangan itu tetap terulur, tidak ditarik kembali.
Ia buru-buru menggenggam jari-jari lelaki itu, takut jika terlambat, ia berubah pikiran.
Jing Moqing membalas genggaman tangannya, "Ayo, kita pergi."
Meng Lezhi menggenggam jari-jarinya erat, berjalan keluar gerbang panti asuhan bersamanya.
Sebelum masuk mobil, Meng Lezhi menoleh ke arah kepala panti dan panti asuhan di belakangnya.
Ia berjanji akan menjadi anak baik, tidak membuat masalah.
Ia tak ingin kembali ke sini lagi.
...
Sepuluh tahun kemudian.
SMA Satu Ibu Kota.
...
Hari Jumat, begitu pelajaran terakhir usai, semua murid sangat bersemangat membereskan barang-barang dan bersiap pulang.
Seluruh kelas serasa diterjang angin ribut.
Hanya Meng Lezhi yang masih berkemas dengan lambat.
Liu Sien merapikan buku dan lembar ujiannya di meja, mengambil tas sekolah yang kosong, lalu menengok ke arah Meng Lezhi yang bergerak lamban, "Wah, kamu rangking kedua dari bawah, kerasukan kukang ya? Sudah pulang kok belum jalan juga?"
Meng Lezhi menatapnya, wajah cantiknya tampak muram.
"Kenapa? Kakakmu sudah pulang?" Liu Sien terkejut, "Cara ini benar-benar ampuh ya?"
"Ampuh sih ampuh, tapi rasanya nyawa tinggal separuh," Meng Lezhi menghela napas pelan.
Jing Moqing sudah dua bulan tidak pulang.
Nilai Meng Lezhi merosot tajam, ia pun tetap tak kunjung pulang.
Kemarin sore, entah kenapa, ia menghindari sopir penjemput dan ikut pulang ke rumah Liu Sien, berlagak kabur dari rumah.
Pulang sekolah jam enam, setengah tujuh sudah sampai rumah Liu Sien.
Jam delapan malam sudah dijemput lagi.
Di perjalanan pulang, ia mendapat telepon dari Jing Moqing.
Hanya dua kalimat yang diucapkannya.
Pertama, "Besok aku pulang."
Kedua, "Sebaiknya sebelum aku sampai rumah, kamu sudah dapat alasan supaya kedua kakimu tetap utuh."
Setelah itu telepon langsung diputus.
Tak diberi kesempatan bicara sedikit pun.
Nada suaranya yang dingin dan marah menyelimuti Meng Lezhi.
Ia tahu.
Selesai sudah.
Kali ini ia benar-benar keterlaluan.
...
Dengan berat hati ia keluar gerbang sekolah.
Meng Lezhi masuk ke mobil, hanya ada sopir, Jing Moqing tidak ada.
Ia masih punya sepuluh menit untuk mencari alasan.
Sepuluh menit berlalu dengan cepat.
Mobil masuk ke halaman rumah keluarga Jing.
Meng Lezhi menggenggam kedua tangan erat-erat.
Perasaannya campur aduk antara senang dan takut.
Senang karena Jing Moqing akhirnya pulang.
Takut karena ia sedang sangat marah.
Ia turun mobil, berjalan masuk ke vila dengan cemas, mengganti sepatu di depan pintu, lalu menarik napas panjang dan memberanikan diri masuk ke ruang tamu.
Entah kenapa, ruang tamu hari ini terasa lebih suram, sunyi, dan kelabu.
Melangkah beberapa langkah ke dalam, Meng Lezhi melihat Jing Moqing duduk di sofa.
Perasaan bahagia lebih dulu muncul daripada takut.
Namun ketika bertemu tatapan tajam dan dingin Jing Moqing, lesung pipi di wajahnya pun menghilang.
Ia berdiri di tempat, tak berani bergerak.
Tatapan Jing Moqing mengarah padanya, setelah beberapa saat berkata, "Kemari."
Suara dingin dan tak berperasaan itu serasa batu yang menghantam dadanya.
Jantungnya berdebar keras.
Benar-benar sedang marah.
Marah sekali.
Meng Lezhi ragu sejenak, lalu mengambil penggaris kayu di vas bunga sampingnya.
Penggaris kayu itu sudah ada di sana sejak ia tinggal di sini.
Selain dibersihkan oleh asisten rumah tangga, tak pernah ada yang menyentuhnya.
Ternyata begini rasanya memegangnya.
Meng Lezhi berjalan ke depan Jing Moqing, kedua tangan menyerahkan penggaris kayu itu.
Jing Moqing menatap penggaris itu, lalu tersenyum tipis, "Kamu sedang bertaruh aku bakal luluh?"
Meng Lezhi tidak menjawab, hanya berkata, "Aku salah."
"Ujian bulanan peringkat kedua dari bawah, ujian tengah semester juga kedua dari bawah." Suara Jing Moqing setajam pisau, "Tidak dapat peringkat paling bawah karena posisi itu kamu sengaja sisakan untuk sahabatmu, ya?"
Meng Lezhi menunduk, diam.
"Sudah bisa kabur dari rumah juga," lanjut Jing Moqing, "Tahu nggak semalam semua orang di rumah khawatir setengah mati?"
Meng Lezhi menggigit bibir.
"Jawab." Jing Moqing berkata.
Dua kata ringan itu membuat bahu Meng Lezhi sedikit terangkat, ia tersentak kaget.
"Aku... aku..." Meng Lezhi berpikir sejenak, lalu berkata, "Aku cuma nginap di rumah teman satu malam, itu juga nggak boleh ya? Kakak bisa dua bulan nggak pulang, aku semalam saja nggak boleh?"
Semakin lama suaranya makin pelan.
"Lalu kenapa tidak bilang ke sopir?" ujar Jing Moqing.
Meng Lezhi diam membisu.
"Aku itu keluar kota karena kerja..."
"Kamu bohong," sergah Meng Lezhi, menatapnya, "Aku sudah tanya ke asistenmu, pekerjaanmu sudah selesai lama. Kamu saja yang nggak mau pulang."
Kali ini Jing Moqing yang terdiam.
"Aku nggak pulang juga belajar dari kamu," tambah Meng Lezhi cepat-cepat.
Mendengar itu, Jing Moqing tersenyum tipis.
Namun senyuman itu sungguh menakutkan.
Meng Lezhi sampai tangannya gemetar, keberanian kecil yang tadi muncul hancur seketika, "K-kalau gitu, hukum saja aku."
Jing Moqing menerima penggaris kayu itu.
Meng Lezhi tidak menarik kembali tangannya, ia menutup mata.
Ia bisa merasakan penggaris itu diangkat, mengibas angin di depannya.
Ia memperkirakan seberapa keras pukulannya.
Dengan sekuat tenaga, ia menahan diri agar tidak menarik tangannya.
Namun rasa sakit yang ditakutkan tak juga datang.
Ia menunggu sebentar, hendak membuka mata untuk melihat.
Tangan terasa berat.
Plak!
Meng Lezhi terkejut lagi, seluruh tubuhnya bergetar.
Ia membuka mata, melihat Jing Moqing menepuk tangannya.
Meng Lezhi menatapnya.
Jing Moqing memandang matanya yang memerah setelah membuka mata, "Ini yang terakhir."
Marah boleh saja, tapi untuk memukul ia tak sampai hati.
Meng Lezhi menatapnya, matanya yang besar berkedip-kedip.
"Dengar tidak?" tanya Jing Moqing.
"Mengerti," jawab Meng Lezhi patuh, "Tidak akan ada lagi lain kali."
Selesai bicara, ia langsung bertanya, "Kakak masih akan pergi lagi?"
"Masa aku masih bisa pergi?" sahut Jing Moqing, "Berani-beraninya? Kalau aku pergi lagi, apa kamu nanti langsung merobohkan rumah ini?"
Meng Lezhi menahan senyum, tak bisa menahannya lebih lama, lesung pipi di wajahnya pun muncul.
Jing Moqing mendengus, melempar penggaris ke samping, "Ujian berikutnya, perbaiki nilai. Jangan sampai wali kelasmu meneleponku lagi."
"Itu karena Kakak tidak pulang," kata Meng Lezhi.
"Baiklah," Jing Moqing bangkit, mencubit pipinya, "Semuanya salahku. Nona kecilku."
Meng Lezhi tersenyum.
Jing Moqing mengusap kepalanya, "Naik ke atas, ganti baju, nanti makan malam."
Meng Lezhi mengangguk, berbalik pergi, melangkah dua langkah lalu kembali memeluk Jing Moqing.
Tatapan Jing Moqing sempat tertegun, lalu sisa kemarahannya pun sirna. Tangannya pun terhenti sejenak, sebelum akhirnya mengelus kepala Meng Lezhi, "Sudah besar, peluk-peluk orang saja."
Meng Lezhi tak berkata apa-apa, hanya bersandar sebentar, menghirup wangi kayu yang familiar.
Kecemasan selama dua bulan terakhir terhapus.
"Kak, jangan tiba-tiba pergi lama lagi ya?" ujar Meng Lezhi lirih, "Aku belum pernah jauh dari Kakak selama itu, aku merasa Kakak sudah tidak menginginkan aku lagi."
Jing Moqing mengelus kepalanya dengan satu tangan, tangan satunya mengepal erat.
Urat-urat di tangannya menonjol menahan emosi.
Beberapa saat kemudian, Adamnya bergerak naik turun pelan, "Rumah ini akan selalu jadi rumahmu."
"Kakak juga harus selalu jadi kakakku," balas Meng Lezhi.
Mendengar itu, sudut bibir Jing Moqing membentuk senyum getir, "Iya."
...