Bab 1: Bukan Siswa Teladan
Halaman 1 dari 3
Lanz tiba-tiba menyerang dari belakang gadis itu.
“Eee—!”
Gadis berambut merah muda pucat dan berkacamata bingkai hitam itu, Koris, terkejut oleh serangan mendadak yang sama sekali tak diduga. Ia menjerit refleks.
Koris menoleh. Di hadapannya berdiri seorang pria bertubuh tinggi besar yang, entah mengapa, mengenakan kaus olahraga ketat putih meski berada di sekolah bangsawan.
Kulitnya hitam legam, seolah baru saja menghabiskan seluruh musim panas di tepi pantai, sementara rambutnya kuning terang seperti hasil pewarna murah yang direkomendasikan penata rambut amatir.
“Kembalikan... kepadaku!”
Tubuh mungil Koris sedikit gemetar, tetapi ia tetap berjinjit dan mengulurkan tangan, berusaha merebut kembali suratnya.
Mengabaikan usaha Koris, Lanz memanfaatkan keunggulan tinggi badannya untuk merobek amplop itu tanpa sedikit pun rasa sungkan, lalu mengangkat surat tersebut dan membacanya.
“Nona Koris, yang mendapat pengecualian biaya sekolah dan diterima di Akademi Saint-Lorant berkat nilai ujian yang luar biasa. Kalau dewan sekolah tahu bahwa baru saja masuk sekolah kau sudah membuat janji bertemu kekasihmu secara diam-diam di luar kampus, kurasa urusan beasiswamu perlu dipertimbangkan kembali.”
Mendengar ucapan Lanz, Koris menggigit bibir. Sepertinya ia sudah menerima kenyataan.
“...Apa yang kauinginkan agar mau melepaskanku?”
“Begitu lebih baik. Kau cepat sekali memahami keadaanmu.”
Lanz maju mendekat, menopangkan satu tangan ke dinding. Bayangannya sepenuhnya menyelimuti Koris.
Perbedaan ukuran tubuh itu menimbulkan tekanan yang tak dapat dijelaskan. Aura maskulin yang agresif membuat wajah Koris memerah. Meski punggungnya sudah menempel ke dinding, kedua kakinya tetap tanpa sadar menggesek lantai, seolah-olah ia berharap dapat menyatu dengan dinding dalam sekejap.
“Malam ini pukul sepuluh, di ruang kesehatan gedung sekolah. Kalau kau membuatku puas, benda ini akan kukembalikan.”
Lanz memasukkan surat Koris ke saku celananya, lalu berbalik pergi sambil melambaikan tangan dengan malas.
“Aku menantikannya, Koris.”
Akademi Saint-Lorant adalah salah satu sekolah paling bergengsi yang terkenal luas.
Bahkan setelah menyelesaikan ujian masuk yang sangat sulit, seseorang masih harus melewati pemeriksaan silsilah keluarga untuk dapat diterima. Sebagai gantinya, sekolah itu menawarkan hubungan dan jaringan sosial yang luar biasa, serta mutu pendidikan yang termasuk terbaik di bidangnya.
Bisa dikatakan, selama memiliki ijazah Saint-Lorant, hidup akan terasa seperti memasuki tingkat kesulitan mudah.
Namun, selain jalur penerimaan melalui ujian dan pemeriksaan biasa, akademi bergengsi seperti ini juga menyediakan sejumlah kuota tambahan setiap tahun. Ada murid rakyat jelata berprestasi seperti Koris, dan ada pula orang seperti Lanz—
Atlet berprestasi.
“Ssst! Dia datang!”
Lanz menyampirkan pakaian olahraganya di bahu. Para siswa yang semula berkumpul di lorong segera menyingkir seperti Laut Merah yang terbelah di hadapan Musa, menempel sedekat mungkin pada kedua sisi lorong agar tidak menarik perhatian Lanz. Namun, suara bisik-bisik mereka tetap masuk ke telinga Lanz tanpa henti.
“Dia muncul! Itu Lanz, kakak kelas tahun kedua? Tinggi sekali, persis seperti rumor!”
“Katanya, sejak tahun pertama, sebelum ujian tengah semester, dia sudah mengincar lebih dari selusin gadis.”
“Aku dengar dia punya latar belakang geng. Sepertinya sepupu seorang tokoh besar dunia hitam atau semacamnya.”
Lanz berusaha keras mengendalikan ekspresinya.
Memang, setelah setahun ia sedikit banyak sudah terbiasa, tetapi ini sudah bukan tingkat bisik-bisik lagi, bukan?
Seperti kata para siswa itu, Lanz memang bisa disebut—
Si rambut kuning!
Namun, bukan rambut kuning seperti yang tampak dari luar.
Halaman 2 dari 3
Sebenarnya, setahun lalu Lanz baru saja berpindah ke dunia ini. Akademi Saint-Lorant sendiri merupakan latar cerita gim percintaan berjudul “Mengulang Hidup: Baru Mulai Belajar Setelah Teman Masa Kecilku Pergi Sendirian ke Sekolah Elite?”
Tentu saja Lanz belum pernah memainkan gim aneh semacam itu—meski ia sedikit banyak mengetahui isinya.
Gambaran umumnya adalah: teman masa kecil sang tokoh utama berhasil lulus ujian dan masuk ke Akademi Saint-Lorant, lalu berkenalan dengan kakak kelas atlet berambut kuning yang tidak becus dalam pelajaran. Sementara itu, sang tokoh utama harus mengulang kelas karena nilainya tidak mencukupi.
Dalam gim tersebut, sang tokoh utama harus membagi waktu setiap hari untuk belajar, bekerja paruh waktu, dan berkencan. Jika tidak memenuhi persyaratan pada akhir setiap bulan, ia akan menerima rekaman video misterius.
Singkatnya, itu adalah gim percintaan dengan unsur strategi yang sangat kuat.
Namun, karena adanya mekanisme sensor, akhir cerita gim dan film harus dipastikan tetap membawa nilai-nilai positif. Jika film horor tidak boleh memiliki hantu, maka gim tentang si rambut kuning juga tidak boleh menghadirkan si rambut kuning yang berakhir bahagia.
Dari belasan alur akhir dalam gim, nasib si rambut kuning pada dasarnya selalu berupa dibacok, diseret ke penjara, alat kejahatannya disita, atau diubah menjadi perempuan lalu dikirim ke sekolah khusus laki-laki untuk menjadi petugas pengelola hasrat yang tertekan—
Di antara semua itu, hanya ada satu alur yang memungkinkan si rambut kuning memperoleh akhir biasa: belajar untuk mengubah nasib.
Selama ia berhasil lulus dengan lancar, bertobat dan kembali ke jalan yang benar, ia dapat menghindari akhir yang buruk.
Setelah memahami hal ini, Lanz memutuskan untuk mengerahkan seluruh kemampuannya belajar sejak hari pertama masuk sekolah. Namun, ketika pertama kali membuka buku pelajaran, ia akhirnya sadar bahwa kelembaman takdir tidak semudah itu untuk dibalikkan.
Sebelum berpindah ke dunia ini, tingkat kemampuan belajar Lanz sebenarnya berada di atas rata-rata. Akan tetapi, setelah terlahir kembali sebagai atlet berambut kuning yang tak becus belajar, keberadaan kemampuan pasif “Tak Berilmu dan Tak Berbakat” seolah-olah memaksa kemampuan belajarnya kembali ke nol.
Setelah belajar sekuat tenaga selama setahun, selain olahraga, semua mata pelajarannya gagal total. Dalam hal akademik, ia bisa dikatakan mengalami kekalahan mutlak.
Masa satu tahun telah berlalu. Melihat gadis jenius dalam cerita sebentar lagi akan datang ke Akademi Saint-Lorant, Lanz tak kuasa terjerumus dalam perenungan.
Apakah ia hanya bisa berhenti sampai di sini?
Apakah ia harus membiarkan dirinya hanyut menjalani kehidupan sekolah milik si rambut kuning?
Kehidupan yang hanya menampilkan tubuh bagian bawahnya tanpa henti dalam ilustrasi permainan, lalu berakhir dengan namanya muncul di berita kriminal—
Kembali ke masa kini, tanpa sadar Lanz sudah tiba di ruang pancuran.
Air dingin yang tercurah deras tak mampu memadamkan semangat juang yang menyala di mata Lanz.
Walaupun sosok Koris tampaknya sedikit berbeda dari yang ada di gim, perubahan dari dunia dua dimensi ke dunia nyata memang mungkin akan seperti ini. Terlalu mempersoalkan tingkat kemiripan pemeran kostum hanyalah kebiasaan seorang pemula.
Kalau harus jujur, ukuran dadanya memang agak berbeda dari versi gim. Namun, mungkin inilah maksud tulisan “gambar hanya sebagai ilustrasi”.
Kesempatannya hanya satu. Demi mematahkan belenggu takdir tragis milik si rambut kuning—
“Koris, aku membutuhkan bantuanmu untuk belajar!”
...
Pada pelajaran sore, Koris meminta izin tidak masuk dengan alasan sedang tidak enak badan.
Kabar bahwa ia telah diincar oleh si rambut kuning kelas dua menyebar di kelas dengan sangat cepat, jauh di luar dugaan.
Teman-teman sekelas menatapnya dengan sorot mata tak berdaya menolong. Guru itu tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi menahannya. Meski begitu, sebelum Koris meninggalkan ruang kelas, sang guru tetap memanggilnya.
“Koris—kalau ada yang bisa Ibu bantu, katakan saja kepada Ibu, ya.”
“Ti-tidak apa-apa. Aku hanya sedang tidak enak badan.”
Koris menutup pintu kelas, menghalangi suara-suara pembicaraan samar di belakangnya.
Seandainya ia hanya seorang siswi jenius biasa, meminta bantuan guru memang mungkin akan berguna. Bagaimanapun, ini sekolah elite. Mereka tentu tidak akan membiarkan murid berandalan bertindak sesuka hati.
Berjalan sendirian di lorong yang sepi, Koris tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Buk! Buk! Buk! Buk! Buk!
Halaman 3 dari 3
Koris mendadak mulai menghantamkan dahinya ke dinding dengan ganas.
“Aaaaah, bagaimana bisa surat itu direbut dariku?! Apa aku terlalu lengah? Aku terlalu lengah karena terlalu lama tidak menjalani kehidupan sekolah!!”
Nilai ujian masuk tertulisnya melampaui rekor sepanjang sejarah Akademi Saint-Lorant. Seperti yang dikatakan para guru, Koris memang bisa disebut—
Si jenius akademik!
Namun, bukan si jenius akademik seperti yang tampak dari luar.
Sebenarnya, ia adalah seorang profesional penuh waktu yang berasal dari Desa Tanduk Perisai, ahli dalam menangani serbuan Alam Iblis. Singkatnya, ia adalah Penakluk Iblis.
Belum lama ini, ia lulus wawancara dan menjadi agen penyelidikan rahasia magang. Kali ini, ia menyamar sebagai siswi rakyat jelata yang jenius untuk menyusup ke Akademi Saint-Lorant dalam sebuah misi penyamaran.
Atas pengaturan organisasinya, ia sepenuhnya menggantikan identitas gadis jenius yang asli.
Adapun gadis yang identitasnya digantikan itu, karena kehilangan kesempatan masuk sekolah elite, kabarnya organisasi memberinya pekerjaan sebagai pegawai negeri sebagai kompensasi. Gadis tersebut konon cukup puas dengan hasilnya.
Namun, itu bukan inti persoalannya. Yang penting, surat komunikasi dari organisasi bahkan belum sempat ia buka ketika direbut oleh atlet berambut kuning kelas dua bernama Lanz!
Ini sudah termasuk kecelakaan kerja serius, bukan? Kalau diketahui oleh atasan, ia seratus persen akan dipecat dari dinas, bukan?
Dengan susah payah ia berhasil masuk dari daerah kecil ke departemen misterius yang terkenal. Memang agak aneh menyebut departemen misterius sebagai departemen terkenal, tetapi bagi orang-orang seperti mereka—baik Penakluk Iblis, Ksatria Putri, maupun Gadis Ajaib—tekanan dunia kerja saat ini tetap sangat besar. Bisa masuk ke organisasi yang bersedia membayar tunjangan asuransi secara lengkap saja sudah merupakan berkah.
Saat meninggalkan kampung halaman, ia telah berpisah dengan semua orang sambil berlinang air mata. Mereka bahkan sudah berjanji bahwa jika kelak datang ke kota besar, ia akan bertanggung jawab menyambut mereka. Setelah menikmati tatapan iri penuh kekaguman dari semua orang, apakah ia akan langsung dipecat oleh organisasi?!
Ia tidak mau mengalami hal seperti itu!
Namun, masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
Koris menghentikan aksi menghantam dahi, lalu mulai berpikir sambil menahan benjolan merah menyala di keningnya.
Pertama, surat rahasia organisasi ditulis menggunakan sandi khusus. Kalaupun terbaca, seharusnya isinya tidak akan bocor. Namun, karena surat itu memuat petunjuk mengenai tindakannya selanjutnya, ia tetap harus mendapatkannya kembali.
Ia tidak mungkin melapor kepada organisasi, “Ahaha, perintah terakhir itu belum sempat kubaca, tapi sudah hilang. Bisa kirim ulang satu surat lagi, tidak~~?”
Kedua, ia harus sebisa mungkin menghindari perhatian pihak sekolah. Memang identitasnya telah digantikan dengan sempurna, tetapi jika terjadi keributan, entah penyamarannya terbongkar atau ia dikeluarkan karena satu dan lain hal, misi ini akan gagal.
Dengan kata lain, solusi terbaik adalah mengambil kembali surat itu sendiri dari tangan atlet berambut kuning bernama Lanz.
Setelah memikirkan hal ini, Koris sedikit lebih tenang.
Seberandal apa pun dirinya, pada akhirnya dia hanyalah seorang siswa biasa.
Sementara Koris adalah jenius langka yang belum pernah muncul dalam sejarah Desa Tanduk Perisai.
Dalam penentuan bakat untuk menjadi Penakluk Iblis, kuncinya terletak pada kepekaan terhadap “energi”. Semakin peka seseorang, semakin jauh ia dapat melangkah dalam mempelajari ilmu rahasia.
Pada umumnya, seseorang yang memiliki kepekaan lima puluh persen di atas manusia biasa sudah berpeluang menjadi Penakluk Iblis. Namun, Koris terlahir dengan kepekaan sepuluh kali lipat.
Berkat kepekaannya yang luar biasa terhadap energi, pada usia tujuh tahun ia sudah menguasai jurus rahasia Penakluk Iblis. Kini, ia bahkan telah bergabung dengan departemen misterius yang tersohor.
Menghadapi si rambut kuning rendahan semacam itu, ia bisa dikatakan sudah menggenggam kemenangan di tangan.
Koris mengangkat kepala, sorot matanya teguh.
“Penakluk Iblis tidak boleh gagal.”