Bab Satu: Setelah Mabuk Berat
"Ah..."
Setelah terbangun dari mabuk semalam, Ye Xiaonian mendapati seorang asing terbaring di sisinya. Seketika tubuhnya menegang, kepanikan menyergap. Ia bergegas melesat ke kamar mandi.
Duduk di atas kloset dengan tutup yang telah ia turunkan, kedua tangan memeluk kepala, Ye Xiaonian mengurai kembali kejadian semalam. Tiba-tiba ia mendongak. Air mata menetes dari sudut matanya, entah sudah berapa lama ia terdiam demikian, sampai akhirnya ia bangkit dan membasuh wajah.
Tatapannya menelusuri bayangan diri di cermin; sukar dibedakan, mana goresan air mata, mana bekas air wudhu. Namun, nasi telah menjadi bubur, segalanya telah terjadi, hidup harus tetap dijalani. Ia menepuk-nepuk pipinya, seolah menanamkan keberanian dalam hatinya. Melangkah keluar dari kamar mandi, ia mendapati lelaki itu masih di sana.
Tentu saja! Belum dibayar, mana mungkin orang itu akan pergi? Setiap profesi memiliki aturannya sendiri. Hal itu masih dapat dimaklumi Ye Xiaonian; toh, ia sendiri yang memanggil pria itu. Maka, meski penyesalan dan kepedihan bersarang di hati, ia tetap harus membayar upahnya.
Ye Xiaonian mengeluarkan seluruh uang tunai dari dalam tas dan melemparkannya di depan lelaki itu. "Nih, ini upahmu."
Ia membatin jumlah itu seharusnya cukup, lalu mengambil tas, bersiap hendak pergi.
Lelaki itu hanya menatap uang yang dilempar Ye Xiaonian, kemudian mengangkat kepala menatapnya.
Ye Xiaonian, melihat tidak ada reaksi, kembali melirik uang yang tercecer di atas ranjang. "Apa menurutmu ini terlalu sedikit?"
Lelaki itu tetap diam. Mendadak Ye Xiaonian tersadar.
"Oh, benar... juga baju ini. Aku sudah kehabisan uang tunai, atau mau kutransfer lewat WeChat saja?" katanya ragu.
Pakaian yang ia kenakan semalam telah ternoda muntahan akibat terlalu banyak minum; tadi saat di kamar mandi, ia melihatnya teronggok di tong sampah. Pakaian yang ia kenakan kini adalah kiriman atas permintaan lelaki itu.
Barulah lelaki itu memahami maksud Ye Xiaonian—ia benar-benar menyangka dirinya...
Tanpa mengubah ekspresi, lelaki itu berkata, "Kau yakin saldo WeChat-mu cukup?" Sembari berkata, ia telah mendekat ke sisi Ye Xiaonian.
Ye Xiaonian merasakan tekanan luar biasa, ia mundur setapak.
"Pakaian ini... seberapa berharganya?" tanyanya dengan suara bergetar, menunduk menatap baju yang dikenakan. Tadi ia tak sempat memperhatikan, dan kini, setelah diamati, rasa takut benar-benar menyergap. Sudah bertahun-tahun ia tak menyentuh pakaian bermerek, namun untuk yang satu ini, ia masih mengenalinya—uang di WeChat-nya jelas tak akan cukup. Bahkan bila seluruh isi rekening banknya dikeluarkan, tetap tak akan sanggup menebusnya.
Uang sakunya sebulan hanya secuil, sering pula dipotong.
"Bagaimana kalau baru saja kupakai, kukembalikan saja padamu?" ujarnya hati-hati, menawar.
Ia berpikir, paling tidak, setelah lelaki itu pergi, ia bisa mengambil pakaiannya sendiri, dicuci, lalu dikeringkan dengan hairdryer sebelum pergi.
"Jadi, Nona Ye sampai kekurangan untuk membayar pakaian ini juga?"
Lelaki itu ternyata tahu siapa dirinya. Jangan-jangan ia dikirim oleh seseorang? Ye Xiaonian seketika mencari-cari, barangkali ada kamera tersembunyi di kamar itu.
Namun lantas ia sadar—jika benar ada yang mengutusnya, mana mungkin di kamar ini hanya ada mereka berdua? Lelaki itu mengetahui nama keluarganya tentu karena kemarin saat check-in, ia memakai kartu identitas sendiri.
"Ya," sahutnya pelan. Ia benar-benar sedang kekurangan uang.
Di mata orang lain, ia adalah putri sulung keluarga Ye, telah pula menemukan pria yang mencintainya; seharusnya ia bisa membelanjakan uang sesuka hati, berbelanja hingga kaki pegal. Namun kenyataannya?
Putri sulung keluarga Ye ini sering kali pusing memikirkan uang, dan sehari sebelum akad nikah, ia justru dikhianati pria yang selalu mengaku mencintainya. Andai kisah ini diceritakan pada orang lain, barangkali tak akan ada yang percaya.
Namun begitulah kenyataannya.
Lelaki itu tiba-tiba melangkah semakin dekat.
"Kau mau apa?" Ye Xiaonian memeluk dada, tatapannya penuh ketakutan.