Jilid Pertama, Bab 2: Kali Ini Benar-benar Celaka!

Sang Tabib Suci Kota yang Tak Tertandingi! Aku benar-benar gemar menyantap daging sapi. 3039kata 2026-03-06 14:49:12

Melihat Zhang Guihua akhirnya melunak, separuh beban di hati Ye Fan pun seolah telah terangkat; senyumnya kian merekah di wajahnya.

“Tentu saja! Kak Guihua, silakan duduk, duduk di sini.”
Dengan ramah ia mempersilakan Zhang Guihua, menunjuk satu-satunya kursi kayu di depan meja periksa. Permukaan kursi itu telah licin karena sering dipakai, di sudut-sudutnya pun tampak bekas-bekas benturan.

Zhang Guihua menurut, duduk dengan anggun. Ujung rok menebar mengikuti gerak tubuhnya, motif bunga kecil berwarna biru pucat tampak begitu segar di ruangan yang tua itu.

Ia duduk tegak, kedua tangannya diletakkan rapi di atas lutut, sepasang mata bening meneliti Ye Fan, seolah hendak mencari ketulusan dari raut wajahnya.

Ye Fan berdeham, berupaya menampilkan kesan profesional, lalu berjalan mendekat dan membungkuk di samping Zhang Guihua.

“Kak Guihua, mohon ulurkan tangan. Biar saya periksa nadi Anda.”

Ia meniru gaya sang paman saat menerima pasien—wajahnya serius, sorot matanya penuh perhatian.

Zhang Guihua pun mengulurkan tangan kanan. Pergelangan yang putih dan ramping itu diletakkan di atas buku pengobatan tua yang terbuka di ujung meja.

Dengan hati-hati Ye Fan menempelkan ujung jarinya di titik nadi. Sentuhan hangat dan lembut merambat ke ujung syarafnya, begitu berbeda dari panas tubuhnya sendiri.

Ia menahan napas, berusaha mengingat lagi pelajaran pamannya: “cun, guan, chi”, juga “fu, chen, chi, shu”—namun pikirannya kosong melompong.

Denyut nadi terasa teratur dan stabil di bawah sentuhan jarinya, tapi ia sama sekali tak mampu menafsirkan maknanya, tak bisa membaca sandi kesehatan yang tersembunyi di balik getaran itu.

Justru detak jantungnya sendiri yang makin cepat.

Hidungnya menangkap aroma samar dan harum dari tubuh Zhang Guihua, berpadu dengan bau khas ramuan di klinik, membentuk nuansa yang aneh, menggetarkan hati, membuat pikirannya melayang.

Tanpa sadar, pandangannya mengikuti pergelangan tangan putih itu, perlahan naik ke atas.

Melewati siku, hinggap di dada Zhang Guihua yang perlahan naik-turun.

Gaun biru bermotif bunga kecil itu membingkai lekuk tubuh menawan, penuh dan menantang. Sinar matahari menembus jendela, jatuh tepat di bahu dan lehernya yang halus, memantulkan kilau lembut laksana porselen.

Ia teringat keluhan Zhang Guihua tadi—dada terasa sesak dan nyeri...

Entah setan mana yang menggerakkan, matanya terpaku di sana, seolah hendak menembus kain tipis itu, mencari kebenaran di baliknya.

Waktu seakan melambat.

Di klinik itu, hanya ada suara monoton kipas angin tua yang berdengung, denyut nadi di bawah jemarinya, serta detak jantung Ye Fan yang kian cepat.

Zhang Guihua awalnya masih sabar menunggu, namun segera ia merasa ada yang aneh.

Sinar mata itu berhenti di tempat yang keliru—dan terlalu lama.

Pipi Zhang Guihua berangsur-angsur memerah, rona itu menyebar hingga ke telinga. Tatapannya bercampur malu dan sebal.

Ia menggerakkan pergelangan tangannya, hendak mengingatkan pemuda yang sedang melamun itu.

Namun Ye Fan tetap tak menyadari.

Akhirnya, Zhang Guihua tak mampu menahan diri. Suaranya tetap lembut, namun tersirat teguran halus.

“Xiaofan, kau sedang melihat apa?”

Suara itu seperti siraman air dingin yang langsung membangunkan Ye Fan.

Ia tersentak, buru-buru mengalihkan pandangan dari panorama menggoda itu, bertemu mata Zhang Guihua yang menyorotkan teguran dan malu.

Zhang Guihua langsung bertanya lagi, nada bicara kali ini mengandung keraguan yang jelas.

“Sudah kau temukan penyebab sakitku?”

“Ehem!”

Wajah Ye Fan seketika merah padam, malu bukan kepalang, ingin rasanya menghilang dari hadapan bumi.

Cepat-cepat ia menarik tangannya, berdeham dua kali, berusaha menutupi kegugupan dan rasa bersalahnya.

Dengan tebal muka, ia memaksakan diri tampak tenang.

“Kak Guihua, aku sudah tahu sebab sakitmu.”

Ia bersikap resmi, namun sesungguhnya hanya mengarang tanpa malu-malu.

“Hanya saja, beberapa bahan obat di klinik ini stoknya kurang.”

“Aku harus keluar sebentar untuk membeli bahan baru.”

“Bagaimana kalau begitu, besok kakak datang lagi. Aku jamin, sekali minum langsung sembuh!”

Alis Zhang Guihua mengerut halus, sepasang matanya yang basah menatap penuh sangsi.

Ia memandangi wajah Ye Fan yang berusaha tampak dewasa, lalu melirik ke lemari obat yang kosong melompong.

Anak muda ini... dapat dipercaya atau tidak?

Namun melihat keyakinan dalam sikap Ye Fan, secercah harapan pun tumbuh di hatinya.

Siapa tahu, barangkali saja...?

Ia mengangguk pelan, suaranya tetap lembut.

“Baiklah, Xiaofan, kali ini aku percaya padamu sekali lagi.”

“Besok aku akan ke sini lagi.”

Selesai berkata, Zhang Guihua berdiri, merapikan gaunnya, lalu berbalik menuju pintu.

Pintu kayu klinik itu kembali berderit pelan, dan perlahan tertutup seiring langkah kepergiannya.

Aroma samar yang harum seolah masih tersisa di udara, berputar lembut mengusik benak Ye Fan.

Begitu bayangan Zhang Guihua lenyap dari balik pintu, klinik kembali sunyi seperti semula.

Namun senyum di wajah Ye Fan berubah kaku, sorot matanya berangsur redup dan melamun.

Ingatan akan kejadian barusan terus berputar di benaknya, tak mampu ia kendalikan.

Di balik gaun biru bermotif bunga kecil itu, tersingkap lekuk tubuh yang menawan hati.

Kulit selembut porselen, berkilau menggoda di bawah cahaya mentari.

Tiba-tiba, hawa panas menyeruak dari perut bawah, menjalar cepat ke seluruh tubuhnya.

Darahnya seakan mendidih, membakar sisa-sisa akal sehatnya.

Seluruh tubuhnya terasa panas, terutama di bagian tertentu yang kini bereaksi tanpa bisa ia kendalikan.

Niat membeli obat, niat mengobati Zhang Guihua—semuanya lenyap, terbang entah ke mana.

Saat ini, ia hanya ingin mencari tempat, menuntaskan gelora yang tiba-tiba menyerbu.

Jakunnya bergerak naik-turun, matanya tertuju pada kamar mandi kecil di belakang klinik.

Hampir tersandung, ia bergegas ke sana, mendorong pintu kayu yang sama tuanya.

Pencahayaan di kamar mandi itu redup, udara lembab dan bau apek menusuk hidung.

Dengan tergesa-gesa, ia mulai menanggalkan jaket. Tangannya sampai gemetar karena tergopoh-gopoh.

Jaket itu dicopot paksa, dilempar begitu saja ke pengait tua di dinding.

Tak terpasang dengan baik.

Jaket itu jatuh ke lantai semen yang penuh debu.

“Plak.”

Suara pelan terdengar.

Bersamaan dengan jatuhnya jaket, sebuah benda hijau zamrud menggelinding keluar dari saku.

Itulah liontin giok kuno peninggalan Ye Tianyang.

Liontin itu menghantam lantai semen keras, mengeluarkan suara retakan yang nyaring.

“Krek!”

Tak terlalu keras, namun di telinga Ye Fan bak guruh menyambar.

Seluruh panas di tubuhnya seketika sirna, digantikan rasa dingin yang menusuk. Tubuhnya membeku.

Dengan tatapan kosong, ia menunduk.

Benda yang tadi ia pandang remeh itu kini telah pecah berkeping-keping, tercerai-berai di antara debu.

Habis sudah!

Paman sampai berulang kali berwasiat, katanya benda pusaka keluarga! Walau tampak tak berharga... tapi bagaimana kalau ternyata penting?

Jantung Ye Fan mencelos, sesal dan pilu membanjiri dadanya.

“Sial! Kali ini tamat riwayatku!”

Ia mengumpat pelan, tak peduli lagi pada tubuh yang masih panas. Segera ia berjongkok, panik memunguti pecahan giok itu.

Jari-jarinya menyentuh serpihan dingin itu, berusaha mengumpulkannya.

Mungkin masih bisa dilem...?

Namun tiba-tiba, telunjuk kanannya terasa perih.

Dilihatnya, salah satu sisi tajam pecahan itu menggores ujung jarinya.

Darah segar langsung merembes, setetes, dua tetes, menitik di atas lantai semen yang kusam, mekar seperti bunga kecil.

Lukanya tak dalam, tapi darahnya mengucur deras.

Anehnya, Ye Fan sama sekali tak merasa sakit, alisnya pun tak berkerut.

Seluruh perhatiannya tertuju pada pecahan giok yang remuk itu.

Dengan hati-hati, ia kumpulkan semua serpihan, digenggam di telapak tangan.

Saat ia mengambil serpihan terakhir yang kecil sekali, tiba-tiba—

Sesuatu yang aneh terjadi!

Pecahan-pecahan giok itu tiba-tiba saja memancarkan cahaya biru muda yang amat terang!

Bukan cahaya menyilaukan, melainkan sinar hangat dan misterius.

Dalam sekejap, cahaya itu menerangi kamar mandi yang gelap, bahkan menembus telapak tangannya.

Lalu, gumpalan cahaya biru itu seperti hidup, mengalir deras dari serpihan, menembus ke arah dahi Ye Fan secepat kilat!

Ye Fan bahkan tak sempat bereaksi.

Yang ia rasakan hanya kepalanya seolah dihantam palu berat.

Arus informasi yang luar biasa besar dan kacau balau menghantam benaknya.

Dunia gelap gulita di depan matanya.

Kesadaran terakhir yang ia rasakan adalah tubuhnya ambruk ke belakang, kehilangan penopang.

“Bugh!”

Tubuhnya jatuh keras di lantai semen yang dingin dan lembab, dan ia pun kehilangan seluruh kesadaran.