Dengan sengaja
Di keluarga Xu, Xu Zhi tidak takut pada siapa pun, kecuali pada Xu Yi. Terutama saat Xu Yi memasang wajah serius seolah siap memarahi siapa saja, Xu Zhi selalu merasa ketakutan. Maka meskipun sebenarnya ia sangat tidak rela, kali ini ia tetap menoleh ke Xu Li dan dengan enggan memanggil, “Kakak.”
Sudut bibir Xu Li terangkat membentuk senyum tipis yang sinis, lalu ia memutar bola matanya, jelas sekali memperlihatkan ketidakacuhannya atas panggilan “kakak” itu.
“Apa maksudmu? Kenapa sikapmu begitu?” Xu Zhi yang melihat sikap arogan dan meremehkan itu langsung merasa marah, suaranya meninggi menuntut penjelasan.
“Menurutmu, aku seharusnya bersikap bagaimana?” Xu Li tersenyum ringan, balik bertanya.
“Zhi Zhi.” Xu Yi mengerutkan kening, menegur dengan suara tak senang, “Kamu perhatikan dulu sikapmu. Jangan lupa hari ini hari apa. Apa kamu mau membuat para tamu menertawakan keluarga Xu?”
Xu Zhi langsung terdiam, semangatnya padam seketika.
Hari ini banyak senior dan selebritas papan atas dari dunia hiburan akan datang, juga banyak keluarga konglomerat dari dunia bisnis, apalagi sejumlah besar media dan influencer penting juga hadir.
Kalau sampai ada pertengkaran atau ketidakharmonisan antara dia dan Xu Li yang tertangkap kamera, pengaruh buruknya terhadap keluarga saja sudah besar, belum lagi pada dirinya sendiri—jumlah pengikutnya yang mendekati sembilan hingga sepuluh juta itu pasti akan membuatnya jadi bulan-bulanan.
Serangan netizen itu berat untuk ditanggung.
Tapi ia tak mau kalah begitu saja, maka ia hanya melotot ke arah Xu Li dengan penuh amarah, lalu berbalik meninggalkannya.
Xu Li pun tak berminat memperpanjang urusan dengan sepupunya itu. Ia benar-benar tak habis pikir menghadapi Xu Zhi.
Mereka tumbuh besar bersama, hanya terpaut empat tahun, tapi sejak kecil karena kepribadiannya, Xu Li memang sulit bergaul dengan teman sebaya. Orang lain menganggapnya terlalu dingin dan angkuh, terlalu punya gengsi, dan sulit didekati.
Justru itulah yang paling tidak disukai Xu Zhi darinya.
Dulu keluarga Xu Zhi menempati gedung barat kediaman keluarga Xu, baru setelah orangtua Xu Li meninggal, mereka bertiga pindah ke gedung utama.
Xu Zhi memang dimanja sejak kecil, bahkan orangtua Xu Li pun sangat menyayanginya. Tak heran ia tumbuh menjadi gadis manja dan suka membanding-bandingkan, penuh rasa cemburu dan keinginan memiliki, segalanya ingin ia bandingkan dengan Xu Li.
Salah satunya adalah kamar yang dulu ditempati Xu Li, kamar yang tak pernah bisa ia miliki.
Gedung barat jelas tak sebanding dengan gedung utama, jadi kamar Xu Zhi memang jauh lebih kecil daripada kamar Xu Li, apalagi setelah orangtua Xu Li sengaja menyatukan seluruh kamar di lantai tiga untuk putri mereka.
Gara-gara ini saja, Xu Zhi sering merasa iri.
Karena itu, setelah keluarganya pindah ke gedung utama, Xu Zhi beberapa kali sengaja memamerkan diri di hadapan Xu Li, tapi Xu Li sama sekali tak pernah menggubrisnya. Drama sepihak itu akhirnya membuat Xu Zhi merasa tidak puas dan menaruh dendam pada Xu Li.
“A Li, jangan dimasukkan ke hati. Zhi Zhi memang masih kekanak-kanakan,” ujar Xu Yi setelah diam sejenak, suaranya lembut.
“Aku tak ambil pusing.” Xu Li tersenyum tipis. “Waktunya sudah hampir tiba, para tamu pasti segera datang. Kakak, lebih baik temani Paman dan Bibi menyambut para tamu. Aku kan statusnya agak khusus, nanti saja aku keluar.”
“Baik.”
Xu Yi mengangguk, sempat bertukar pandang dengan Shang Yan, lalu sedikit membungkukkan kepala sebelum pergi.
Xu Li dan Shang Yan menunggu sebentar di ruangan pribadi itu. Setengah jam berlalu, Xu Li merasa waktunya sudah pas. Ia pun bangkit, merapikan gaun, menoleh pada pria tampan di sisinya, “Aku keluar dulu.”
“Hm.”
“Ayah dan Ibu bilang mereka baru tiba setengah jam lagi. Kau keluar bersama mereka saja, ya!” Xu Li tersenyum, wajahnya polos dan ceria.
Suara manis dan lembut itu bagaikan anggur hangat yang meresap ke dalam hati Shang Yan yang selama ini membeku.
Shang Yan hanya mengatupkan bibir. Di mata orang luar, ia tak punya hubungan apa-apa dengan keluarga Xu. Kehadirannya di pesta ulang tahun ini pun hanya demi memberi penghormatan pada Xu Zhengsong. Toh beberapa waktu lalu, perusahaan keluarga Shang dan perusahaan kuliner baru keluarga Xu memang sempat ada kerja sama.
Kehadiran dirinya saja sudah cukup membuat banyak orang bergunjing, apalagi kalau kedua orangtuanya yang baru saja pulang dari luar negeri juga ikut muncul.
Setelah berpikir sejenak, hati Shang Yan terasa agak tidak nyaman, ia hanya menggumam pelan.
Ketika Xu Li keluar, sebagian besar tamu sudah hadir. Banyak wajah yang sudah dikenalnya. Ia menenteng segelas anggur merah, membantu pasangan Xu Zhengsong melayani para tamu.
Saat pasangan Shang Zhihuai datang, kehadiran mereka di aula pesta tak menimbulkan banyak kehebohan. Kebanyakan orang memang tak mengenali mereka, sebab sudah bertahun-tahun mereka tinggal di luar negeri dan jarang berhubungan dengan keluarga Shang.
Setelah memperkenalkan diri dan berbasa-basi dengan pasangan Xu Zhengsong selama hampir sepuluh menit, mereka pun dipersilakan Xu Li duduk di aula pesta.
Ketika Xu Li kembali ke meja utama keluarganya, kursi kosong di sebelahnya tiba-tiba diambil alih seseorang.
“Aku mau duduk di sini, kau duduk di sana saja,” kata Xu Zhi, mengangkat dagunya dengan manja dan arogan.
Xu Li hanya menatapnya tenang, seolah sedang menonton badut di atas panggung, tanpa reaksi, tapi sikapnya sangat lapang dada. Ia hanya tersenyum tipis dan berkata lembut, “Zhi Zhi, musim dingin ini udaranya kering, sepertinya belakangan kau kurang merawat kulit ya? Bedakmu menggumpal, lho.”
Setelah berkata begitu, ia pun berjalan anggun ke kursi seberang dan duduk, lalu mengobrol santai dengan Xu Yi di sebelahnya.
Xu Zhi langsung pucat mendengar ucapan Xu Li. Ia memang sangat peduli dengan penampilan dan segala sesuatu yang membuatnya tampil sempurna pun terinspirasi dari Xu Li.
Mengabaikan cubitan dari Ge Qin di sampingnya, ia buru-buru mengeluarkan cermin kecil dari tas dan memperhatikan wajahnya dengan saksama. Kulitnya halus, riasan dasar menempel sempurna, sama sekali tidak seperti yang dikatakan Xu Li.
Wajahnya langsung berubah, sadar dirinya baru saja dipermainkan.
Dengan kesal, ia membanting cermin ke dalam tas, melotot ke arah Xu Li yang sama sekali tak peduli, lalu hanya bisa mencengkram ujung bajunya kuat-kuat menahan marah.
Setelah jamuan makan siang dimulai, Xu Zhengsong secara khusus mengundang sebuah grup teater terkenal, sesuai dengan kesukaan sang nenek.
Begitu suara gong pertunjukan berdentang, seluruh ruangan langsung hening. Para tamu menonton pertunjukan dengan penuh perhatian.
Di berbagai pesta kalangan atas dan pesta ulang tahun, pertunjukan seperti ini sangat jarang ada, sehingga acara pun terasa sangat menarik.
Tiga babak pertunjukan selesai, tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula. Banyak yang terkejut sekaligus gembira dengan kejutan dari keluarga Xu, sang nenek pun sangat puas.
Tak lama kemudian, tiba lah saatnya memotong kue ulang tahun. Begitu kue bertingkat delapan didorong masuk, ruang pesta langsung riuh oleh suara takjub. Banyak tamu mengerubunginya. Ketika lampu dimatikan, lagu ulang tahun pun berkumandang, semua orang ikut menyanyi.
Saat pemotongan kue, suasana jadi agak kacau. Xu Li berdiri di pinggir kerumunan. Di tengah hiruk pikuk itu, Xu Zhi menyiramkan anggur merah ke mantel Xu Li.
Cairan merah keunguan itu mekar di mantel krem milik Xu Li, lalu mengalir hingga mengenai sepatu bot putihnya.
“Aduh, maaf, Kak. Aku tadi terlalu bersemangat, sampai lupa masih pegang segelas anggur. Kau tidak marah kan?” Xu Zhi menutup mulut, pura-pura terkejut, tapi sorot matanya penuh kegirangan dan rasa puas, juga sedikit kejam.