Bab 10 Mengejutkan! Ternyata pujaan hatinya tinggal serumah dengannya!
Halaman (1/3)
Ning Ge menarik kembali pandangannya dengan heran.
Ia menggelengkan kepala.
Apakah itu kakaknya?
Tidak, tidak!
Ia segera menyangkal pikiran konyolnya sendiri. Kakaknya sudah meninggal empat belas tahun lalu, dan setiap tahun ia selalu pergi berziarah ke makamnya.
Mungkin karena terlalu merindukan sang kakak, ia jadi salah melihat.
“Ning Ge, kau baik-baik saja?” tanya salah seorang saudaranya.
Melihat ekspresi sedih Ning Ge, ia menduga pemuda itu pasti terluka parah oleh Putri Kecil Mu.
Ia menepuk punggung Ning Ge. “Di dunia ini masih banyak bunga yang indah. Ning Ge, kami akan membawamu bersenang-senang!”
Ia merangkul Ning Ge dan mengajaknya pergi.
Setelah mereka pergi, para pengunjung yang tadi menonton keributan di kafe pun bubar.
…
Rolls-Royce melaju menembus gemerlap malam Kota Jinghai. Jiang Ruan menopang dagu, membiarkan angin dari luar jendela menerpa wajahnya.
Saat melewati sebuah toko kue, nama toko itu seketika menarik kembali kenangan dalam benaknya.
Ia berseru gembira, “Itu Toko Kue Mimpi Kunang-kunang, kan? Toko roti kecil di sudut jalan dulu ternyata sudah berkembang sebesar ini?”
Jiang Yunzhi melirik toko yang kebetulan baru saja tutup. Ia tahu sekarang sudah lewat pukul sembilan. “Benar. Delapan tahun lalu, toko itu dibeli oleh keturunan cabang keluarga bangsawan dari luar negeri.”
Dulu, ketika perusahaannya baru mulai berkembang, ia terlalu sibuk hingga tak terpikir untuk membeli toko kue itu. Saat akhirnya ia punya niat, semuanya sudah terlambat.
Selama delapan tahun, Toko Kue Mimpi Kunang-kunang berubah dari toko roti kecil di sudut jalan menjadi jaringan toko berskala global. Harganya pun naik puluhan kali lipat.
Jiang Ruan melirik ponselnya dan berkata kecewa, “Kenapa tutup sepagi ini? Aku masih ingin makan kue.”
“Itu peraturan pemiliknya. Toko harus tutup sebelum pukul sepuluh.” Jiang Yunzhi menatap lurus ke jalan di depan.
“Peraturan yang aneh,” gumam Jiang Ruan heran.
Malam hari juga banyak orang yang ingin makan kue. Apa pemiliknya tidak ingin mendapat uang?
Untuk apa menutup toko sepagi itu?
“Kalau kau ingin makan, lain kali aku akan membawamu kemari,” kata Jiang Yunzhi.
“Baiklah!”
Jiang Ruan memang sangat menyukai kue dari toko ini sejak dulu.
Hanya saja, kehidupan mereka kala itu terlalu sulit. Tak ada uang lebih, sehingga setiap kali mereka hanya bisa menyisihkan sedikit untuk membeli sepotong kue kecil yang paling murah, lalu membaginya berempat bersama saudara-saudaranya.
Saat itu tempat tersebut masih berupa toko roti dengan harga yang terjangkau. Pemilik lamanya merasa kasihan kepada mereka. Setiap kali mereka datang, ia selalu berkata sedang mengadakan promo beli satu gratis satu.
Sebenarnya mereka semua tahu, pemiliknya hanya berhati baik.
Orang baik akan mendapat balasan baik. Melihat Toko Mimpi Kunang-kunang berkembang sebesar sekarang, Jiang Ruan ikut merasa bahagia untuk pemiliknya yang dulu.
Ia berharap pemilik baru tetap memperlakukan para pegawai lama dengan baik.
…
Sesampainya di rumah, Mu Zhi’an berendam dengan nyaman.
Dengan sengaja ia berjalan santai, berusaha tidak melihat ponselnya yang sudah dibisukan.
Berdasarkan pemahamannya terhadap Jiang Yunzhi, kalau saat ini ia tidak membalas pesan dan tidak mengangkat telepon, pria itu pasti sudah panik, bukan?
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Setelah mengenakan daster tidur yang cantik, ia baru duduk perlahan di dekat jendela untuk memeriksa ponselnya.
Layar ponselnya tetap sunyi seperti kuburan.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Pasti ada yang salah dengan cara membukanya.
Ia mematikan layar, lalu menyalakannya kembali. Setelah itu, ia membanting ponsel ke atas meja.
“Dia benar-benar tidak mencariku!”
Baiklah, Jiang Yunzhi. Pergilah bersama pujaan hatimu itu!
Mu Zhi’an membuka ruang obrolannya dengan Ning Ge dan mengirim pesan:
[Ning Ge, aku ingin makan kue dari Toko Mimpi Kunang-kunang, tapi tidak mau pergi sendirian. Besok pagi temani aku, ya?]
Ning Ge, yang sedang bersenang-senang, merasakan ponselnya bergetar. Dengan santai ia mengambilnya dan melirik layar.
Begitu melihat pesan dari Mu Zhi’an, matanya langsung membelalak.
Saat menyadari Mu Zhi’an mengajaknya pergi, ia seolah melompat setinggi tiga meter.
“An’an mengajakku berkencan!”
Di antara dirinya dan Jiang Yunzhi, An’an memilih dirinya!
“Ha ha ha ha!”
Suara pria yang kegirangan hingga menjadi gila itu bahkan sempat mengalahkan musik bising di bar.
Ia segera menyetujui ajakan An’an. Setelah kembali ke sofa, ia mengambil mantelnya lalu bergegas keluar.
Salah seorang saudaranya menahannya. “Kau pergi sepagi ini? Acara tengah malam bahkan belum dimulai.”
“Besok aku punya kencan. Tidak sepertimu yang tak ada seorang pun mengajak. Aku harus pulang untuk tidur cantik. Dadah!”
Senyum di sudut bibir Ning Ge tak bisa disembunyikan. Ia pergi sambil melompat-lompat kegirangan.
Teman-temannya menggeleng serempak.
Mereka memang menyukai Mu Zhi’an, tetapi tidak sampai harus memilikinya. Lagi pula, terlalu banyak orang yang menyukai Mu Zhi’an, dan mereka sama sekali tidak mungkin mendapat giliran.
Selain itu, mereka juga bisa melihat dengan jelas bahwa Mu Zhi’an selalu menebar pesona ke mana-mana.
Sayangnya, Ning Ge terlalu mencintainya. Orang yang sedang terlibat memang sulit melihat keadaan dengan jernih.
…
Keesokan harinya, Ning Ge bangun sangat pagi. Setelah menjemput Mu Zhi’an, ia langsung membawanya ke Toko Kue Mimpi Kunang-kunang.
Toko itu buka pukul lima pagi, terlalu pagi hingga terasa keterlaluan.
Mu Zhi’an sejak dulu tidak pernah benar-benar memahami mengapa pemiliknya menetapkan jam operasional seperti jadwal hidup orang lanjut usia.
Namun, kualitas kue di toko ini sangat terjaga, sehingga kekurangan pada jam operasionalnya pun tertutupi.
Begitu mereka membuka pintu, para pegawai langsung menyambut dengan hangat.
“Nona Mu, Anda datang! Silakan masuk.”
Mu Zhi’an hanya tersenyum tipis.
Ia sering datang kemari, sehingga para pegawai sangat mengenalnya dan selalu menyambutnya dengan penuh keramahan.
“Belakangan ini, koki kue yang kami undang dari luar negeri baru saja mengembangkan menu baru, yaitu kue lava. Nona Mu mau mencobanya?”
“Boleh.”
Mu Zhi’an tersenyum manis.
Hati Ning Ge langsung meleleh. Ia menghamburkan uang tanpa ragu. “Sajikan untuknya!”
“Baik, Tuan Muda Kedua Ning!”
Pelayan itu mencatat pesanan, lalu pergi.
Ketika kembali ke meja depan, ia kebetulan melihat seorang pelanggan berpakaian sederhana masuk melalui pintu. Dengan asal ia berkata, “Selamat datang,” lalu langsung berbalik pergi.
Sama sekali tidak tampak niat untuk melayani.
Jiang Ruan tidak memedulikan hal itu.
Ia sudah mengidamkan kue itu sepanjang malam. Pagi-pagi sekali adiknya harus pergi ke bandara untuk mengantar rekan kerja sama, sehingga tidak sempat membawanya kemari. Karena tak tahan lagi, ia pun datang seorang diri.
Ia mengedarkan pandangan, berusaha mencari tempat kosong di dalam toko. Namun, ia tak menyangka akan melihat Mu Zhi’an dan Ning Ge.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Keduanya menempelkan kepala sambil berbincang akrab tentang sesuatu, dengan senyum menghiasi wajah masing-masing.
Jiang Ruan seketika teringat pada kejadian di kafe kemarin.
Sepanjang malam, suasana hati adiknya sangat buruk.
Seolah-olah keyakinan hidupnya baru saja dihantam.
Jiang Ruan tidak keberatan memberikan satu pukulan telak lagi kepada adiknya. Luka yang cepat selesai lebih baik daripada penderitaan yang berkepanjangan.
Karena itu, Jiang Ruan berbalik dan keluar.
Pelayan tadi melihatnya dan mengeluh penuh kesal, “Kalau tidak mampu membeli, jangan datang.”
Pelanggan seperti itu terlalu banyak. Tidak membeli apa pun, tetapi tetap menduduki tempat di toko selama berjam-jam, lalu mengomel bahwa semua makanan mereka terlalu mahal.
Tidak seperti Nona Mu yang selalu memesan dengan cepat dan tanpa ragu.
Jiang Ruan pergi ke toko minuman susu di sebelah untuk mengirim pesan kepada adiknya:
[Jiang Yunzhi, aku ingin makan kue sekarang! Tolong belikan untukku, ya!]
Jiang Yunzhi baru saja selesai mengantar rekan kerja sama dan sedang dalam perjalanan kembali ke kantor untuk rapat. Setelah menghitung waktunya, ia menyadari masih memiliki sepuluh menit luang.
Ia memerintahkan Asisten Lin, “Pergi ke Toko Kue Mimpi Kunang-kunang di dekat perusahaan.”
“Baik.”
Asisten Lin membelokkan mobil di persimpangan.
Toko kue itu berada di pusat perbelanjaan yang bersebelahan dengan kantor. Jaraknya tidak jauh, hanya perlu sedikit memutar.
Sepuluh menit kemudian, Rolls-Royce tiba di depan toko kue.
Jiang Yunzhi hendak menyuruh Asisten Lin masuk untuk membeli kue, tetapi setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk pergi sendiri. Baru saja tangannya hendak membuka pintu mobil, seluruh tubuhnya mendadak kaku.
Di meja yang paling mencolok di dalam toko, seorang pria tampan dan seorang wanita cantik sedang berswafoto dengan mesra.
Pemandangan itu menusuk matanya.
Sakit. Terlalu sakit.
Ning Ge menyendok sepotong kue dan menyuapkannya kepada Mu Zhi’an. Wanita itu tersenyum lalu memakannya.
Cekrek!
Suara rana kamera mengabadikan sosok mereka yang tertawa bersama.
Sungguh pemandangan yang menyilaukan mata.
Jantung Jiang Yunzhi terasa seperti ditusuk pisau berulang kali, mengucurkan darah tanpa henti.
Ia menarik kembali tangannya. “Cari kurir untuk membelinya. Minta dia mengantarkannya ke kompleks. Jiang Ruan yang akan menerima.”
Asisten Lin baru saja mendengar kabar yang sangat mengejutkan.
Pujaan hati ternyata sudah tinggal di rumah Tuan Jiang!
Astaga!
Dengan penuh semangat, ia gemetar saat memesan melalui aplikasi. Tak lama kemudian, seorang kurir datang.
Asisten Lin masih merasa tidak tenang. Ia turun dari mobil untuk memberi penjelasan langsung kepada kurir tersebut.
Pada saat itulah Ning Ge menoleh ke arah mereka…
——————
Catatan penulis: Untuk para pembaca tersayang yang setia mengikuti cerita ini, kukirimkan tanda cinta. Jangan menyimpan cerita ini terlalu lama tanpa membacanya, ya. Dadah!