Bab 13 Kakak Menyukai Ning Ge
Halaman (1/3)
Grup itu seketika meledak!
[Si Kumbang Tahi yang Suka Bergosip: Apa-apaan ini??? Sejak kapan Tuan Jiang punya pujaan hati?]
[Kepala Meledak Ditumis dengan Belalang: Aaaah, aku melihatnya!!! Asisten Lin membawanya keluar dari lift, lalu menuju ruang istirahat!!!]
[Gadis Kulit Semangka yang Hidup Demi Bergosip: Sepertinya Tuan Jiang masih lebih mencintai Nona Mu. Dia bahkan menempatkan Nona Mu di kantor.]
[Pekerja Malang yang Kalau Lapar Melahap Sepanci Tahi: Ini yang namanya cinta? Jelas-jelas mata keranjang!]
[Informan Nomor Satu Percintaan Kantoran: Ruang istirahat apanya? Dia langsung membawanya ke ruang istirahat pribadi Tuan Jiang! Dia benar-benar tergila-gila!]
Saat pekerjaan sedang sibuk-sibuknya, Jiang Yunzhi sering tidak pulang. Karena itu, ia membuat sebuah ruang istirahat pribadi di kantornya, dengan dekorasi yang sama seperti kamar tidurnya di rumah agar lebih nyaman beristirahat.
Saat ini, grup gosip benar-benar sudah gempar.
Ketika Jiang Yunzhi keluar dari ruang rapat, ia berpapasan dengan Asisten Lin yang tampak panik.
“Ada apa denganmu?”
Asisten Lin mendekat ke telinga Tuan Jiang. “Nona Jiang ada di ruang istirahat Anda, sedangkan Nona Mu berada di kantor.”
Jiang Yunzhi tiba-tiba teringat ponselnya yang bergetar saat rapat. Ia mengeluarkannya dan melihat pesan dari kakaknya. Kakaknya memberi tahu bahwa ia membawakan makan siang.
Maka, ia pun melangkah menuju ruang istirahat.
“Lalu bagaimana dengan Nona Mu, Tuan Jiang?” Asisten Lin berusaha menahan kegembiraannya.
Memilih pihak sang pujaan hati memang tak pernah salah!
Jiang Yunzhi menjawab tenang, “Biarkan dia menunggu di kantor.”
Setelah berkata demikian, ia langsung menuju ruang istirahat.
Asisten Lin dengan gembira berjalan ke kantor.
Mu Zhian merasa sangat gelisah dan hampir meledak marah.
Bagaimana mungkin dia berani?!
Bagaimana mungkin Jiang Yunzhi tega membiarkannya menunggu?!
Dengan geram, ia berjalan mondar-mandir. Tanpa sengaja, pandangannya jatuh pada bingkai foto di atas meja kerja. Ternyata itu foto Jiang Yunzhi bersama Jiang Ruan.
“Ah! Jiang Yunzhi, keterlaluan sekali kau!”
Ia membanting bingkai foto itu.
Tepat saat itu, Asisten Lin mendorong pintu masuk. Ketika berhadapan dengan tatapan penuh amarah Nona Mu, kata-kata yang hendak diucapkannya mendadak tercekat di tenggorokan.
“Di mana dia?” tanya Mu Zhian dengan tajam.
“Eh...” Asisten Lin menjilat bibir, lalu mengalihkan pandangan. “Dia masih rapat. Sebentar lagi selesai.”
Mengapa bosnya yang bermain di antara dua perempuan, tetapi justru dia yang panik?
Astaga.
Mu Zhian menginjak bingkai foto yang telah pecah. “Bawa aku menemuinya!”
Ia sudah tidak sanggup menunggu sedetik pun lagi.
Ia menerjang ke arah Asisten Lin.
Seluruh tubuh Asisten Lin menegang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tepat saat itu, hembusan angin melintas di belakang kepalanya, membuat tengkuknya terasa dingin.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Kenapa kau berdiri terpaku di ambang pintu?”
“Ah!”
Pupil mata Asisten Lin membesar. Ia menoleh mencari sumber suara. “Tuan Jiang... Jiang...” Pandangannya jatuh pada Jiang Ruan.
Habislah dia.
Setelah Asisten Lin menyingkir ke samping, Mu Zhian melihat dua orang di luar pintu. Jiang Ruan masih menenteng kotak makan.
Seluruh tubuh Mu Zhian seakan membeku.
Dengan mata berkaca-kaca penuh kesedihan, ia menatap Jiang Yunzhi. “Kak Yunzhi, bagaimana kau bisa memperlakukanku seperti ini?”
Ia menerobos Jiang Yunzhi dan Jiang Ruan, lalu berlari pergi sambil menutupi air matanya.
Jiang Yunzhi mengernyit.
Ia tahu kakaknya membawakan makan siang. Ia hanya ingin mengajak kakaknya datang agar mereka bertiga bisa makan siang bersama.
Jiang Ruan dapat melihat bahwa Mu Zhian selalu menganggapnya sebagai saingan cinta.
Sudah dibiarkan menunggu begitu lama di kantor, lalu begitu keluar malah melihat Jiang Yunzhi datang bersama saingan cintanya. Siapa pun pasti tidak akan tahan.
Ia menyerahkan kotak makan itu kepada adiknya. “Pergilah mengejarnya.”
Jiang Yunzhi menundukkan pandangan dengan rasa bersalah, menatap kakaknya. Gejolak pertentangan memenuhi hatinya.
Jiang Ruan menepuk lengan adiknya. “Cepat pergi. Bawa makanan ini dan makanlah bersamanya.”
“Baik.”
Jiang Yunzhi mengatupkan bibir. Ia menyuruh Asisten Lin mengantar kakaknya pulang, lalu pergi dengan langkah panjangnya.
Asisten Lin sampai meneteskan air mata haru.
Sang pujaan hati benar-benar berjiwa besar.
Jiang Ruan tersenyum kecil melihat punggung adiknya yang menjauh.
Mu Zhian pasti tidak akan senang setelah melihat kotak makan yang ia kirimkan.
Adiknya itu memang terlalu polos dalam urusan cinta. Ia tidak memahami liku-liku perasaan seorang perempuan, terlebih lagi tidak mungkin menyangka bahwa Mu Zhian menganggap kakaknya sebagai saingan cinta.
Ketika berhadapan dengan tatapan kagum Asisten Lin, Jiang Ruan tidak mengerti apa-apa dan berkata, “Aku masih punya urusan lain. Kau tidak perlu mengurusku.”
Asisten Lin membungkuk tiga puluh derajat. “Baik, Nona Jiang. Hubungi saya kapan saja jika membutuhkan bantuan.”
“Baik.”
Setelah berkata demikian, Jiang Ruan pun pergi.
Hari ini, masih ada urusan penting yang harus diselesaikannya.
...
“An’an, tunggu aku.”
Dengan satu tangan menenteng kotak makan dan tangan lainnya menggenggam Mu Zhian, Jiang Yunzhi berkata, “Kita makan siang bersama, lalu bicara baik-baik, ya?”
Melihat Jiang Yunzhi mengejarnya sambil membawa kotak makan dari sang pujaan hati, Mu Zhian menjadi semakin marah.
Ia menepis tangan Jiang Yunzhi. “Kau keterlaluan!”
Jiang Yunzhi mengira Mu Zhian marah karena ia telah mengabaikannya terlalu lama.
Namun, amarah di hatinya sendiri juga belum mereda.
Kafe, toko kue... Bagaimana mungkin ia tidak cemburu setelah melihat semua kejadian itu?
Tetapi An’an tampaknya tidak mengerti.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Mungkin An’an hanya menganggap Ning Ge sebagai teman, sehingga ia tidak menyangka bahwa Jiang Yunzhi akan marah kepada temannya?
Mungkinkah ia memang terlalu sensitif?
Jiang Yunzhi berkata dengan murung, “An’an, aku tidak akan mendiamkanmu lagi. Maafkan aku.”
Mendengar ucapan Jiang Yunzhi, perasaan Mu Zhian sedikit membaik.
Setidaknya, hati Jiang Yunzhi masih berada di pihaknya. Ia pun mulai tenang dan memandang kotak makan di tangan Jiang Yunzhi.
Dorongan untuk memenangkan persaingan yang tak jelas muncul di dalam hatinya. Ia mengangkat sudut bibirnya yang merah muda. “Mari kita makan bersama. Aku ingin makan masakan yang dibawakan Kak Jiang Ruan.”
Kalau sang pujaan hati dengan sukarela mengantarkan makanan untuk mereka, mengapa ia harus menolaknya?
Memikirkan hal itu, suasana hatinya langsung terasa jauh lebih lega.
Melihat ekspresi Mu Zhian mengendur, Jiang Yunzhi mengembuskan napas lega. Ia mengangguk. “Baik!”
Setelah pertengkaran kecil ini, ia semakin memahami betapa dalam cintanya kepada An’an.
Meskipun ia masih merasa keberatan terhadap Ning Ge, ia ingin berusaha lebih keras untuk mempertahankan Mu Zhian.
Namun, ia tidak tahu bahwa begitu retakan muncul di dalam hati, retakan itu hanya akan semakin melebar dan tak mungkin diperbaiki.
Kebersamaan mereka sepanjang sore membuat hubungan mereka kembali seperti sediakala. Mereka berjalan bergandengan tangan di jalanan layaknya pasangan kekasih pada umumnya.
Mereka berdua sering muncul dalam berita finansial Kota Jinghai, terutama Jiang Yunzhi. Karena itu, sesekali para pejalan kaki yang mengikuti berita ekonomi mengenali mereka.
Tatapan yang tertuju kepada mereka dipenuhi rasa iri.
Para gadis iri karena Mu Zhian memiliki kekasih yang tampan, kaya, dan setia. Para pemuda iri karena Jiang Yunzhi memiliki kekasih yang kaya, cantik, dan penurut.
Mu Zhian sangat menikmati perhatian yang terpusat kepadanya. Sesekali ia tersenyum kepada para pejalan kaki, dan di bawah tatapan kagum itu, ia menggenggam tangan Jiang Yunzhi semakin erat.
Entah mengapa, Jiang Yunzhi merasa tidak nyaman.
Ia tidak terlalu menyukai hal-hal yang bersifat lahiriah seperti itu.
Untungnya, An’an bukan gadis materialistis.
Setelah berjalan-jalan dan mencerna makanan, hari mulai petang. Mereka berencana mencari restoran secara acak untuk makan malam.
Jalan komersial di pusat kota merupakan surga bagi para pencinta kuliner. Mereka berkeliling mencari tempat yang cocok.
Tepat saat melewati sebuah bar, mereka tanpa diduga melihat Ning Ge dan Jiang Ruan di pintu masuk.
Lengan Ning Ge bertumpu di bahu Jiang Ruan.
Dalam sekejap, amarah Jiang Yunzhi meluap.
Beraninya pria itu menyentuh kakaknya sembarangan!
Ia baru saja hendak melangkah dengan kaki panjangnya untuk menghentikan mereka ketika melihat kakaknya mengulurkan tangan menopang Ning Ge yang tampak sempoyongan karena sedikit mabuk. Jiang Yunzhi pun membeku di tempat.
Sebuah pikiran buruk menyeruak ke dalam benaknya.
Jangan-jangan kakaknya menyukai Ning Ge?
Halaman (3/3)