Bab 10 Rumah yang Mencekik

Kupu-kupu Terlarang Hao Ran 2527kata 2026-02-08 23:43:23

Darah mengalir di kepalaku, merahnya membasahi mataku. Aku melihat Zhou Huaijin menarik tangan Lu Chen, lalu mendorongnya dengan keras ke sudut dinding.

"Bang Zhou?"

"Kau datang?" Wajah Lu Chen tampak canggung, seperti seseorang yang kedoknya baru saja terbongkar. Ia berpura-pura merapikan kerah bajunya.

Di atas ranjang, Wei Yuqing menutupi tubuhnya dengan selimut, wajahnya penuh malu-malu dan ketakutan, tetapi masih sempat merapikan rambutnya.

"Kak Zhou, kau datang. Kakak ipar tadi baru saja masuk dan langsung memukulku. Hari ini Lu Chen hanya datang menjengukku yang sedang sakit, tapi ia malah jadi korban keributan ini," ucap Wei Yuqing. "Kakak ipar, jangan salahkan Lu Chen. Dia hanya menjalankan tanggung jawab seorang teman."

Aku mendengar ucapan itu dan tertawa. Betapa tebal mukanya, bisa mengatakan hal seperti itu dalam keadaan nyaris telanjang.

"Tanggung jawab seorang teman?" Aku menatapnya tajam. "Kalau begitu, boleh aku tanya, apakah Lu Chen pernah menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami?"

"Berkali-kali tidur dengan teman masa kecilnya sendiri, kau cuma perempuan murahan, penuh sandiwara, jangan bicara sembarangan!"

Zhou Huaijin menopangku untuk berdiri. "Kau baik-baik saja?"

Aku tahu penampilanku sangat kacau, tetapi aku tetap mengangguk dengan susah payah. Sambil bercanda, aku berkata, "Aku jijik dengan mantan suami dan perempuan jalang itu, nanti pulang tinggal muntah, pasti tidak apa-apa."

"Kau!" Lu Chen membentak. Ia belum pernah melihatku seperti ini sebelumnya, seperti perempuan gila yang menghajar pelakor dan pria brengsek di saat bersamaan.

Di matanya, aku selalu lembut dan tenang.

Di hadapannya, aku hanyalah boneka kecil yang penurut.

Lu Chen melangkah mendekati Wei Yuqing, mengelus wajahnya yang memerah karena tamparan, lalu berbalik dengan penuh amarah. "Kak Zhou, minggir. Hari ini aku akan mengajari perempuan jalang ini pelajaran!"

Ia mengangkat tangan seolah ingin memukulku. Pandangannya benar-benar ingin menghabisiku.

Bertahun-tahun cinta berubah jadi kekecewaan yang menghantam hatiku seperti batu, sedikit demi sedikit.

"Zhou Huaijin, apa maksudmu ini!" Wei Yuqing terkejut, menunjukku sambil memaki. "Kita tumbuh besar bersama, masa kamu masih mau melindungi perempuan yang sudah menyakitiku ini!"

Aku pun heran. Bukankah Zhou Huaijin tumbuh bersama mereka? Bukankah mereka bertiga selalu bersama, satu lingkaran pertemanan, sementara aku hanyalah badut yang bertunangan dengan Lu Chen?

Kenapa Zhou Huaijin justru melindungiku?

Aku menelan ludah, berusaha tetap sadar. "Lu Chen, kita selesai."

"Aku tidak akan menikahi pria yang berselingkuh dengan teman masa kecil sendiri dan melakukan kekerasan rumah tangga."

"Aku akan membicarakan pembatalan pertunangan dengan keluarga Lu, kau tak perlu repot-repot."

Kalau bukan demi perusahaan, saat Lu Chen pertama kali selingkuh, aku pasti sudah pergi tanpa menoleh ke belakang.

Kata ‘tunangan’ kini terasa sangat ironis. Aku tak lagi punya tenaga menopang tubuhku yang lemah, aku terjatuh ke belakang dan Zhou Huaijin menangkapku dalam pelukannya.

Tubuhnya harum, ada aroma tembakau yang samar, menenangkan.

Aku berbisik, "Zhou Huaijin, tolong bawa aku pergi."

Detik berikutnya, aku merasa tubuhku diangkat, dan dalam cahaya bulan, aku sempat melihat wajah Lu Chen yang tak percaya bercampur marah.

Mungkin karena aku pergi bersama sahabatnya, atau mungkin dia tak habis pikir mengapa Zhou Huaijin memilih melindungiku.

Ketika jarak dari kamar rumah sakit sudah cukup jauh, aku masih bisa mendengar makian Lu Chen.

"Batal pertunangan? Berani-beraninya dia! Perempuan sampah yang sudah rusak di tanganku, sekalipun batal, itu aku yang membatalkan. Tak lama lagi keluarganya pasti akan memohon agar aku menikahinya!"

Aku menutup mata. Bagaimana mungkin aku pernah jatuh hati pada manusia busuk yang menjijikkan seperti dia.

Benar-benar aib dalam hidupku.

Zhou Huaijin membawaku ke ruang medis, membalut ulang luka di kepalaku.

Tiba-tiba layar ponselku menyala. Ia melirik, melihat bahwa aku sedang merekam suara, lalu tertawa pelan. "Main pintar ya?"

"Sebaiknya kau pikirkan baik-baik bagaimana menjelaskan pada keluarga Shen. Sekalipun kau ingin membatalkan pertunangan, dua orang tua Shen itu tidak akan setuju."

Setelah semua urusan selesai, aku meninggalkan rumah sakit.

Kembali melangkah ke depan pintu rumah keluarga Shen, setelah sekian lama, tempat ini terasa sangat asing.

Asing tapi juga mengandung secuil kenangan.

Di rumah mewah keluarga Shen, semua peninggalan ibu telah lenyap. Termasuk gazebo di halaman, dan taman mawar yang dulu mekar di bawah sinar bulan.

Semua jejak ibu menghilang tanpa bekas.

Bagi diriku, tempat ini penuh luka. Saat aku duduk di bangku kedua SMA, ibuku meninggal dunia, lalu ayah langsung menikah dengan wanita simpanannya, membawa serta adik tiri bernama Shen Mu.

Sebelum meninggal, ibu pernah berpesan, ayah mencintai perempuan lain dan tidak mencintai ibu. Jika aku tidak patuh, ayah pun akan meninggalkanku.

Ia memintaku bersikap baik saat ibu tiri masuk, belajar bersabar, bertahan, hingga aku lulus kuliah, tumbuh dewasa dengan selamat, lalu bisa melarikan diri dari rumah ini.

Itulah sebabnya aku meminta izin pada ayah untuk kuliah di luar negeri, supaya bisa jauh dari rumah.

Itu juga alasan mengapa aku menjalani hubungan jarak jauh dengan Lu Chen selama tujuh tahun.

Namun setelah Liu Yan masuk ke rumah, sebaik dan sepenurut apa pun aku, dia selalu curiga, mencari alasan untuk memarahi dan memukulku.

Bahkan suka mengadu pada ayah, bilang aku memecahkan kosmetiknya, atau mencuri uangnya.

Akibatnya, aku sering dihukum ayah, dikurung di gudang gelap, hingga sekarang aku masih takut gelap.

Saat aku dewasa, ayah memintaku kembali ke tanah air, lalu mulai membicarakan pernikahanku dengan Lu Chen. Terlihat seperti perhatian, padahal hanya untuk memperkuat posisi keluarga Shen.

Sakit? Tentu saja sakit.

Perusahaan Shen dulunya juga ada bagian milik ibuku, itu sebabnya aku menyetujui pernikahan ini lebih awal.

Aku menarik napas lega dan melangkah masuk ke rumah keluarga Shen.

Ayah dan ibu tiri, Liu Yan, duduk di sofa, adik perempuanku bercerita tentang kejadian lucu akhir-akhir ini. Ketiganya tertawa bahagia. Bahkan saat ibu masih hidup, aku jarang melihat ayah tertawa seperti itu.

Hingga akhirnya mereka melihat kedatanganku.

Wajah ayah langsung berubah dingin.

Ia pura-pura mengambil koran dan berkata, "Kenapa kau pulang?"

"Lho, Xiaorou pulang, kau tidak senang? Sudah lama ia tak kembali. Malam ini ibu masak daging merah kesukaanmu," ujar Liu Yan dengan senyum ramah. Wajahnya memang lembut dan bicara dengan nada manis, hingga tampak sangat hangat.

Dulu aku juga tertipu oleh wajah ramah itu.

Siapa sangka di balik raut baik hati, tersembunyi watak iblis.

"Ayah, aku membatalkan pertunangan."

Ucapan itu membuat mereka terdiam. Perlahan ekspresi ayah berubah menjadi suram, lalu melempar koran ke wajahku dengan kasar.

"Siapa yang mengizinkanmu membatalkan pertunangan!"

"Kalian sudah bersama tujuh tahun, tiba-tiba membatalkan, siapa lagi yang mau menikahi perempuan yang sudah kehilangan kehormatan!"

Aku tertegun, hatiku serasa diremas, napas tertahan.

"Ayah, tidakkah ayah ingin tahu alasan aku membatalkan pertunangan?"

"Apa alasannya? Dari kecil kau memang bandel! Sebelum bertindak, bisa tidak kau pikirkan dulu keluarga Shen?"

Pisau di tanganku terjatuh ke lantai. "Ayah, kau benar-benar ayahku? Lu Chen itu selingkuh, aku memergokinya sendiri, ia melindungi perempuan simpanannya dan memukulku, melakukan kekerasan padaku. Apakah aku masih tidak boleh membatalkan pertunangan?"