Bab 52: Kalah Dengan Satu Jari
Setelah makan siang, mereka mencuci muka lalu tidur sebentar. Latihan sore pun berjalan seperti biasa, tanpa insiden yang berarti.
Malam hari tiba, langit di atas Pusat Pendidikan Moral Kota Jiang dipenuhi gemintang yang berkilauan. Di atap asrama putra, dua sosok tampak berdiri: satu mengenakan seragam perwira muda, satu lagi memakai seragam loreng latihan militer.
Dua orang itu adalah Komandan Pleton Tiga dan juga Xing Luo.
"Minum bir saat latihan militer, apa kau tidak takut atasanmu menghukummu?" Xing Luo mengambil sekaleng bir, membuka tutupnya dengan bunyi klik, lalu meneguk sedikit sambil berkata lirih.
"Konon katanya, minum bisa membuat syaraf mati rasa, supaya orang tidak memikirkan hal yang menyedihkan." Sang pelatih meneguk bir dalam-dalam, wajahnya tampak getir, matanya pun tersirat luka yang dalam. "Ternyata tidak terlalu berhasil juga."
Mendengar itu, Xing Luo menatap wajah pelatih, tersenyum tipis. "Sejak dulu, banyak pahlawan jatuh karena wanita. Rupanya kau juga tak terkecuali."
"Haha, mungkin saja..." Pelatih mengangguk pahit.
"Tapi kau... setidaknya masih bisa diam-diam melihat orang yang kau cintai beberapa kali. Sedangkan aku, bahkan itu pun tak bisa..." Xing Luo menatap langit berbintang dengan tatapan nanar, suaranya sangat pelan, seakan hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar.
"Xing Luo, menurutku, identitasmu pasti tak sederhana. Di usia segini sudah mencapai tahap menengah aliran dalam, keluargamu pasti keluarga pendekar, kan?" Pelatih tersenyum menatap Xing Luo.
"Keluarga? Pelatih bercanda saja. Sejak kecil aku yatim piatu, tumbuh di antara tumpukan mayat." Xing Luo meneguk bir, menggeleng perlahan.
"Tumpukan mayat?" Pelatih terkejut, nyaris tak percaya. "Kau juga seorang tentara?"
Xing Luo tersenyum menampakkan giginya yang putih. "Tak ada hubungannya. Tentara itu pelindung, sedangkan aku... pembunuh."
"Pembunuh? Maksudmu..." Pelatih terbelalak. Seorang ahli pembunuh, bukankah itu berarti dia seorang pembunuh bayaran? Anak usia lima belas enam belas tahun, ternyata adalah pembunuh yang ditakuti semua orang?
"Komandan Pleton Tiga, identitas Xing Luo adalah rahasia negara tingkat satu, dilarang dibocorkan." Tiba-tiba, sesosok wanita dengan jubah putih muncul di atap. Wajahnya cantik dan dingin, siapa lagi kalau bukan Ye Binglan.
"Bu Guru Ye?" Pelatih terperangah.
"Hanya wanita dari lembaga khusus, tak perlu dihiraukan, pelatih. Mari bersulang." Xing Luo mengangkat sekaleng bir tanpa sedikit pun menoleh pada penguntit yang menyebalkan itu.
"Uh..." Pelatih jadi bingung, dua orang ini rupanya orang-orang luar biasa. Apa aku terjebak dalam kisah polisi dan pencuri?
Melihat itu, Ye Binglan mengerutkan alis tipisnya. "Saudara, ingatlah identitasmu sekarang. Kau murid SMA Negeri Satu Kota Jiang, sedang menjalani latihan militer. Minum bir akan mengurangi nilai pendidikan moralmu."
"Jangan coba-coba mengancamku dengan itu. Paling juga tahun depan aku ikut latihan militer lagi." Suara Xing Luo makin dingin.
"Karena aku yang menerima tugas kali ini, maka aku harus memastikan tugas selesai. Mohon kerjasamanya," ucap Ye Binglan datar, seolah tak mendengar nada dingin Xing Luo.
Kerjasama apanya! Xing Luo mengumpat dalam hati. Ia tahu benar sifat keras kepala Biro Militer Hua, yang takkan berhenti sebelum tugas selesai.
"Kalau begitu, pelatih, lain waktu kita minum lagi," ucap Xing Luo, menghabiskan birnya, lalu melemparkan kaleng kosong ke tanah. Ia menggelengkan kepala, turun ke bawah.
"Baik, baik." Pelatih merasakan suasana aneh itu, mengangguk, menghabiskan bir, tersenyum pada Ye Binglan, lalu turun pula.
Setelah tidur pulas di asrama, hari pun berganti. Empat hari berikutnya berjalan tanpa kejadian khusus. Justru setiap malam, pelatih dan Xing Luo minum bir dan berbincang di atap asrama, hingga akhirnya mereka pun jadi sahabat.
"Eh, eh, salah, salah! Kenapa kau bodoh sekali? Sudah kubilang, pusatkan nafas di dantian, lalu lakukan jurus yang kau kuasai. Begitu baru bisa merasakan tenaga dalam di dantian." Xing Luo menatap pelatih dengan kesal, lalu memperagakan teknik tenaga dalam jurus Yong Chun, menunjukkan letak kesalahan pelatih.
Waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang di hari Jumat. Satu jam lagi, pelatihan militer siswa baru SMA Negeri Satu dan Dua akan berakhir dengan sempurna. Dalam empat hari itu, setiap waktu senggang, pelatih selalu meminta Xing Luo membimbingnya cara merasakan tenaga dalam di dantian.
Saat ini, pelatih berkeringat deras, wajah serius, kedua tangan mengepal, nafas dipusatkan di dantian, mata menatap hidung, hidung menatap hati. Sebuah kekuatan tak kasat mata mulai terbentuk mengikuti jurus bela diri militer yang ia mainkan.
Melihat itu, Xing Luo tersenyum tipis. Ia sangat mengenal proses ini. Seorang pendekar di tahap awal aliran dalam yang ingin naik ke tahap menengah, wajib bisa merasakan tenaga dalam dantian, dan saat bertarung mengubahnya menjadi tenaga murni. Itulah syarat menjadi pendekar tahap menengah sejati.
Dan kini, pelatih sudah menunjukkan tanda-tanda akan menembus tahap menengah.
"Brak!"
Pukulan terakhir mendarat, tiba-tiba dari bawah kaki pelatih meletup tenaga murni yang begitu kuat, menghancurkan batu-batu di sekitarnya jadi debu. Di dalam dantian, tenaga tak kasat mata mulai memenuhi seluruh tubuh, mengalir lewat setiap aliran energi, otot, dan tulang.
"Luar biasa, selamat! Akhirnya kau menembus tahap menengah," ucap Xing Luo memuji sambil melirik batu-batu yang hancur di tanah.
"Heh, anak muda, mau sparring?" Pelatih menggosok pergelangan tangan yang pegal, menatap Xing Luo dengan senyum penuh tantangan. Sebelumnya Xing Luo menang karena kekuatan fisiknya memang lebih tangguh.
Tapi kini, ia pun sudah menembus tahap menengah. Mengalahkan Xing Luo, sepertinya bukan hal sulit.
Mendengar itu, Xing Luo tersenyum lebar, mengacungkan satu jari tangan kanan. "Satu jari cukup untuk mengalahkanmu."
"Kurang ajar, sombong sekali. Kali ini aku takkan menahan diri," balas pelatih seraya melesat, kedua kaki menjejak keras, mendekati Xing Luo, lalu melancarkan serangan dahsyat. Tenaga dalam dikumpulkan di kedua tangan, membuat pukulannya dua kali lebih kuat.
Namun, tubuh Xing Luo perlahan menjadi samar dan aneh. Saat pukulan pelatih hendak mendarat di dadanya, Xing Luo lenyap bagai bayangan dan muncul di belakang pelatih, lalu satu jari mengetuk punggungnya.
"Langkah Bayangan Gelap, terima kasih atas latihannya, Pelatih."
Suara tawa ringan terdengar dari belakang, justru membangkitkan semangat sang pelatih. Pemuda sekuat ini, kelak pasti masa depannya gemilang.