Bab 77: Gong Jiaojiao
Lima jam pelajaran di pagi hari pun berlalu begitu saja, dan... tentu saja, bagi Xing Luo, semuanya berlalu dalam lamunan penuh khayalan di tengah tidurnya.
Begitu bel pelajaran usai, Zhang Xiyu segera mengalihkan pandangannya yang jernih ke arah Xing Luo. Melihat pemuda itu tertidur pulas dengan kepala bersandar di meja, hati Zhang Xiyu dipenuhi rasa manis yang tak jelas asalnya. Ia benar-benar merasakan bahwa selama Xing Luo ada di sisinya, segalanya terasa lengkap.
“Andai saja dia benar-benar adalah Xiao Luo, alangkah baiknya...” Zhang Xiyu terpaku menatap Xing Luo, membiarkan bayang-bayang masa kecil Xiao Luo berbaur dengan sosok Xing Luo saat ini. Semakin ia perhatikan, semakin mirip saja, seolah Xing Luo adalah versi dewasa dari Xiao Luo. Mungkinkah Xing Luo memang Xiao Luo?
Tiba-tiba, dugaan yang sudah berkali-kali muncul di benaknya itu membuat Zhang Xiyu terkejut sendiri. Ia pun tidak benar-benar tahu siapa Xing Luo sebenarnya, hanya saja ada nuansa familiar yang sulit dijelaskan. Ia juga belum pernah menanyakannya pada Zhang Tian, tetapi dari ekspresi Zhang Tian saat bertemu Xing Luo, mereka setidaknya sudah saling kenal beberapa tahun.
Jadi... mungkinkah Xing Luo memang Xiao Luo? Jantung Zhang Xiyu berdegup kencang. Tapi jika Xing Luo benar-benar Xiao Luo, mengapa ia seperti tak mengenali dirinya? Apakah sepuluh tahun tanpa bertemu sudah cukup menghapus semua kenangan?
Zhang Xiyu pun bulatkan tekad, nanti sepulang ke rumah ia akan menelepon Zhang Tian, menanyakan langsung apakah Xing Luo sebenarnya adalah putra keluarga Xiao, si kecil Luo yang sejak kecil selalu menempel padanya.
Saat Zhang Xiyu hendak membangunkan Xing Luo untuk pulang, tiba-tiba muncul satu sosok di pintu belakang kelas.
“Xing Luo!”
Suara lantang menggema di seluruh kawasan sekolah. Wajah cantik Gong Jiaojiao tampak penuh amarah saat menatap Xing Luo yang masih tertidur di mejanya. Sejak pagi, setelah menerima surat cinta yang dibawa Zhao Yu, Gong Jiaojiao merasa hatinya membara oleh api kemarahan.
Lelaki yang ia incar, berani-beraninya menolak dirinya?
Teriakan itu membangunkan Xing Luo dari tidurnya. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat seorang gadis mengenakan celana pendek denim ketat, atasan tanpa lengan yang memperlihatkan perut ramping, tubuh mungil namun proporsional, lengan mulus, kaki jenjang, dan wajah cantik bak boneka porselen.
Astaga... ini benar-benar loli super!
Namun, ketika Xing Luo melihat gelang pelindung hitam di pergelangan tangan gadis itu, ditambah berbagai aksesori yang melingkar, seketika satu kata terlintas di benaknya...
Loli preman super!
Melihat ekspresi marah di wajah loli preman itu, Xing Luo menunjuk dirinya sendiri, bingung, “Eh... Nona cantik, kau panggil aku?”
“Plak.” Sebuah surat putih dilemparkan ke meja Xing Luo. Wajah Gong Jiaojiao penuh amarah, ia membentak, “Surat cinta yang kutulis untukmu, kenapa tidak kau balas... eh, maksudku, kau memang membalas, tapi kau membalas dengan suratku sendiri. Aku mau kau membalas dengan suratmu sendiri!”
“Kau... Gong Jiaojiao?” Xing Luo menatap heran pada loli preman super di depannya, sedikit ragu.
“Kau... kau keterlaluan! Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?” Gong Jiaojiao semakin naik pitam. Nama besarnya di SMA Satu tak kalah dari ketiga ketua geng besar. Di sekolah itu, siapa yang tak kenal Gong Jiaojiao? Tapi, siswa baru kelas sepuluh yang baru saja tenar ini, dan bahkan seorang ketua geng, sama sekali tidak mengenali dirinya?
“Melihat penampilanmu sekarang, aku tahu siapa kau,” Xing Luo mengangkat tangan, pasrah.
“Kalau begitu, kenapa tidak membalas suratku?” Gong Jiaojiao masih menatap Xing Luo dengan marah.
Astaga, ini sudah abad dua puluh satu, era informasi, bukan zaman burung merpati pos! Xing Luo merasa seperti kembali ke masa lalu. Zaman sekarang, siapa yang nembak orang lewat surat cinta? Bukannya langsung lewat aplikasi pesan? Kenapa masih ada yang menulis surat cinta segala?
Lagipula, aku juga tidak tertarik padamu, untuk apa aku balas suratmu, pikir Xing Luo dalam hati.
Ia memutar bola matanya, lalu berkata, “Kenapa harus kubalas? Itu suratmu, bukan suratku. Waktu itu aku bahkan tak tahu siapa kau. Kalau saja Yuzi tidak memberitahu, aku benar-benar tidak tahu siapa dirimu.”
Begitu selesai bicara, Xing Luo menyesal. Ia refleks menarik kakinya, takut-takut kalau Gong Jiaojiao yang sedang marah akan menendang bagian vitalnya. Kalau itu sampai terjadi, tamatlah masa depan kebahagiaan hidupnya.
Benar saja, Gong Jiaojiao mendengar ucapan Xing Luo itu, kedua pipinya yang merona semakin menggembung, mata besarnya tampak membara, ia berteriak, “Xing Luo, dasar brengsek! Dasar lelaki licik! Pokoknya mulai hari ini, kau jadi pacarku!”
Usai bicara, Gong Jiaojiao langsung duduk di pangkuan Xing Luo, kedua tangannya melingkar ke leher pemuda itu, lalu bibir mungilnya menempel pada bibir Xing Luo.
Tindakan tiba-tiba Gong Jiaojiao itu membuat Xing Luo terpana. Matanya membelalak, tampak syok melihat loli preman super itu memejamkan mata dan mencium dirinya. Apa-apaan ini, aku sedang dicium paksa?
Zhang Xiyu pun ikut terkejut dengan aksi nekat Gong Jiaojiao, namun lebih dari itu, ia merasa cemburu. Dugaan yang sempat terlintas di benaknya tadi, kini membuatnya semakin yakin bahwa kemungkinan Xing Luo adalah Xiao Luo mencapai delapan puluh satu persen. Melihat Xing Luo dicium gadis lain, sama saja dengan melihat Xiao Luo dicium orang lain—ia tak sanggup menerimanya.
Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, karena belum ada bukti bahwa Xing Luo adalah Xiao Luo. Ia hanya bisa menunggu sampai di rumah untuk menelepon Zhang Tian dan mencari kepastian.
Menahan rasa perih di hatinya, Zhang Xiyu mengambil tasnya dan melangkah keluar, berkata datar, “Aku pulang dulu. Kalau kau masih mau berciuman, lanjutkan saja.”
Mendengar suara dingin yang mengandung makna lain itu, Xing Luo langsung sadar dan mendorong Gong Jiaojiao. Tak disangka, kedua tangannya malah menempel pada dada gadis itu yang lembut dan montok. Dalam hati, Xing Luo membandingkan Gong Jiaojiao dengan Xu Xiangzi.
Sama-sama ukuran D!
Tapi saat ini Xing Luo benar-benar tidak berminat menikmati situasi itu. Ia buru-buru berlari mengejar Zhang Xiyu dan berkata sambil tertawa kaku, “Nona, kau salah paham. Kau lihat sendiri tadi, gadis itu yang duduk di pangkuanku dan langsung menciumku.”
“Kau kira dirimu sehebat apa?” Zhang Xiyu tetap berjalan tanpa menoleh, wajahnya tanpa ekspresi, suara dingin menyambar.
“Eh...” Xing Luo menggaruk hidungnya. Namun, naluri laki-lakinya mengatakan, saat seperti ini lebih baik diam saja, bicara sedikit saja bisa memperburuk keadaan.
Gong Jiaojiao berdiri di tempat Xing Luo duduk, wajahnya merah padam. Ia memang mencium Xing Luo tadi, itu pun karena tak terima dikatakan tak dikenal. Bukankah ia juga seorang bidadari sekolah, bahkan salah satu yang tercantik? Xing Luo bilang tak mengenalnya, maka ia harus lebih dulu “dikenal” oleh Xing Luo.
“Hmph, Xing Luo, kau takkan bisa lepas dari genggamanku!” Gumamnya sambil mengerutkan hidung imutnya, Gong Jiaojiao kembali ke sikap biasa, lalu berjalan keluar kelas.
(Bagian kedua agak terlambat, maaf, tadi ada perbaikan pada sistem penulis. Satu bagian lagi segera menyusul.)