Bab 12 Pantang Menyerah

O Maior Medo é Amar na Hora Errada Ver flores através da névoa. 1192kata 2026-08-03 11:28:17

Dengan beberapa patah kata, pria itu melemparkan seluruh kesalahan kepada Qin Huan. Sungguh, lidahnya benar-benar pandai bersilat.

Qin Huan memahami maksud tersiratnya. Namun, saat ini ia tidak ingin membuang waktu untuk berdebat. Selama pria di hadapannya itu segera menghilang dari pandangan, ia sudah merasa puas.

Baru setelah pintu kamar dibanting hingga tertutup dengan suara keras, rasa tidak nyaman yang menyelimuti tubuh Qin Huan perlahan mereda.

Dahulu, pria seperti itulah yang memberinya rasa aman yang luar biasa. Namun kini, mereka bahkan sudah muak hanya dengan saling memandang. Apa sebenarnya yang menyebabkan semuanya berubah?

Qin Huan teringat pada percakapan yang tanpa sengaja didengarnya kala itu. Ia tertawa, tetapi air mata justru mengalir deras dari sudut matanya. Tidak ada kesedihan sedikit pun dalam sorot matanya, melainkan amarah dan keengganan untuk menyerah. Mengapa ia harus diperlakukan seperti ini? Kali ini, ia sama sekali tidak akan menoleransinya. Ia pasti akan membuat orang-orang itu membayar harga yang setimpal.

“Bukankah kalian menginginkan saham yang menjadi milikku? Kalau begitu, biar kulihat sejauh apa kemampuan kalian!”

Bibir tipis Qin Huan sedikit terbuka. Ia mengangkat tangan dan menyeka air mata di sudut matanya dengan lembut. Sorot matanya berkilat penuh tekad. Ia tidak akan membiarkan siapa pun merampas segala sesuatu yang menjadi haknya.

Sejak bertemu Qin Huan di hotel, Cheng Jinyan semakin merasa ada yang tidak beres. Ia menduga kali ini Qin Huan mungkin akan membuat masalah besar. Jika saham itu tidak berhasil diperoleh, bagaimana ia akan mempertanggungjawabkannya kepada Qin Yan?

Karena itu, Cheng Jinyan menyuruh seseorang menyelidiki keberadaan Qin Huan belakangan ini. Ia kemudian mengetahui bahwa wanita itu ternyata sedang mengirimkan lamaran kerja ke berbagai perusahaan.

Tindakan Qin Huan membuat Cheng Jinyan sangat tidak senang. Menurutnya, untuk apa istrinya harus tampil di hadapan umum dan bekerja di luar? Bukankah ia cukup menjadi burung dalam sangkar emas miliknya? Langkah Qin Huan perlahan-lahan membuat wanita itu terlepas dari kendalinya.

“Qin Xin, sepertinya aku terlalu memanjakanmu sampai-sampai kau berani bertindak sesuka hati. Kau ingin melepaskan diri dari kendaliku? Tampaknya pemilik jas itu memang memiliki hubungan khusus denganmu!”

Cheng Jinyan benar-benar seperti pencuri yang berteriak maling. Dialah yang lebih dahulu berselingkuh dan berubah hati, tetapi ia tetap tidak rela membiarkan istrinya kembali meniti karier. Sungguh, ia pria yang licik dan penuh tipu daya.

Cheng Jinyan kemudian memanggil asistennya dan menyuruhnya menyebarkan kabar agar berbagai perusahaan tidak merekrut Qin Xin.

Cheng Jinyan memang memiliki sedikit nama di dunia bisnis. Perusahaan-perusahaan menengah, yang berpegang pada prinsip lebih baik berteman daripada bermusuhan, memilih untuk tidak menentang keinginannya. Meskipun sebenarnya berniat merekrut Qin Huan, mereka tentu tidak ingin menjadikannya musuh.

Akibatnya, jalan Qin Huan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi jauh lebih sulit.

Semua lamaran yang dikirimkannya tanpa terkecuali dikembalikan. Qin Huan sempat merasa frustrasi, tetapi segera menyadari bahwa seseorang sedang menghalangi langkahnya. Dan orang di balik semua ini tentu saja suaminya yang hanya berstatus sebagai suami di atas kertas.

Hal itu tidak membuat Qin Huan patah semangat. Sebaliknya, ia justru semakin bertekad. Kegigihan Cheng Jinyan dalam menghancurkan seluruh jalan yang bisa ditempuhnya menunjukkan bahwa pria itu memang merasa bersalah dan takut ia akan bangkit kembali.

“Cheng Jinyan, apa kau benar-benar setakut itu?”

Tisu di tangan Qin Huan diremasnya hingga menjadi gumpalan, lalu dilemparkannya dengan ringan ke kejauhan.

Keesokan harinya, Qin Huan kembali membangkitkan semangatnya. Dengan membawa setumpuk lamaran kerja, ia mendatangi berbagai perusahaan untuk menjalani wawancara.

Jawaban yang diterimanya tidak pernah lebih dari penolakan samar atau alasan bahwa ia tidak cocok. Namun, karena sudah memutuskan untuk kembali ke dunia kerja, Qin Huan tentu tidak akan patah semangat hanya karena masalah sepele. Ia segera menata kembali perasaannya, lalu memasuki perusahaan lain.

“Itu dia?”

Di sudut jalan, seorang pria mengangkat pandangan. Di bawah cahaya yang menyilaukan, ia melihat sosok yang terasa begitu akrab.

“Feng Xing, ada apa?”

Temannya mengangkat alis dan menoleh ke arah yang dipandangnya, tetapi hanya menemukan kerumunan orang yang berlalu-lalang tanpa sesuatu yang istimewa.

Emosi di mata pria itu lenyap dalam sekejap, lalu wajahnya kembali membeku seperti biasanya.