Bab 2: Menjadi Gila
Setengah jam kemudian, Qin Huan menerima surat perjanjian perceraian.
Ia duduk di sofa, memandangi waktu yang berlalu detik demi detik. Hingga hampir tengah malam, ia tetap tak kuasa menahan diri untuk mengirim pesan kepada Cheng Jinyan, “Kapan kau akan pulang?”
Pesan itu terkirim, tetapi tak kunjung mendapat balasan.
Ketika ia menggulir ke atas, kotak-kotak percakapan berwarna hijau hampir memenuhi seluruh riwayat pesan.
— “Hari ini kau ingin makan apa?”
— “Aku melihat seekor kucing yang wajahnya mirip sekali denganmu.”
— “Besok ulang tahun pernikahan kita. Bisakah kau meluangkan waktu setengah hari untuk menemaniku?”
Selama tiga tahun pernikahan, Qin Huan hampir menganggap Cheng Jinyan sebagai seluruh dunianya. Ia selalu berhati-hati mengelilingi pria itu, membagikan suka dan dukanya, tetapi tak pernah berani menyinggungnya sedikit pun.
Meskipun Cheng Jinyan jarang menanggapi pesannya, bahkan kerap mengabaikan kesukaannya, ia selalu bisa memakluminya dengan alasan bahwa Cheng Jinyan terlalu sibuk bekerja atau memang memiliki sifat seperti itu.
Namun setelah menarik diri dari semua itu, barulah ia menyadari betapa konyol dirinya dahulu.
Qin Huan tak ingin menunggu lebih lama. Membawa surat perjanjian perceraian, ia langsung menyusul ke lokasi yang terlihat dari unggahan Qin Yan.
Sesampainya di sana, barulah ia menyadari bahwa tempat itu adalah sebuah klub privat.
Begitu memasuki pintu, Qin Huan melihat sekelompok anak orang kaya mengelilingi Qin Yan.
“Wah, bukankah ini Nyonya Luo kita? Kenapa hari ini punya waktu datang bermain?”
“Kesepian karena harus tidur sendirian?”
“Hahaha, mau kami temani?”
Mereka menggoda tanpa sedikit pun menahan diri. Tatapan mereka yang serakah seolah-olah bisa merobek pakaiannya kapan saja. Bahkan, ada yang langsung mengulurkan tangan hendak menyentuhnya.
Tatapan Qin Huan berubah dingin. Ia baru hendak menghampiri ketika tiba-tiba seseorang mendorongnya dengan kasar.
Karena tak sempat bersiap, tubuhnya membentur sudut meja di sebelahnya. Rasa nyeri yang tajam seketika menyerang, membuat keringat dingin membasahi dahinya. Seluruh tubuhnya bahkan tak mampu bergerak.
“Siapa kalian sampai berani menyentuhnya?!”
Cheng Jinyan tampak seperti dewa kematian. Ia mencengkeram pria yang memimpin kelompok itu, lalu menghajarnya habis-habisan. Pukulan demi pukulan menghantam wajah pria tersebut hingga darah berhamburan dan ia terus-menerus memohon ampun.
“Maaf, Tuan Cheng, saya salah, saya salah. Tolong ampuni saya...”
Cheng Jinyan seolah tak mendengar. Ia nyaris memukuli pria itu sampai mati ketika Qin Yan buru-buru berteriak, “A-Ting!”
Hanya dengan satu panggilan, Cheng Jinyan langsung menghentikan tangannya. Ia berbalik dan memeluk Qin Yan yang berlari menghampirinya dengan wajah penuh air mata, lalu merengkuhnya erat dan penuh perhatian.
“Untung kau datang. Kalau tidak...”
“Aku akan membawamu pergi.” Tatapan Cheng Jinyan tampak dingin dan berat.
Keduanya segera pergi, sekaligus membawa serta keributan yang baru saja terjadi. Hanya Qin Huan yang ditinggalkan di tempat itu.
Ia menatap kosong punggung Cheng Jinyan. Tiba-tiba, ia teringat pada suatu kejadian beberapa waktu lalu, ketika ia menghadiri sebuah jamuan bersama Cheng Jinyan.
Karena kejadian di masa lalu, orang-orang dalam lingkaran itu kebanyakan meremehkannya. Bahkan ketika menghadiri jamuan, ia tak pernah luput dari ejekan dan tatapan penuh hinaan. Yang lebih keterlaluan bahkan menanyakan tarifnya untuk satu malam tepat di hadapannya.
Qin Huan gemetar karena marah dan hendak meluapkan amarahnya di tempat, tetapi Cheng Jinyan mencegahnya.
“Huanhuan, mereka semua adalah rekan bisnisku. Untuk sementara, kita tidak boleh merusak hubungan.”
Jadi, ia hanya tak boleh merusak hubungan demi dirinya.
Rasa sakit di pinggang belakangnya berubah menjadi nyeri yang memilukan.
Qin Huan menundukkan kepala. Air matanya jatuh tanpa suara.
Sesampainya di rumah, Qin Huan langsung mulai membereskan barang-barangnya tanpa beristirahat sedikit pun. Gelas pasangan, bantal sofa yang dipilihnya dengan penuh perhatian, boneka-boneka kecil buatan tangan... semua benda yang dahulu ia bawa pulang dengan penuh cinta, ia buang ke tempat sampah.
Pada akhirnya, hanya perhiasan yang diberikan Cheng Jinyan selama bertahun-tahun dan foto-foto mereka berdua yang tersisa.