085: Menjemput di Bandara
Pada awal Mei, Xu Li menyelesaikan jadwal pekerjaannya di luar kota dan terbang kembali ke Ibu Kota. Begitu turun dari pesawat, Tang Xin segera mendekatinya dan berkata, "Kak Li, Kak Qiao baru saja mengirim pesan. Tanggal delapan nanti adalah hari upacara pembukaan film ‘Halusinasi’, jangan sampai lupa, ya. Dia masih di Milan, baru bisa pulang tanggal tiga belas."
"Ya, lusa ulang tahun Lele. Sepertinya Kak Qiao memang tidak akan sempat pulang."
"Kak Qiao juga menyesal. Hadiah ulang tahun untuk Lele sudah dikirim dari Milan dua hari lalu, masih dalam perjalanan. Harusnya besok sampai. Dia minta aku bawakan sekalian sampaikan permintaan maaf pada Lele dan Tuan Gu."
"Memang tidak bisa dihindari, rencana selalu kalah dengan perubahan. Kakak senior juga pasti tidak akan memedulikan hal kecil begitu." Xu Li tersenyum ringan. "Ngomong-ngomong soal hadiah, beberapa waktu ini aku sibuk sekali sampai belum sempat memilih. Besok aku harus ke mal cari hadiah."
Karena sudah berjanji pada Gu Junxi akan merayakan ulang tahun Lele, Xu Li tentu tak ingin mengecewakan, apalagi Lele sangat menantikan hari ulang tahunnya tahun ini.
Hadiah itu harus ia pilih sendiri agar terasa tulus.
"Kak Li, sudah kepikiran mau beli apa?" tanya Tang Xin.
"Sudah," Xu Li menatap matanya yang penuh rasa ingin tahu lalu berkata langsung, "Lego saja, tapi pastinya besok harus lihat-lihat dulu di mal."
Sebenarnya ia sudah memikirkan hadiah itu sejak awal. Lele memang mengidap autisme, tapi ia sangat cerdas dan berbakat. Dari beberapa kali video call, Xu Li melihat kamar anak itu penuh dengan pajangan Lego, bahkan pernah dikonfirmasi langsung oleh Gu Junxi.
Bocah itu memang penggemar berat Lego.
"Kamu pilih apa?" Xu Li bertanya balik.
"Aku pilih mobil remote control, yang keren banget," Tang Xin menjawab dengan riang. "Bisa dikontrol pakai suara juga. Memang agak mahal, tapi aku yakin Lele pasti suka."
Xu Li tertawa, "Bagus, anak laki-laki pasti tidak tahan godaan mobil remote control."
Setelah mengambil bagasi, tiba-tiba ponsel Xu Li berdering dengan nama kontak ‘Babi’ terpampang di layar.
Ia mengernyit heran, menggeser tombol untuk menerima lalu menempelkan ke telinga. Belum sempat bicara, suara laki-laki yang sangat ia rindukan sudah terdengar hangat di telinganya.
"Sudah turun pesawat?"
"Ya, baru ambil koper. Kamu di rumah?"
"Di bandara."
"Apa?" Xu Li terkejut, mengira dirinya salah dengar.
"Di parkiran bandara."
"Kamu juga sedang dinas luar kota?" Xu Li merasa aneh. "Tapi, kemarin malam waktu video call, kamu masih di rumah, kan?"
Di seberang sana hanya terdengar satu jawaban singkat dan berat, "Ya."
Xu Li terdiam sejenak, lalu tiba-tiba menyadari sesuatu dan menggoda, "Jadi... kamu sengaja menjemputku ya?"
Yang terdengar hanya keheningan.
Ia tertawa pelan. Dasar kayu ini akhirnya juga mulai mengerti, bahkan belajar menjemput di bandara.
"Kamu di zona mana?"
"Zona B."
"Oke, aku sampai sekitar lima menit lagi."
Setelah menutup telepon, Xu Li menoleh pada Tang Xin dan berbisik, "Tang Xin, nanti kamu lewat zona C saja, ya."
"Siap." Tang Xin menjawab dengan senyum lebar, lalu mendekat dan bertanya, "Direktur Shang sampai datang jemput, ya? Aku sih selalu bilang dia cinta banget sama kamu, tapi kamu malah bilang aku baper."
Kata ‘cinta’ jika ditempatkan di antara dirinya dan Shang Yan terasa sangat asing.
Xu Li sendiri tidak berani mengaku bahwa ia mencintainya. Jika dibandingkan sikap Shang Yan dulu dan sekarang memang ada perbedaan, tapi cinta... sepertinya masih belum sampai ke sana.
Lalu, mereka ini sebenarnya apa?
Xu Li memikirkan itu sepanjang jalan menuju parkiran zona B. Begitu keluar dari lift dan berjalan sebentar, tiba-tiba seorang gadis muda mengejarnya, lalu dengan suara pelan dan ragu bertanya, "Kamu Xu Li, ya?"
Lamunan Xu Li langsung buyar, alarm dalam hatinya menyala. Ia refleks menurunkan suara dan menyangkal, "Bukan, kamu salah orang."
"Ah? Maaf, tadi aku lihat dari belakang mirip sekali Xu Li, kukira ketemu seleb beneran!" Gadis itu kelihatan berusia sekitar dua puluh tahun, wajahnya langsung kecewa setelah Xu Li menolak.
Xu Li tersenyum, lalu bicara asal, "Tak apa, dari belakang memang agak mirip, tapi aku bukan dia. Aku juga tidak secantik dan sekeren dia."
"Memang sih, kalau benar Xu Li, mana mungkin sendirian. Lagipula... gaya berpakaiannya juga lebih bagus, lebih berkelas dari kamu."
Sudut bibir Xu Li seketika berkedut. Entah kenapa, mendengar itu ia sama sekali tidak merasa senang.
Hari ini ia memang berpakaian sederhana dan low profile.
Hanya mengenakan tank top rajut garis hitam putih, celana jeans kulot abu-abu muda, topi baseball hitam di kepala, rambut panjang hitam terurai santai di bahu, masker hitam dan kacamata cokelat menutupi hampir seluruh wajah mungilnya.
Ia menunduk, melirik pakaiannya. Apa benar gayanya jelek?
Ah, tidak! Jelas-jelas gadis itu saja yang tidak punya selera.
Bukan cuma tak punya selera, tapi juga kurang sopan.
"Eh, maaf, bukan maksudku begitu..." Meski Xu Li memakai kacamata, gadis itu sadar tatapan Xu Li mulai dingin, menyadari ucapannya kurang sopan lalu buru-buru meminta maaf.
"Tidak apa-apa, kamu benar, Xu Li memang berkelas dan punya pesona. Soal wajah, dia memang luar biasa, bahkan empat ribu tahun sekali pun susah ketemu yang seperti dia. Orang biasa mana bisa dibandingkan?" Xu Li tersenyum lebar, memuji diri sendiri tanpa ragu.
Melihat lift kedua sudah sampai, Xu Li pun tak mau berlama-lama, khawatir semakin lama malah dikenali orang. Ia hanya mengangguk pada gadis itu lalu segera pergi.
Cahaya di parkiran bawah tanah memang redup, dan sekeliling penuh mobil. Xu Li meneliti sekitar, tapi tak menemukan mobil Bentley yang sudah dikenalnya.
Baru saja hendak menelepon Shang Yan, tiba-tiba sebuah mobil G-Class hitam berhenti di depannya. Jendela kursi penumpang perlahan turun separuh, dan di balik kacamata gelap, terpampang wajah pria tampan berwajah tegas yang sangat dikenalnya.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Xu Li tersenyum, membuka pintu belakang lalu meletakkan koper kecilnya, kemudian membuka pintu depan dan duduk di samping pengemudi. Jendela pun naik kembali.
Shang Yan menatap pundak dan lengan Xu Li yang terbuka, ramping dan sangat putih. Setelah melihat Xu Li melepas kacamata dan masker, menampakkan wajah cantiknya dan garis rahang yang mulus, ia sedikit mengernyit.
Ia melepaskan sabuk pengaman, membuka jas hitam dan melemparkannya ke Xu Li, lalu mengenakan sabuk pengaman lagi dan menstarter mobil. "Pakai ini."
"Aku tidak kedinginan." Xu Li menatap jas hitam itu dengan bingung.
Awal musim panas di Ibu Kota memang belum terlalu panas. Di tempat teduh malah kadang terasa dingin, memakai jaket tipis masih nyaman. Pakaian Xu Li hari ini memang agak terbuka karena ia baru pulang dari Nanan, yang udaranya jauh lebih panas. Di sana, bulan tiga atau empat saja orang sudah pakai baju pendek dan menyalakan kipas angin.
"Iya," jawab Shang Yan datar, "pakai saja."
Suaranya tak keras, tapi nadanya jelas memerintah dan tak bisa dibantah.
Xu Li cemberut, tapi tetap mengenakan jaket itu di pundaknya. Seketika, aroma pinus yang familiar langsung menyelimutinya.
Ia memasang sabuk pengaman, lalu bertanya penasaran, "Kenapa kamu yang nyetir? Mana Asisten Chen?"
Dahi Shang Yan kembali berkerut, ia melirik Xu Li dengan ekspresi agak gelap. "Kamu mau ketemu dia?"
Masih ada satu bab lagi yang tertahan, harus menunggu persetujuan siang hari, ya. Teman-teman, tolong sabar sebentar lagi. Cium sayang.