Bab 7: Rencana Rumah Baru

Setelah menikah secara tiba-tiba, identitas rahasia suami dari keluarga kaya tak lagi bisa disembunyikan Sepanjang jalan bermekaran 1705kata 2026-02-08 23:38:57

Mendengar soal membeli mobil, Meng Ning cukup terkejut. Mobilnya memang rusak, dan semalam suaminya yang dinikahi secara mendadak itu sama sekali tidak membicarakan soal itu. Ia pun tak berharap banyak darinya. Namun hari ini, pria itu justru langsung menunjukkannya lewat tindakan nyata, bahwa ia peduli.

Sejak kecil, Meng Ning hanya hidup berdua dengan ibunya. Tidak ada sosok laki-laki di rumah mereka, jadi segalanya harus mereka tangani sendiri. Meng Ning tumbuh mandiri sejak usia dini. Keran air rusak, toilet, atau bohlam yang mati, semua ia perbaiki sendiri.

Ini adalah kali pertama ia merasakan ada seseorang yang melindunginya dari segala kesulitan. Seperti semalam, ketika pria itu memberikan payung, mengambil barang berat dari tangannya, berdiri di depan sebagai kepala keluarga, melindunginya dari hujan dan badai.

Meng Ning menoleh memandang suaminya. Mereka belum lama saling mengenal, ia belum benar-benar memahami sifat maupun kondisi keuangannya. Namun ia juga tidak ingin mengambil keuntungan dari pria itu.

“Tidak usah, mobilku masih bisa dipakai kalau diperbaiki. Jangan boros-boros,” ucap Meng Ning.

Fu Tingxiu sudah menduga ia akan menolak, lalu berkata, “Kau menikah denganku tanpa meminta apa pun, kalau sampai terdengar orang lain, aku juga kehilangan harga diri. Penghasilanku memang tak seberapa, tapi cukup untuk kebutuhan hidup. Selama ini aku juga menabung, membeli mobil bukan masalah.”

Andai Fu Boxuan mendengar, pasti akan mengaguminya. Soal kekayaan, bagi Fu Tingxiu, membeli mobil bahkan membeli gedung sekalipun hanya soal kecil.

Fu Tingxiu menggunakan harga diri laki-lakinya sebagai alasan. Meng Ning pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Setibanya di showroom mobil, Meng Ning tak berani melirik mobil-mobil mewah. Mobil yang biasa dikendarai Fu Tingxiu pun hanya seharga belasan juta, jadi ia memilih yang setara.

Akhirnya, Meng Ning memilih sebuah mobil dengan nilai terbaik, total harganya sebelas juta. Saat membayar, ia bersikeras membayar lima juta dari uangnya sendiri.

Uang lima juta itu ia kumpulkan selama setahun, dengan hidup hemat dan menahan diri.

Meski tampaknya Meng Ning lembut, ia sebenarnya sangat tegas. Fu Tingxiu pun tak bisa berbuat apa-apa selain menyetujui.

Tindakan ini membuat Fu Tingxiu semakin menghargainya.

Di antara wanita yang ia kenal, selain ibunya, hanya Meng Ning yang tidak tergiur dengan hartanya. Bahkan saat membeli mobil, Meng Ning masih sempat menawar dan meminta hadiah tambahan dari dealer.

Menurut Fu Tingxiu, uang sebesar itu bahkan tak sebanding dengan harga sepasang sepatunya. Namun beginilah hidup orang biasa. Meng Ning adalah contoh perempuan yang rajin dan pandai mengatur keuangan rumah tangga.

Saat membayar, Meng Ning memang merasa sedikit berat hati. Tapi saat mengendarai mobil barunya, perasaan itu langsung sirna.

“Mobil baru memang beda, baik tenaga maupun akselerasinya jauh lebih baik dari mobilku yang dulu,” kata Meng Ning dengan antusias. Mobil itu pun berwarna merah, persis warna yang ia sukai.

Di mata Fu Tingxiu, Meng Ning adalah wanita yang mudah merasa puas.

Melihat istrinya senang, sudut bibir Fu Tingxiu ikut terangkat, “Sekarang kamu sudah punya mobil baru, mau ajak aku keliling sebentar?”

“Dengan senang hati,” jawab Meng Ning sambil tersenyum. “Ayo naik, duduk yang tenang.”

Fu Tingxiu masuk ke mobil, memasang sabuk pengaman. Ini adalah kali pertama ia duduk di mobil yang dikemudikan seorang wanita.

Teringat anggapan bahwa pengemudi wanita sering ugal-ugalan, Fu Tingxiu pun bertanya, “Bagaimana kemampuan menyetirmu?”

Meng Ning langsung paham maksudnya, lalu tersenyum, “Kamu sudah beli asuransi?”

“Nanti akan kubeli, dan penerimanya akan kutulis namamu.”

Suasana di antara mereka terasa ringan dan menyenangkan. Meng Ning pun tak menyangka, ternyata Fu Tingxiu cukup humoris.

Meng Ning menyalakan mesin, membawa Fu Tingxiu berkeliling di sekitar.

Meng Ning mengemudi dengan stabil, dan saat menghadapi situasi mendadak pun ia bisa bereaksi cepat, tetap tenang dan percaya diri.

Fu Tingxiu terus memperhatikan istrinya. Meng Ning benar-benar mengubah pandangannya tentang pengemudi wanita. Tidak seperti kebanyakan komentar di internet yang menyebut mereka gugup dan ceroboh.

Fu Tingxiu lalu berkata, “Aktifkan navigasi ke Perumahan Kota Air.”

“Hah?” spontan Meng Ning bertanya, “Kita ke sana untuk apa?”

“Itu rumah barumu.”

Meng Ning terdiam.

Perumahan Kota Air memang tak jauh, bukan kawasan elit, tapi di ibu kota ini, dengan lokasi seperti itu, biaya sewa apartemen tiga kamar juga tidak murah.

Demi menghemat, ia dan ibunya bahkan hanya bisa menyewa apartemen di luar lingkar lima. Dengan penghasilannya, seumur hidup pun ia tak sanggup membeli rumah.

Ini adalah kali kedua Fu Tingxiu datang ke Perumahan Kota Air. Sebelum berangkat ke Kota A, ia meminta Fu Boxuan membantunya membeli apartemen bekas secara tunai. Isinya lengkap, bisa langsung ditempati.

Pagi tadi ia sempat datang untuk memastikan semuanya beres. Agar tidak ketahuan, ia membawa orang untuk mengganti sebagian perabotan dan membawa beberapa pakaian yang biasa dipakai.

Saat Meng Ning masuk ke rumah, kesan pertamanya adalah hangat dan rapi.

Ia cukup terkejut juga. Seorang pria lajang, tapi rumahnya bisa serapi ini?

Di dapur ada peralatan lengkap, mesin penghisap asap pun tampak pernah dipakai.

Meng Ning bertanya, “Apa biasanya kamu masak sendiri?”

Fu Tingxiu ikut melirik dapur. Selain peralatan masak yang baru dibeli, mesin penghisap asap memang sudah lama dan jelas pernah digunakan.

“Ya,” jawab Fu Tingxiu dengan wajah tenang, “Kadang-kadang memasak, tapi kalau sibuk biasanya tidak sempat.”

Laki-laki yang bisa memasak, menambah lagi nilai di mata Meng Ning.