Bab 2: Tak Menyadari Telah Salah Mengenali Orang
Melihat bahwa Meng Ning benar-benar hendak pergi, Fu Tingshu mengingatkan, "Kita tidak tukar kontak? Kalau nanti aku ingin mencarimu, harus ke mana?"
Meng Ning merasa canggung.
Barulah ia teringat, buru-buru mengeluarkan ponselnya dan mereka pun saling menambahkan sebagai teman di WeChat.
Fu Tingshu juga mengirimkan nomor teleponnya kepada Meng Ning, seraya berkata, "Kalau ada apa-apa, hubungi aku."
Itu adalah nomor pribadi Fu Tingshu.
"Ya," sahut Meng Ning sambil melirik sekilas layar ponsel Fu Tingshu. Ia melihat nama kontaknya diubah menjadi ‘Istri’.
Melihat dua kata itu, perasaannya jadi aneh.
Apa kini ia benar-benar sudah menjadi istri seseorang?
Awalnya ia hanya ingin menuliskan nama saja, namun melihat Fu Tingshu memberi keterangan ‘Istri’, ia ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menulis ‘Tuan Fu-ku’ pada kontak Fu Tingshu.
Setelah selesai mengganti keterangan, Fu Tingshu hendak menawarkan diri untuk mengantarnya, namun ponselnya tiba-tiba berdering. Kalimat yang sudah di ujung lidah pun berubah, "Hati-hati di jalan."
Meng Ning pun tak ingin mengganggunya lagi. Ia menahan taksi di tepi jalan dan pergi.
Fu Tingshu berdiri di pinggir jalan, mengawasi kepergian Meng Ning. Tak lama, sebuah Rolls-Royce berhenti di sampingnya. Seorang pria di dalam mobil menurunkan kaca jendela.
"Kakak, bukankah kau menunggu di kafe? Kenapa malah ke kantor catatan sipil? Aku meneleponmu tak diangkat terus. Jam enam nanti kau harus ke Kota A untuk tanda tangan kontrak dengan Direktur Lin. Tiket pesawat sudah dipesan, pesawat jam empat sore, kalau tidak ke bandara sekarang, takkan sempat."
Yang berbicara adalah Fu Boxuan, putra kedua dari Grup Shengyu.
"Aku sempatkan sebentar untuk mengurus surat," ujar Fu Tingshu sambil membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, suaranya dalam, "Ke bandara."
Fu Boxuan menyalakan mesin, sambil bertanya santai, "Kakak, surat apa yang kau urus?"
"Surat nikah."
Fu Boxuan terdiam.
Jawaban Fu Tingshu yang terdengar sepele itu hampir saja membuat mobil celaka.
Saking kaget, Fu Boxuan salah menginjak pedal, untung segera menginjak rem, sehingga terhindar dari bahaya.
"Kakak, kau bercanda? Kau bahkan tidak punya pacar. Ibu sudah mengenalkan begitu banyak wanita padamu, tapi tak satu pun kau minati. Ibu hampir saja mengira kau suka laki-laki. Ia bahkan sudah siap mencarikan beberapa pria untuk kau pilih. Lagipula keluarga kita berpikiran terbuka. Lagi pula, aku masih bisa meneruskan garis keluarga..."
"Kalau kau masih cerewet, uang jajanmu selama setengah tahun akan langsung dipotong."
Fu Boxuan langsung mengeluh, "Kakak, jangan begitu!"
"Setelah mengantarku ke bandara, tolong belikan satu unit rumah untukku. Tak perlu besar, tiga kamar tidur dua ruang tamu saja cukup."
"Kakak, untuk apa beli rumah sekecil itu? Di namamu sudah ada beberapa vila, apa belum cukup?"
Hanya dengan satu tatapan dari Fu Tingshu, Fu Boxuan langsung diam dan benar-benar menutup mulut. Ia pun tak terlalu memikirkan soal surat nikah itu, mengira kakaknya hanya bercanda.
Siapa pula yang lebih tahu apakah Fu Tingshu punya pacar atau tidak?
Masa iya, di jalanan sembarangan menarik perempuan untuk menikah?
Meng Ning pulang ke rumah. Begitu masuk, ibunya sudah siap dengan sapu bulu ayam dan langsung memarahi, "Meng Ning, sekarang kau sudah besar kepala, sudah bisa berbohong, ya? Dibilang pergi kencan buta, kenapa malah..." belum pergi.
Belum sempat sang ibu melanjutkan, Meng Ning sudah mengeluarkan buku nikah.
"Bu, aku sudah menikah," kata Meng Ning sambil membuka buku nikah dan menunjukkan pada ibunya. "Sekarang Ibu bisa tenang."
Sang ibu tertegun memandangi buku nikah itu.
Ia menjatuhkan sapu bulu ayam dari tangannya, lalu dengan tangan gemetar mengambil buku itu.
Ia melihat baik-baik. Pria di foto buku nikah itu ternyata cukup tampan. Setelah melihat namanya, Fu Tingshu?
Ia ingat, pria yang dikenalkan oleh situs perjodohan bermarga Fu, bukan Fu.
Atau jangan-jangan ia salah dengar?