Bab 3: Dia Telah Kembali
“Meng Ning, apa kamu mencari pembuat dokumen palsu, lalu asal-asalan membuat surat nikah palsu untuk menipuku?” Ibu Meng masih tidak percaya, berulang kali memastikan keaslian surat nikah itu.
Meng Ning menunjuk bagian stempel, lalu berkata, “Bu, ini dikeluarkan oleh Dinas Urusan Sipil, dijamin asli.”
“Lalu mana menantuku? Kenapa tidak dibawa ke sini biar ibu bisa lihat?” Ibu Meng melirik ke arah pintu, lalu berkata lagi, “Ibu hanya menyuruhmu kencan buta, supaya bisa saling mengenal dulu. Kenapa kamu malah langsung menikah? Kamu bahkan belum benar-benar mengenal dia.”
“Bukankah Ibu sudah menyelidikinya? Dia kerja di Grup Shengyu, usianya tiga puluh tahun, pekerjaannya bagus, penampilannya juga baik…” Meng Ning teringat beberapa detail saat bersama Fu Tingshu, lalu berkata, “Dia terlihat cukup ramah, kedua orang tuanya sudah tiada, tidak punya saudara, anggota keluarga sedikit, jadi tidak banyak masalah.”
Tak ada masalah mertua dan menantu perempuan, itu sudah cukup baik.
Butuh waktu lama bagi Ibu Meng untuk menerima kenyataan ini. Ia memegang surat nikah itu, sejenak tak tahu apakah memaksa putrinya menikah adalah keputusan yang benar.
Ia sangat paham, Meng Ning menikah karena terpaksa, demi membuatnya senang, sampai-sampai menikah dengan tergesa-gesa.
Ia sendiri mengidap penyakit, kanker, dan sampai sekarang masih merahasiakannya dari Meng Ning. Sejak hubungan Meng Ning yang terakhir gagal, putrinya itu tak pernah mau lagi menjalin hubungan dengan pria mana pun.
Ia khawatir, jika suatu hari ia meninggal, Meng Ning akan sendirian, tak ada yang merawat, tak ada yang membantu, tak ada yang menyayanginya.
Karena itu ia memaksa Meng Ning untuk kencan buta, mencari pria yang bisa diandalkan, agar putrinya punya keluarga.
Kini semuanya sudah terjadi, apa pun yang dikatakan sudah tak ada gunanya.
“Ning, ajak menantuku ke rumah, biar ibu lihat.” Ibu Meng duduk dan berkata, “Walaupun kalian sudah menikah, ibu tetap harus memastikan.”
“Baik, nanti aku tanya dia, besok kita makan bersama.” Meng Ning berkata, “Bu, aku harus keluar jualan, di luar panas, kesehatan ibu tidak baik, lebih baik istirahat saja di rumah, jangan pergi ke mana-mana.”
Setelah berulang kali mengingatkan ibunya, Meng Ning pun berangkat berjualan.
Meng Ning berjualan di pasar malam di Jalan Xingle, menjual beberapa kerajinan tangan, semua perhiasan kecil hasil buatannya sendiri.
Demi berjualan, ia membeli sebuah mobil van bekas, setiap hari mulai jam lima sore, baru selesai jam sebelas malam.
Kalau sedang ramai, sebulan bisa dapat sekitar sepuluh juta. Di kota besar seperti Beijing, untuk bertahan hidup tidak masalah.
Ia lulusan desain perhiasan, namun karena satu peristiwa beberapa tahun silam, kini tak ada satu pun perusahaan perhiasan yang mau mempekerjakannya, akhirnya ia memilih berbisnis sendiri.
Setelah stan jualannya siap, pasar malam mulai meriah. Di sela-sela kesibukannya, Meng Ning mengirim pesan pada Fu Tingshu: Ibuku ingin bertemu denganmu, besok ada waktu untuk makan bersama?
Pesan itu terkirim, namun tak ada balasan.
Tak lama kemudian, pembeli mulai berdatangan, Meng Ning pun sibuk melayani mereka, hingga lupa dengan pesan tadi.
Malam itu cukup beruntung, Meng Ning berhasil menjual barang hingga lebih dari empat ratus yuan, jam sebelas tepat ia pun tutup lapak.
Ia duduk di dalam mobil van sambil menghitung penghasilan hari itu, saat ponselnya berbunyi.
Fu Tingshu akhirnya membalas: Maaf, aku sedang dinas ke Kota A, beberapa hari lagi baru pulang. Nanti setelah aku pulang, aku yang atur urusan makan malam.
Bekerja di perusahaan besar, dinas luar kota adalah hal biasa. Meng Ning bisa memaklumi, ia membalas singkat: Baik.
Pulang ke rumah usai berjualan, selain bertambah satu surat nikah, kehidupannya tak ada bedanya dengan hari-hari biasanya.
Sampai-sampai, beberapa hari berikutnya, Meng Ning yang sibuk dari pagi hingga malam, benar-benar lupa bahwa kini ia punya suami.
Malam itu, ia baru selesai berjualan pukul dua belas, hujan turun, dan mobilnya mogok di depan rumah.
Meng Ning turun dari mobil sambil membuka payung, lalu memeriksa kerusakan. Ini bukan pertama kalinya mobil bekas itu bermasalah.
Tidak ada kerusakan besar, tapi masalah kecil kerap muncul. Meng Ning enggan membeli yang baru, sebuah mobil bekas saja sudah setengah tahun penghasilannya, jadi setiap kali rusak, ia hanya servis seadanya.
Setelah memeriksa sebentar, ia sadar harus membawanya ke bengkel lagi, yang berarti biaya ratusan ribu lagi, ia pun merasa berat di hati.
Jarak ke kompleks rumah masih seratus meter lebih, hujan semakin deras, malam sudah larut. Meng Ning terpaksa memarkir mobil di pinggir jalan, lalu membuka payung dan menuju belakang mobil untuk mengambil barang.
Ia harus membawa pulang semua perhiasan yang belum terjual, beberapa masih perlu diproses lagi, juga ada perhiasan milik pelanggan yang harus ia perbaiki malam itu juga.
Angin berhembus kencang, Meng Ning berjalan sambil membawa kotak besar, payung di tangan, tubuhnya sudah setengah basah, terlihat sangat kelelahan.
Meng Ning sama sekali tidak menyadari, di kejauhan, dari dalam sebuah mobil Rolls Royce, Fu Tingshu yang baru saja kembali dari Kota A menyaksikan semuanya.
Punggung Meng Ning tampak rapuh, seolah angin bisa menerbangkannya, namun ia tetap tegar, sebesar apa pun badai tak bisa menundukkan punggungnya. Payungnya terlepas tertiup angin, seluruh tubuhnya jadi basah kuyup, namun ia tetap melindungi kotak itu dan menunduk berjalan ke arah kompleks.
Ia adalah sosok kecil di kota ini, menghadapi badai seorang diri.
Fu Tingshu merasa tergerak, mengambil sebuah payung, lalu berkata pada sopir di kursi depan, “Ayo kembali ke rumah lama.” Setelah itu, ia turun dari mobil dan melangkah lebar menuju Meng Ning.