Bab 10 Menyerahkan Kartu Gaji

Setelah menikah secara tiba-tiba, identitas rahasia suami dari keluarga kaya tak lagi bisa disembunyikan Sepanjang jalan bermekaran 1517kata 2026-02-08 23:39:11

Fu Tingsyu memarkirkan mobil di depan rumah sakit dan menunggu, sementara Meng Ning membantu ibunya keluar dari rumah sakit. Fu Tingsyu pun turun dari mobil, membukakan pintu, lalu saat Meng Ning hendak masuk ke dalam, ia melindungi kepala wanita itu dengan tangannya, khawatir Meng Ning terbentur.

Perhatian sekecil itu tidak luput dari pengamatan ibu Meng, yang lantas menampakkan senyum puas di wajahnya.

Fu Tingsyu kembali ke kursi pengemudi. “Meng Ning, sekarang sudah pukul satu siang. Ibu mertua pasti juga lapar. Dokter sudah berpesan agar makan tepat waktu. Bagaimana kalau kita cari tempat makan dulu?”

Fu Tingsyu memang sangat perhatian, sampai-sampai Meng Ning pun tak sempat memikirkan hal itu.

“Baik, terserah kamu saja,” jawab Meng Ning.

“Baiklah.”

Fu Tingsyu menyalakan mobil. Setengah jam kemudian, mereka tiba di depan sebuah restoran Tionghoa yang sangat elegan.

Meng Ning melirik dekorasi restoran itu dan berbisik, “Tempat ini pasti mahal, ya?”

Baru saja ia membeli mobil, uang di tangannya sudah menipis. Biasanya demi berhemat, ia sangat jarang makan di luar. Jika pun harus ke restoran, ia akan menilai dari tampilan restorannya dulu. Kalau restorannya terlalu mewah dan megah, ia pasti tak berani masuk. Apalagi restoran ini berada di kawasan paling strategis di ibu kota, termasuk jaringan restoran ternama. Sudah pasti harganya tidak murah.

Fu Tingsyu tersenyum dan berkata, “Tak apa, sesekali saja. Hari ini pertama kali aku bertemu orang tuamu secara resmi, juga makan bersama untuk pertama kalinya. Tak masalah kalau kita makan yang enak sedikit. Kamu bahkan sudah menghemat biaya mas kawin untukku, jadi kali ini, jangan berhemat untukku lagi.”

Karena sudah sampai di depan pintu dan Fu Tingsyu berkata begitu, Meng Ning pun tak enak hati untuk menolak. Ia tetap mendampingi ibunya masuk ke dalam.

Fu Tingsyu sudah menyiapkan segalanya. Ia memesan sebuah ruang privat di lantai dua untuk mereka bertiga. Meng Ning sendiri tidak tahu bahwa restoran ini sebenarnya juga salah satu usaha keluarga Fu.

Setelah duduk, Fu Tingsyu berkata, “Scan kode di meja saja untuk memesan makanan. Mau makan apa, silakan pilih.”

Biasanya, setiap ruang privat dilayani setidaknya dua pelayan. Namun, karena khawatir Meng Ning tak nyaman, Fu Tingsyu meminta pelayan untuk keluar.

Ibu Meng memandangi dekorasi ruang yang megah, lalu menarik lengan Meng Ning dan berbisik, “Pesan dua hidangan saja sudah cukup. Lebih dari itu pasti tak habis.”

Sebenarnya ia khawatir soal harga yang terlalu mahal. Meskipun ini jamuan dari menantu, ibu Meng tetap merasa sayang uangnya.

Meng Ning mengangguk. “Iya, Bu, aku tahu.”

Mengingat pesan dokter, Meng Ning ingin ibunya bisa makan dengan baik. Namun, saat ia memindai kode dan melihat daftar menu, ia benar-benar ingin menarik Fu Tingsyu keluar saja.

Harganya mahal sekali—bahkan segelas air mineral saja harganya lima belas ribu. Air mineral merek Baishui yang biasanya tiga ribu pun tak pernah ia lirik, kecuali benar-benar kehausan, baru beli air mineral dua ribu.

Fu Tingsyu melihat reaksi Meng Ning dan langsung tahu apa yang dipikirkannya. Ia berkata, “Biar aku saja yang pesan.”

Meng Ning segera berkata, “Atau… kita cari tempat lain saja. Di sini terlalu mahal.”

Fu Tingsyu tersenyum santai, “Tak apa, aku punya voucher diskon. Seorang klien memberikannya. Kalau makan di sini bisa dapat potongan lima puluh persen, bahkan bisa minta nota untuk direimburse ke kantor.”

“Serius?” Meng Ning terkejut, menurunkan suara, “Bukankah itu sama saja memanfaatkan uang perusahaan? Kalau ketahuan, apa tidak masalah?”

Dulu saat bekerja di sebuah perusahaan, Meng Ning tahu banyak rekan yang melakukan hal serupa: mengambil nota dari luar untuk diganti uangnya oleh perusahaan. Belakangan perusahaan mengetahuinya dan memecat beberapa orang. Ia khawatir Fu Tingsyu juga akan terkena masalah yang sama.

Ia terkejut karena tak menyangka Fu Tingsyu, yang tampak begitu berwibawa, akan melakukan hal seperti itu.

Fu Tingsyu tertawa geli melihat reaksinya. “Aku cuma bercanda. Ada pantangan makanan? Bagaimana kalau pesan ikan?”

“Apa saja boleh,” jawab Meng Ning. “Ibu juga benar, pesan dua hidangan saja cukup. Tak mungkin habis.”

Ibu Meng pun menimpali, “Benar, Nak Fu, jangan pesan terlalu banyak.”

Fu Tingsyu tersenyum, “Baik.”

Karena tahu ibu dan anak itu pasti merasa sayang, Fu Tingsyu akhirnya hanya memesan empat hidangan utama dan satu sup, semuanya menu andalan restoran.

Meng Ning melirik harga-harganya. Walau bukan uangnya sendiri yang dibayar, tetap saja terasa berat di hati.

Tak lama kemudian, semua makanan terhidang. Fu Tingsyu berdiri, menuangkan teh untuk ibu Meng dan Meng Ning dengan sopan. Lalu, ia mengeluarkan sebuah kartu ATM dan menyerahkannya pada Meng Ning.

“Ini kartu gaji saya. Di hadapan ibu mertua, saya serahkan kartu ini padamu. Mulai sekarang, urusan keuangan keluarga kita akan kamu yang pegang.” Fu Tingsyu menoleh pada ibu Meng dan berkata, “Ibu, saya akan menjaga Meng Ning dengan baik. Saya tak akan membiarkan dia merasa tersakiti.”