Bab 31: Kudengar, Istrimu Kabur dengan Orang Lain?

Istriku adalah Legenda A Lin 2441kata 2026-03-05 00:55:29

“Ding dong!”

Pagi itu, suara lonceng pintu yang nyaring memecah keheningan. Dari dalam rumah, terdengar langkah kaki yang makin lama makin dekat.

Saat pintu terbuka, di hadapan Yang Hao berdiri seorang gadis muda yang cantik dan penuh semangat.

Gadis itu tak lain adalah si tukang makan kecil, Ling Xue’er.

Melihat Yang Hao yang berdiri di depan pintu sambil membawa kotak makanan, wajah Ling Xue’er langsung berseri-seri. Namun, pandangannya tak pernah lepas dari kotak makanan di tangan Yang Hao, hidung kecilnya yang mungil tampak bergerak-gerak, seolah berusaha menebak makanan lezat apa yang tersembunyi di dalamnya.

“Ada siomai udang kristal yang kamu mau di dalam!”

Seakan dapat menebak rasa penasaran Ling Xue’er, Yang Hao pun memilih untuk tidak bertele-tele dan langsung memberitahunya.

Mendengar hal itu, senyum di wajah Ling Xue’er semakin lebar, matanya yang bening memancarkan cahaya kegembiraan, persis seperti kucing yang mencium aroma ikan segar.

Ling Xue’er benar-benar tak menyangka, Yang Hao yang baru kemarin berjanji padanya, hari ini langsung menepatinya. Siomai udang kristal itu adalah salah satu dari beberapa makanan yang kemarin dia janjikan akan dibuatkan untuknya.

“Makasih, Kak Hao!”

Karena sepiring siomai udang kristal saja, pandangan Ling Xue’er terhadap Yang Hao langsung berubah, bahkan cara memanggilnya pun jadi lebih akrab.

“Mau masuk dulu sebentar?”

Sambil membawa kotak makanan, Ling Xue’er mengundangnya masuk.

Mendengar undangan hangat itu, Yang Hao sempat tergoda. Ia melirik ke dalam rumah beberapa kali, tak menemukan bayangan Lin Zijin. Walau Ling Xue’er mengundang masuk, tubuhnya tetap berdiri menghalangi pintu, tak seperti benar-benar berniat mempersilakan masuk. Setelah berpikir sejenak, Yang Hao pun mengurungkan niatnya.

“Lain kali saja, ya.”

Dengan sedikit kecewa, ia mengingatkan, “Jangan lupa, makan selagi hangat. Kalau sudah dingin, rasanya tidak enak lagi.”

Setelah menasihati dengan penuh perhatian, ia kembali melirik ke arah ruang tamu, namun Lin Zijin tetap tak terlihat. Dengan enggan, ia pun berbalik dan pergi.

Ling Xue’er hanya bisa menahan tawa geli saat melihat Yang Hao pergi, lalu ia masuk ke dalam rumah sambil membawa kotak makanan dan menutup pintu dengan ringan.

Usai mengantarkan sarapan pagi itu, Yang Hao pun tak punya kegiatan. Lin Zijin baru akan siaran langsung pada malam hari, sementara siangnya ia harus berlatih bersama Ling Xue’er, Lu Ziqi, dan Shen Muxi. Mereka pun tak punya waktu untuk memperhatikan Yang Hao, membuatnya menjadi orang yang paling santai hari itu.

Namun, Yang Hao tak lama menikmati waktu santainya. Ketika sebuah telepon masuk, ia sudah bisa menebak bahwa ketenangannya akan segera berakhir.

Tak lama kemudian, suara mobil terdengar dari bawah apartemen. Sebuah Range Rover mewah berhenti di depan gedung!

“Ayo naik!”

Dari lantai atas, Yang Hao sudah membukakan akses masuk untuk tamunya. Ia langsung menyapa seorang pemuda tampan yang turun dari Range Rover, mengenakan jas santai berwarna terang.

“Wah, hidupmu sekarang enak juga, ya!”

Begitu tiba di atas, pemuda itu menatap sekeliling dengan penuh minat, lalu berkomentar santai.

“Ngapain kamu tiba-tiba datang ke sini?” tanya Yang Hao sambil menuangkan teh, nada bicaranya terdengar malas-malasan, jelas ia tidak begitu senang dengan kedatangan tamunya.

“Kamu keterlaluan banget, sudah sampai di Tianhai, tapi nggak cari kami. Apa sudah kaya raya dan sekarang meremehkan teman-teman lama?” Meski nada Yang Hao tak bersahabat, pemuda tampan itu tampaknya tak peduli. Ia meneguk teh dengan santai, lalu menyambung, “Technya enak juga. Nanti kasih aku setengah kilo, ya!”

“Setengah kilo? Yang aku punya juga cuma beberapa ons, jangan mimpi!” Dengan tegas Yang Hao menolak permintaan temannya yang seenaknya itu.

“Cih, pelit banget sih kamu!”

Sudah terbiasa dengan sikap Yang Hao, pemuda itu tak tampak canggung sedikit pun meski permintaannya ditolak mentah-mentah.

Pria di hadapannya bukan orang asing bagi Yang Hao.

Namanya Zhang Tian, teman satu angkatan selama empat tahun kuliah, bahkan sekamar di asrama—sahabat sejati yang rela berkorban demi satu sama lain.

“Hao, kamu benar-benar nggak tahu diri, ya. Udah jadi pemegang saham terbesar di perusahaan, tapi nggak pernah muncul, semua kerjaan berat diserahkan ke aku yang cuma pegawai. Dasar kapitalis kejam!” Zhang Tian menyesap tehnya lagi, lalu mulai mengeluh tanpa henti.

“Kesian banget aku ini, tenaga kerja yang banting tulang bangun perusahaan buat kamu, sementara kamu udah sampai di Kota Tianhai pun nggak ngabarin sama sekali…”

“Udah, udah, jangan banyak alasan. Perusahaanmu itu, gratis pun aku nggak mau. Jangan harap bisa cari-cari alasan buat nggak bayar utang. Waktu itu kita sepakat, uangku cuma dipinjam sementara, bukan buat modal saham. Kalau sampai habis semua, aku yang rugi, kan? Uang yang kamu transfer dua bulan ini, anggap aja cicilan utangmu!” ujar Yang Hao sambil memutar bola matanya, jelas tidak menggubris keluhannya.

Setelah lulus kuliah, Yang Hao kembali ke Yanjing, sementara Zhang Tian yang asli Tianhai memilih mendirikan perusahaan sendiri di kota yang ekonominya maju itu.

Saat itu, karena kekurangan modal, Yang Hao membantu dengan meminjamkan sejumlah uang tanpa bunga.

Ternyata, Zhang Tian memang punya bakat bisnis. Tak lama setelah perusahaan berdiri, usahanya langsung berkembang dan meraih keuntungan besar berkat kerja kerasnya.

Begitu perusahaannya mulai untung besar, Zhang Tian malah mulai bermain-main dengan status utang itu. Bukan cerita klise soal teman yang menolak membayar utang, melainkan saat bisnisnya sudah lancar, uang yang dulu dipinjam dari Yang Hao malah diakui sebagai modal saham, lalu berdasarkan persentase, Zhang Tian membagi saham perusahaan untuk Yang Hao.

Yang Hao tahu betul, Zhang Tian melakukan itu karena menganggapnya sebagai saudara. Namun, Yang Hao yang tidak ingin mengambil keuntungan dari sahabatnya, tetap menolak. Tapi Zhang Tian tetap keras kepala; mau tak mau, statusnya secara resmi di perusahaan adalah pemegang saham minoritas, sementara pemilik sesungguhnya di balik layar adalah Yang Hao.

Karena Yang Hao tak suka jadi sorotan, Zhang Tian pun menyembunyikan identitasnya. Namun, semua orang di perusahaan tahu bahwa di balik Zhang Tian, ada seorang pemegang saham besar yang misterius.

Sejak perusahaan mulai menghasilkan laba, selama dua bulan terakhir Zhang Tian sudah mentransfer bagian dividen milik Yang Hao langsung ke rekening pribadinya, membuat Yang Hao jadi serba salah.

Karena itulah, obrolan di antara mereka tadi pun terjadi.

Mengesampingkan urusan bisnis, Zhang Tian yang tidak tahu malu langsung mengupas pisang dan memakannya sambil mengobrol dengan Yang Hao.

Sejak Yang Hao kembali ke Yanjing dan Zhang Tian sibuk membangun perusahaan, komunikasi di antara mereka jadi jarang. Kini, kesempatan bertemu ini membuat mereka berbincang panjang lebar.

Di tengah percakapan, Zhang Tian tiba-tiba menatap Yang Hao dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu, “Dengar-dengar, istrimu kabur sama orang lain?”

Nada suara Zhang Tian yang menyebalkan dan ekspresi wajahnya yang seolah minta dihajar membuat Yang Hao tiba-tiba merasa ingin ke dapur, mengambil pisau, lalu mengejarnya dan mengajarinya pelajaran.

———

PS: Dengan ini, perkenalkan sahabat sejati sang tokoh utama, Zhang Tian! Salah satu karakter penting akhirnya muncul! Terakhir, aku mau tanya, gaya penulisan seperti ini, terlalu pamer nggak, ya? Ada yang mau ngejar penulis pakai pisau nggak? Takut, nih~~~