Bab 23: Sudah Kubilang Jangan Sombong, Kini Kau Menuai Akibatnya
“Ayo pergi!”
Ketika Yang Hao sekali lagi keluar dari ruangan tadi, di atas kepalanya yang sebelumnya kosong, kini sudah bertengger sebuah helm tingkat tiga.
Banyak orang merasa helm tingkat tiga itu sangat familiar.
Cheng Ge menatap dengan seksama, sampai mulutnya mencong karena kesal.
Wah, bukankah itu helm yang tadi dipakai oleh Yang Hao?
Pada saat yang sama.
Di ruang siar langsung Lin Zijin, para penonton yang melihat kemunculan kembali Yang Hao, sebagian besar menunjukkan ekspresi seperti, “sudah kuduga.”
Setelah menyaksikan kelicikan Kakak Tukang Tipu, barulah mereka sadar bahwa jalan terpanjang yang pernah mereka lalui dalam hidup ini adalah jebakan-jebakan yang dibuat olehnya.
Anggap saja helm tingkat tiga itu sebagai pelajaran berharga!
Banyak penonton yang bersimpati pada Cheng Ge.
Tak lama, zona racun kembali menyusut!
Dua mobil, satu di depan dan satu di belakang, melaju menuju tujuan selanjutnya.
Sebenarnya, Yang Hao sangat tidak setuju harus berjalan bersama Cheng Ge dan kawan-kawannya. Namun karena ada Xiao Dongdong, dan ditambah kulit muka Cheng Ge setebal tembok kota, mau tak mau Yang Hao pun pasrah.
Yang Hao selalu meyakini satu prinsip: kepada sahabat harus sehangat musim semi, kepada Lin Zijin harus sepanas musim panas, kepada musuh harus sekeras angin gugur yang menyapu daun, dan kepada pembenci harus sedingin musim dingin yang paling kejam.
Tak diragukan lagi, dalam hati Yang Hao, Cheng Ge meski bukan musuh, jelas juga bukan teman.
Terus terang, Yang Hao memang tidak menyukai Cheng Ge.
Itu adalah naluri seorang pria.
Bukan karena merasa terancam—orang yang tak ada hubungannya, tidak akan sampai begitu—hanya saja dari pertemuan singkat itu, kesan Yang Hao terhadap Cheng Ge memang sudah buruk.
Setidaknya menurutnya, Cheng Ge bukan orang yang patut dijadikan teman dekat.
Berteman? Jelas tak perlu.
Meskipun Cheng Ge cukup populer di TomatTV, baik Yang Hao maupun Lin Zijin sama sekali tidak mempedulikannya.
Yang Hao memahami Lin Zijin, jadi ia tidak khawatir. Tak peduli seberapa keras Cheng Ge berupaya mendekati dan mengambil hati, semuanya sia-sia belaka.
Dengan karakter Lin Zijin, meski ia tak suka pada Cheng Ge, ia tak akan sengaja menentangnya, pun tak akan mengubah pendapatnya hanya karena rayuan palsu.
Sementara Yang Hao berbeda.
Selama tidak bermusuhan dengannya, siapa pun akan disambut dengan senyuman.
Tapi jika sudah membuatnya kesal...
Maaf saja, ia akan melakukan apa saja untuk membalas!
Lihat saja apa yang terjadi pada Cheng Ge barusan, bukankah itu bukti kalau Yang Hao memang berani melakukan hal tersebut?
Kalau tidak bisa menghajarmu, setidaknya bisa bikin kamu sebal setengah mati!
Kelicikan Yang Hao memang sudah mencapai puncaknya!
Tentu saja...
Kelicikan pun ada tingkatannya.
Ada yang membuat orang menggertakkan gigi, ada yang membuat orang tertawa getir, bahkan ada yang membuat orang ingin mati saja...
Cara licik apa yang digunakan, itu tergantung pada orangnya.
Strategi kelicikan yang lebih detail, akan dibahas di lain waktu.
Dalam permainan.
Cheng Ge menatap jeep yang melaju kencang di depan, teringat kejadian barusan, mendadak giginya ngilu.
Awalnya ia mengira Yang Hao hanyalah penonton biasa di ruang siar langsung Lin Zijin, jadi ia tak terlalu memperhatikan. Maka di lobi utama tadi, ia bicara sembarangan.
Mungkin karena itulah lawannya jadi tak senang, dan ia pun kena getahnya beberapa kali.
Semula Cheng Ge juga sempat kesal, kalau bukan karena menghormati Lin Zijin, sudah dari tadi ia tembak Yang Hao.
Namun tak bisa terang-terangan memberi pelajaran pada Yang Hao, bukan berarti ia tak punya cara lain.
Barusan, Cheng Ge memperhatikan permainan Yang Hao, dan sudah punya gambaran tentang kemampuannya. Kalau harus menilai, hanya ada dua kata yang cocok—benar-benar cupu!
Betul sekali, cupu!
Menurut Cheng Ge, kemampuan Yang Hao sungguh menyedihkan.
Turun jadi sasaran tembak, lari membabi buta, nyetir mobil malah terguling... selain jago looting dan cari mati, tak ada lagi keahliannya.
Kalau bukan karena rekan setimnya adalah Lin Zijin dan Lu Ziqi, mungkin Yang Hao sudah mati di game ini dalam waktu tiga menit—itu pun sudah termasuk waktu menunggu di lobby, naik pesawat, dan terjun bebas. Sisanya, cukup untuk membuat Yang Hao langsung jadi kotak barang.
Cheng Ge sudah bertekad, nanti ia harus menunjukkan kemampuan terbaiknya di depan Lin Zijin, supaya Yang Hao benar-benar tak ada apa-apanya.
Ia memang tak berani menyamakan diri dengan Lin Zijin, tapi menyingkirkan Yang Hao, itu pasti mudah baginya.
Ia ingin memperlihatkan pada Yang Hao, seperti apa pemain sejati itu.
Hanya pemain selevel dirinya yang layak jadi rekan setim Lin Zijin.
Apa yang dipikirkan Cheng Ge, tentu saja tak diketahui oleh Yang Hao. Lagipula, andai ia tahu pun, pasti hanya akan tertawa terbahak-bahak.
Dengan kemampuan seperti itu?
Benarkah ia mengira dirinya...
...
Perjalanan pun berlanjut ke barat!
Dua mobil kini sudah mendekati pinggir zona aman pertama, tak jauh lagi di depan sudah ada sekolah dan Kota R.
Pasti ada orang di sekolah dan Kota R, hanya saja tak tahu berapa yang masih tersisa setelah sekian lama.
Setelah membuka peta mini dan mengamati sejenak, Yang Hao pun berkata, “Kita hindari saja sekolah dan Kota R, kalau lewat sana naik mobil terlalu mencolok.”
Ucapannya didengar dengan jelas oleh Cheng Ge yang duduk di samping, yang langsung menyunggingkan senyum mencemooh, lalu berkata, “Kenapa harus menghindar? Langsung terobos saja, kamu laki-laki kok penakut banget? Kombinasi kita di game ini, siapa pun pasti bisa kita habisi!”
Mendengar ucapan Cheng Ge yang blak-blakan, Yang Hao langsung tahu lawannya sedang pamer kosong.
Menghadapi siapa saja tak gentar? Hah, Lin Zijin memang punya kemampuan itu, Yang Hao tak pernah meragukan, tapi peranmu apa?
Bahkan Lin Zijin sendiri tak pernah mengaku dirinya tak terkalahkan. Ini bukan pertandingan melawan bot, di rank tinggi yang isinya pro player, siapa pun bisa lengah.
Game ini, bukan hanya soal skill. Kadang, kalau memang apes, tiba-tiba saja meteor jatuh, sehebat apa pun pasti kalah.
Lagi pula, sejak kapan kalian satu tim?
Jelas-jelas mereka sendiri yang memaksa ikut dari belakang, masih saja bilang kombinasi, sungguh lucu...
Lebih-lebih, mereka juga tidak tahu situasi di sekolah dan Kota R. Sementara di sekitar sekolah, medan sangat terbuka, kalau nekat masuk pakai mobil, itu sama saja cari mati.
Bisa-bisa, baru masuk sebentar, mereka langsung jadi sasaran empuk. Mau cepat-cepat mati?
DOR!
Ketika Yang Hao hendak menyindir, tiba-tiba suara tembakan memecah ketenangan.
“Rongyao, Changyuan menggunakan Kar98K menembak kepala dan menjatuhkan Tomat, Firefox!”
Bersamaan dengan suara tembakan itu, di layar muncul notifikasi knock out.
Yang tertembak adalah rekan satu tim Cheng Ge, streamer Firefox dari TomatTV.
Melihat rekannya terkapar di tanah sambil memegangi perut dan menahan sakit, Yang Hao hanya bisa menghela napas.
Tuh kan, sudah dibilang, pamer kebanyakan malah kena batunya.
Keadilan memang tak pernah absen, hanya saja sering datang terlambat.
Karena itulah, urusan pamer macam ini memang sebaiknya dihindari, kalau tidak kena petir, ya tertembak.
Ia, sangat menghargai nyawa!
Bukankah ini contoh terbaik di depan mata?