Bab 62 Mengejar Impianmu
“Aku punya pelacakan satelit, aku tahu di mana kau sekarang.”
Mendengar ini, Yang Hao dan Yao Cheng saling melirik dengan ekspresi tak percaya, lalu tersenyum pasrah. Setiap gerakan mereka begitu kompak, seakan telah berlatih sebelumnya.
“Sialan, kau benar-benar mendengarkan omonganku atau tidak? Aku bilang, ponselku ada pelacakan satelit, jangan harap kau bisa memilikinya. Ini iPhone X, seumur hidup kalian pasti belum pernah lihat, kan? Dasar miskin, kuperingatkan, jangan punya pikiran lain. Aku anggota BEM, kalau kau berani bobol ponselku, aku pastikan kau tak akan betah di kampus ini...” Suara ancaman dari seberang telepon terdengar sangat mengganggu.
Yang Hao tak menghiraukan, langsung mematikan telepon dan memaksa ponsel itu mati.
“Haha, pelacakan satelit? Dia cukup sombong juga!” Yao Cheng tak bisa menahan tawa melihat aksi Yang Hao.
“Nih, ponsel kesayanganmu!” Yang Hao meliriknya sekilas, lalu menyodorkan ponsel itu ke tangannya.
Barusan, orang ini masih sempat berharap akan bertemu cinta sejati, tapi yang didapat malah penampilan sombong yang tak jelas juntrungannya.
Pelacakan satelit? Anggota BEM? Mau mengusir kami dari kampus?
Yang Hao hanya bisa menggelengkan kepala, orang aneh macam apa ini? Minta ponsel, tapi nadanya begitu arogan. Kalau orang lain yang menerima telepon seperti itu, jangankan dikembalikan, mungkin sudah dilempar atau bahkan dijual untuk beli baskom di pinggir jalan.
Baskom sepuluh ribu, kalau tidak ditukar sayang sekali!
Orang zaman sekarang, Yang Hao sendiri bingung harus bagaimana menilai!
Awalnya, Yang Hao memang berniat mengembalikan ponsel itu ke pos keamanan. Tapi, setelah menerima telepon seperti tadi, ia langsung mengurungkan niatnya.
Kenapa harus begitu?
Datang-datang menelepon, bukan bicara baik-baik, malah mengancam?
Kau pikir kau siapa?
Anggota BEM?
Jangankan kami yang sudah lulus, yang masih kuliah saja tidak akan bisa dibuat apa-apa oleh BEM.
“Bagaimana kalau kita lempar saja ponsel ini ke pinggir jalan, siapa pun yang mau silakan ambil. Katanya punya pelacakan satelit, ya silakan cari sendiri!” Melihat Yang Hao tampak berpikir, Yao Cheng sepertinya sudah menebak apa yang ada di benaknya, lalu mengusulkan.
Empat tahun hidup bersama, mereka sudah sangat paham satu sama lain. Dari ekspresi Yang Hao saja, Yao Cheng sudah tahu apa yang sedang ia pikirkan.
Meskipun mereka bukan tipe orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan, mereka juga tak sudi menjadi orang baik yang diinjak-injak.
Kalau orang sudah menginjak kepala kita, masih juga kita bantu kurangi kerugiannya, bukankah itu bodoh?
Ada banyak jenis kebodohan.
Ada yang membuat diri sendiri jijik.
Ada yang membuat orang lain jijik.
Ada juga yang dilakukan demi menyenangkan orang yang disukai.
Definisi kebodohan memang beragam.
Situasi, waktu, dan tempat berbeda, maka pengertian kebodohan pun berbeda-beda.
Seperti usulan Yao Cheng barusan, itu juga salah satu bentuk kebodohan.
Tapi kebodohan kali ini bukan membuat diri sendiri jijik, melainkan membuat orang lain jengkel.
Yang Hao memang sempat mempertimbangkan saran Yao Cheng, tapi akhirnya ia menggelengkan kepala.
Bukan karena merasa itu terlalu keterlaluan, melainkan rasanya itu masih terlalu ringan buat si pemilik ponsel.
Kalau begitu, malah bisa jadi menimbulkan masalah bagi orang baik lain di luar sana.
Sebagai orang yang selalu memikirkan orang lain, Yang Hao merasa ia harus lebih berhati-hati.
Melihat Yang Hao menggeleng, Yao Cheng tersenyum, kembali mengusulkan: “Kalau begitu, lempar saja ke sungai. Katanya punya pelacakan satelit, biar dia cari sendiri di dalam air.”
Usulan Yao Cheng kali ini lebih kejam.
Sekalipun ponsel itu benar-benar punya pelacakan satelit, setelah lama terendam air, pasti sudah rusak dan tak bisa digunakan lagi.
Mendengar saran itu, kilatan ide muncul di kepala Yang Hao, lalu ia berkata, “Apa Kakak masih di jalan? Tolong suruh dia belikan sesuatu untukku.”
Begitu tahu apa yang diminta Yang Hao untuk dibelikan Zhang Tian, mata Yao Cheng langsung berbinar, senyumnya makin lebar, dan ia memandang Yang Hao dengan rasa kagum.
Soal menjebak orang, memang jagonya si bungsu kamar mereka.
Tak lama kemudian.
Di tempat yang sudah disepakati, Zhang Tian datang dengan mobilnya.
Tetap dengan Range Rover tujuh penumpang yang sama seperti hari itu. Begitu mobil itu muncul, semua mata langsung menoleh, terutama para perempuan. Melihat Zhang Tian turun dari mobil, beberapa dari mereka hampir tak bisa melangkah.
Tak bisa dipungkiri, saat Zhang Tian turun dari mobil, ia memang terlihat menawan.
Wajahnya tampan, usahanya sudah cukup sukses, kaya dan punya selera, benar-benar pangeran impian banyak perempuan, terutama gadis-gadis muda yang baru mulai membayangkan masa depan.
Menyadari tatapan sekitar, Zhang Tian diam-diam merasa bangga, lalu pura-pura membenarkan kacamata berbingkai emasnya. Sekilas aura yang ia pancarkan hampir membuat beberapa gadis menjerit.
Sombong banget!
Melihat gaya flamboyan Zhang Tian, Yang Hao dan Yao Cheng hanya bisa menahan mual, serempak mengacungkan jari tengah sebagai tanda “penghormatan” tertinggi.
Di antara mereka semua, yang paling suka pamer memang dia!
Lihat saja kacamatanya, pasti sengaja dipakai hari ini, kan?
Yang Hao diam-diam mengeluh dalam hati.
Mereka tahu, Zhang Tian sebenarnya tidak rabun, pakai kacamata cuma demi terlihat lebih dewasa. Tapi kacamata emas mencolok seperti ini, baru kali ini mereka lihat.
Saat itu, Zhang Tian sama sekali tak sadar akan keberadaan Yang Hao dan Yao Cheng di dekatnya. Ketika melihat seorang perempuan cantik tersenyum padanya, ia pun kegirangan, siap-siap mendekat untuk berkenalan.
Melihat ini, Yang Hao dan Yao Cheng saling berpandangan, lalu diam-diam bergerak ke belakang.
“Sialan, siapa yang menarikku!”
Baru saja hendak mendekati gadis itu, tiba-tiba Zhang Tian merasa ada kekuatan besar menarik tubuhnya, membuatnya mengumpat kesal.
“Sial, aku sudah menduga kalian berdua biang keroknya.”
Tak lama, Zhang Tian sadar yang menyerangnya itu adalah Yang Hao dan Yao Cheng, ia pun tertawa kesal.
Tak butuh waktu lama, tiga sahabat yang lama tak bertemu itu pun berpelukan.
Sudah lama tak bertemu!
Itulah suara hati mereka saat itu.
Beberapa saat kemudian, setelah suasana tenang, mereka saling memandang dan tersenyum hangat, seperti dulu.
“Barang yang kuminta sudah kau bawa?” tanya Yang Hao sambil meninju bahu Zhang Tian pelan.
“Sudah!” jawab Zhang Tian, lalu bertanya heran, “Sebenarnya untuk apa sih? Aku sudah hampir sampai, tapi demi barang ini aku harus mutar jauh.”
“Hehe!” Yao Cheng terkekeh, lalu membisikkan penjelasan di telinga Zhang Tian.
Begitu tahu ceritanya, Zhang Tian pun tak habis pikir, “Sekarang masih ada orang aneh macam itu?”
“Yang lebih aneh pun ada,” jawab Yang Hao sambil berkedip.
Sembari berbicara, Yang Hao mengambil serangkaian balon hidrogen dari mobil Zhang Tian, lalu mengikatkan ponsel iPhone X itu di bawahnya.
Begitu dilepas, ponsel itu ikut terbang bersama balon-balon ke angkasa.
Melihat aksi Yang Hao, Zhang Tian dan Yao Cheng hampir tertawa terbahak-bahak.
Yang Hao ikut tertawa.
Awalnya ia ingin berbuat baik, tapi malah dimaki-maki tanpa alasan lewat telepon.
Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi? Memang sifatku begini, suka seenaknya!
Sekali lepaskan, biar ponsel itu terbang ke mana saja. Katanya bisa dilacak satelit, silakan saja!
Tak peduli seberapa besar amarahmu, tetaplah bicara baik-baik padaku.
“Lihat, balon!”
“Siapa yang melepas? Ada yang nembak cinta, ya?”
“Eh, itu di bawahnya apa?”
“Sial, itu ponsel, iPhone X lagi.”
“Siapa yang segitu kayanya, buang-buang iPhone X?”
Mendengar gumaman orang-orang di sekitar, Yang Hao, Zhang Tian, dan Yao Cheng hanya bisa tersenyum nakal.
Mungkin saja si pemilik ponsel yang menelepon tadi, kalau tahu apa yang dilakukan Yang Hao, pasti ingin membunuhnya.
Tapi, itu bukan urusan Yang Hao lagi.
Melihat balon dan ponsel yang makin menjauh, Yang Hao hanya ingin berteriak:
Pergilah, kejarlah impianmu!