Bab 88: Insiden Tak Terduga di Kantin
“Sudah selesai?”
Setelah menerima telepon dan kembali, Lin Zijin memandang ketiga temannya—Ling Xue'er, Lu Ziqi, dan Shen Muxi—yang duduk di depan komputer, lalu bertanya dengan suara pelan.
“Kalah.”
Lu Ziqi menoleh sejenak pada Lin Zijin dan menjawab.
“Hmm.”
Mendengar hasil itu, Lin Zijin tampak tak terkejut sama sekali. Seolah-olah, ia memang tidak terlalu peduli pada kemenangan atau kekalahan dalam permainan barusan.
Beberapa saat sebelumnya, Lin Zijin, Lu Ziqi, dan Shen Muxi sudah berhasil masuk ke babak final. Namun, pada saat paling krusial, Lin Zijin tiba-tiba pergi membawa ponsel.
Karena kehilangan pemain utama, saat diserang dua kelompok sekaligus, meski Lu Ziqi dan Shen Muxi sempat mengalahkan satu kelompok, mereka akhirnya tetap harus menelan kekalahan.
Padahal, seharusnya mereka bisa menang dalam permainan ini.
Siapa sebenarnya yang menelepon hingga membuat Kak Zijin begitu cemas?
Mereka bertiga sempat merasa penasaran. Namun, Lin Zijin tak menceritakan apa-apa, dan mereka pun tak berani bertanya sembarangan. Akhirnya, pertanyaan itu hanya terpendam di hati masing-masing.
“Nanti malam pesan makanan, kalian mau makan apa?” tanya Lin Zijin tiba-tiba, sambil menatap mereka.
“Mau pesan makanan?”
Mendengar perkataan Lin Zijin, Lu Ziqi dan Shen Muxi terlihat agak heran.
Bukankah selama ini urusan makan mereka sudah diurus oleh Yang Hao? Sejak pria itu muncul, mereka hampir tak pernah lagi memesan makanan dari luar.
Kenapa tiba-tiba Kak Zijin ingin pesan makanan hari ini?
Berbeda dengan rasa penasaran Lu Ziqi dan Shen Muxi, Ling Xue'er justru terlihat sedikit kecewa, “Kak Ziqi, apa Kakak bertengkar sama Abang Penipu? Aku kangen masakan dia.”
Sejak tahu julukan Yang Hao, Ling Xue'er memang selalu memanggilnya Abang Penipu. Berbeda dari Lu Ziqi dan Shen Muxi, Ling Xue'er yang doyan makan memang mudah “dibujuk”.
Setelah beberapa hari, Yang Hao berhasil membuat Ling Xue'er menjadi “orang dalam” di pihaknya. Setiap Lin Zijin butuh sesuatu, Yang Hao bisa segera mengetahuinya dan langsung memberikan perhatian.
Jika Yang Hao tahu Ling Xue'er membelanya, meski niat gadis itu hanya ingin makan masakannya, dia pasti akan sangat senang dan membalasnya dengan beberapa hidangan lezat.
Sekutu seperti ini memang layak dihargai, tahu cara membela diri.
Saat itu, tatapan Lu Ziqi dan Shen Muxi pada Ling Xue'er pun secara alami dipenuhi rasa iba.
Bocah ini, berani-beraninya secara terbuka membela pria itu di depan Lin Zijin, apa dia tidak takut?
“Dia ada urusan malam ini, jadi makan malam kita urus sendiri.”
Saat mereka berdua mengira Ling Xue'er akan kena omel, Lin Zijin hanya menjawab dengan suara datar.
Ling Xue'er tampak kecewa, jelas karena tak bisa makan makanan enak.
Setelah merasakan masakan Yang Hao selama beberapa hari, Ling Xue'er kini punya satu pemahaman: seenak apa pun makanan dari luar, tetap kalah lezat dibanding masakan Abang Penipu.
Tak bisa disangkal, pria itu memang terlalu hebat, bahkan urusan memasak pun dikuasainya.
Kalau Yang Hao tahu isi hati Ling Xue'er, pasti dia akan sangat puas, meski pura-pura rendah hati.
Bagaimanapun juga, diakui dan disukai orang lain karena keahlian memasak, adalah hal yang membahagiakan.
Tentu saja, jika orang yang memuji itu Lin Zijin, Yang Hao mungkin akan seratus kali lebih senang.
Bisa jadi, besok dia langsung masak hidangan lengkap ala istana kekaisaran.
Sementara Ling Xue'er hanya memikirkan makanan, Lu Ziqi dan Shen Muxi justru memikirkan hal lain.
Jangan-jangan, yang menelepon tadi itu Yang Hao?
Keduanya saling bertukar pandang, dan pelan-pelan menguatkan dugaan dalam hati.
Kalau saja telepon tadi bukan dari Yang Hao, kenapa Lin Zijin tahu pria itu ada urusan dan tak bisa pulang malam ini, lalu langsung mengusulkan pesan makanan?
Hanya penjelasan itu yang masuk akal.
Menyadari hal ini, hati mereka pun jadi lebih terbuka.
Selama ini, mereka sangat jarang melihat Lin Zijin terdistraksi saat latihan, apalagi sampai pergi seperti tadi.
Mereka selalu mengira bahwa di luar latihan dan pertandingan, Lin Zijin tak peduli pada apa pun.
Namun setelah kemunculan Yang Hao, mereka sadar, ternyata mereka salah.
Bukan berarti Lin Zijin tak peduli pada apa pun, hanya saja orang yang dia pedulikan itu baru muncul belakangan.
Sejak Yang Hao pindah ke dekat sini, mereka sering melihat Lin Zijin melamun menatap ke luar jendela.
Tak jauh dari sana, ada rumah tempat tinggal Yang Hao.
Di permukaan, Lin Zijin tampak tak peduli pada Yang Hao, tapi jika diperhatikan dengan saksama, sebenarnya ia selalu memperhatikan pria itu.
Hanya saja, ia tak pernah mengekspresikannya secara langsung.
Hal ini, kecuali Ling Xue'er yang polos, Lu Ziqi dan Shen Muxi sudah lama menyadarinya, hanya saja tak pernah diungkapkan.
Ada hal-hal yang sebaiknya pura-pura tidak tahu.
Ketika Lin Zijin kembali melirik ke arah rumah Yang Hao, Lu Ziqi dan Shen Muxi saling menatap, lalu tersenyum diam-diam.
...
Universitas Tianhai.
Yang Hao bersama Zhang Tian dan dua temannya sedang berjalan menuju kantin kampus.
Dulu, ketika masih kuliah, mereka sering mengeluh tentang makanan di kantin. Namun setelah lama tak makan di sana, kini mereka justru merasa rindu akan cita rasa kantin.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk makan malam di kantin kali ini.
Sebenarnya, yang mereka cari bukan sekadar rasa makanan kantin, melainkan suasana, kenangan, dan nostalgia.
Makanan di kantin adalah bagian dari memori dan kerinduan selama empat tahun masa kuliah.
Karena masih cukup awal dan layanan pesan antar makanan semakin populer di kampus, pengunjung kantin pun tak begitu ramai.
Merasakan kembali suasana khas kantin, mereka seolah kembali ke masa-masa kuliah.
“Brak!”
Dalam suasana harmonis itu, tiba-tiba terdengar suara keras.
“Kau buta, ya?!”
Bersamaan dengan suara itu, terdengar seruan marah seseorang.
Sekejap saja, hampir semua orang menoleh ke arah sumber suara.
“Maaf, maaf...”
Selanjutnya, mereka melihat seorang gadis kecil yang terus-menerus meminta maaf kepada seorang pemuda berpakaian rapi.
Makanan yang tumpah tadi berserakan di lantai, sementara sepatu olahraga putih dan ujung celana pemuda itu terkena kuah makanan.
Siapa pun bisa menebak apa yang baru saja terjadi.
Jelas, ini hanya kecelakaan.
Di kantin, insiden seperti ini hampir terjadi setiap hari.
Entah karena tak ingin memperbesar masalah, atau karena ingin berbaik hati, biasanya orang yang diperlakukan seperti itu, selama pihak lawan sudah minta maaf, tidak akan memperpanjangnya kecuali memang orang yang sangat temperamental.
“Maaf?”
Namun, pemuda itu jelas berpikiran lain. Melihat gadis di depannya merendahkan diri, ia malah mengejek dengan suara dingin, “Kalau maaf saja cukup, untuk apa ada polisi?”
“Maaf, bisakah kau tinggalkan nomor? Biaya cuci baju akan aku ganti nanti.”
Sambil menggigit bibir, gadis itu akhirnya menatap pemuda itu dan berkata demikian.