Bab Tiga: Beranjak Dewasa

O Jovem Mestre é Incomparável como o Jade Novo livro de You You Yao Bao 2179kata 2026-08-03 11:21:47

Pertumbuhan masa remaja senantiasa menyimpan jejak di antara jatuh bangun dua insan muda yang melangkah dari kampung halaman menuju tanah rantau. Bisikan pepohonan palem menyiratkan beban kedewasaan yang terlipat dalam seragam loreng latihan militer, sekaligus melayang di sela-sela awan di puncak perpustakaan. Dalam deru kereta musim panas yang berpadu dengan nyanyian tonggeret, sinar mentari musim panas tampak seperti mentega yang meleleh, teroles merata di atas jalanan batu padas.

Ke Baiting berdiri di samping kereta api tua berwarna hijau. Pandangannya menembus kerumunan orang yang riuh, lalu tertuju pada Qin Jiao yang tak jauh dari sana. Ia mengenakan gaun putih dengan ujung rok yang tertiup angin lembut, menyerupai kupu-kupu yang hendak mengepakkan sayap. Ibunya sedang membantunya merapikan barang bawaan sambil berpesan panjang lebar. Qin Jiao terus mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya.

Jari-jemari Ke Baiting tanpa sadar mengusap sampul buku "Ringkasan Sejarah Waktu" di saku samping tasnya. Sampul itu sudah agak usang; buku itu adalah bacaan kesukaan mendiang ayahnya. Sejak sang ayah tiada, buku ini menjadi sandaran jiwanya. Ia menengadah ke langit biru yang dihiasi gumpalan awan putih, sementara pegunungan di kejauhan tampak berderet seperti lukisan yang indah. "Baiting, ayo naik," suara ibunya memutus lamunannya. Ia menoleh menatap sang ibu yang wajahnya menyiratkan kecemasan, namun lebih banyak harapan. Ke Baiting mengangguk, mengangkat kopernya, dan mengikuti ibunya naik ke kereta.

Gerbong kereta dipenuhi aroma usang, perpaduan antara keringat dan mi instan. Ke Baiting menemukan kursinya lalu duduk. Ia menatap ke luar jendela dan melihat Qin Jiao juga telah naik dan duduk di samping jendela. Gadis itu sedang melamun menatap ke luar, sementara sinar matahari yang menyentuh wajahnya memberikan kilau keemasan pada siluetnya. Kereta mulai bergerak perlahan dengan suara gemeretak. Ke Baiting menyaksikan pemandangan di luar jendela perlahan mundur, memicu gejolak emosi yang rumit di hatinya. Ini adalah pertama kalinya ia meninggalkan rumah untuk kuliah di kota yang asing. Ia dipenuhi harapan akan masa depan, namun juga diselimuti sedikit keraguan.

Setelah perjalanan panjang, kereta akhirnya tiba di tujuan. Ke Baiting dan ibunya turun, lalu mengikuti arus manusia keluar dari peron. Begitu keluar, mereka langsung disambut oleh tim penyambutan mahasiswa baru yang memegang papan nama universitas sambil menyapa dengan antusias.

"Halo teman, selamat datang di Universitas XX," seorang senior pria berbaju merah menghampiri dengan senyum ramah. "Biar saya bantu bawakan barang bawaanmu." Ke Baiting merasa sungkan, namun segera berkata, "Terima kasih, Kak." Senior itu mengambil koper Ke Baiting dan menuntunnya masuk ke lingkungan kampus. Sepanjang jalan, sang senior terus menjelaskan situasi kampus, dan Ke Baiting mendengarkan dengan saksama.

Setibanya di gerbang kampus, Ke Baiting terkesima oleh pemandangan di depannya. Gedung perkuliahan yang menjulang, lapangan olahraga yang luas, dan taman yang indah; segalanya terasa begitu segar dan memikat. Senior itu mengantarnya ke bagian pendaftaran mahasiswa baru, membantunya mengurus administrasi, lalu mengantarnya ke asrama.

Asrama itu untuk empat orang, dan dua teman sekamar lainnya sudah tiba. Seorang pemuda berkacamata yang tampak santun berdiri dan menyapa dengan senyum, "Halo, namaku Lin Xiaoman, senang berkenalan denganmu." Seorang gadis berambut pendek yang tampak ceria juga berdiri dan berkata, "Aku Lu Yao, mulai sekarang kita teman sekamar!" Ke Baiting menyapa mereka dengan ramah lalu mulai merapikan barang-barangnya. Saat itu, terdengar langkah kaki di depan pintu, diikuti sebuah suara yang familier, "Permisi, apakah ini asrama 302?"

Ke Baiting menoleh dan terkejut melihat Qin Jiao. Wajahnya tampak sedikit tegang sembari menarik koper besar. Ke Baiting segera berdiri dan berseru, "Qin Jiao, kamu juga tinggal di sini?" Qin Jiao melihat Ke Baiting dengan ekspresi terkejut yang gembira, "Baiting, tidak menyangka kita akan jadi teman sekamar!" Lin Xiaoman dan Lu Yao saling berpandangan, lalu tertawa, "Ternyata kalian sudah saling kenal? Baguslah, suasana asrama kita pasti akan sangat akrab."

Di hari-hari berikutnya, Ke Baiting dan Qin Jiao mulai beradaptasi dengan kehidupan kampus. Mereka mengikuti kelas bersama, makan bersama, dan pergi ke perpustakaan bersama. Hubungan mereka semakin erat. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka juga menghadapi tantangan kedewasaan.

Ke Baiting mendapati bahwa mata kuliah universitas jauh lebih sulit daripada di SMA, terutama fisika dan matematika yang sering membuatnya kewalahan. Ia mulai begadang untuk belajar, terkadang hingga pukul satu atau dua dini hari. Qin Jiao merasa iba melihat usahanya yang keras, sehingga ia sering membawakan camilan dan kopi untuk menyemangatinya agar tidak menyerah.

Sementara itu, Qin Jiao menghadapi masalah relasi sosial. Ia cenderung tertutup dan kurang pandai bergaul. Lu Yao di asrama sangat ceria dan suka mengikuti berbagai kegiatan organisasi, sementara Lin Xiaoman lebih suka membaca buku dengan tenang. Qin Jiao terkadang merasa tidak cocok dengan mereka dan merasa kesepian. Ke Baiting menyadari perasaannya, sering menemaninya mengobrol, menghiburnya, dan mengatakan bahwa setiap orang memiliki karakter unik, dan selama bersikap tulus, ia pasti akan menemukan teman yang sefrekuensi.

Berkat dorongan Ke Baiting, Qin Jiao akhirnya memberanikan diri bergabung dengan klub sastra. Di sana, ia bertemu banyak teman yang memiliki kegemaran membaca dan menulis yang sama, sehingga perlahan-lahan ia menjadi lebih terbuka. Ke Baiting pun, melalui kerja kerasnya, mulai melihat peningkatan pada nilai-nilainya. Ia mulai mengikuti seminar akademik dan kegiatan penelitian untuk memperluas cakrawala.

Waktu berlalu, sekejap mata telah menginjak tahun kedua. Ke Baiting dan Qin Jiao telah melepaskan kepolosan awal mereka dan menjadi lebih dewasa serta percaya diri. Ke Baiting menunjukkan bakat luar biasa di bidang fisika; ia mengikuti kompetisi fisika mahasiswa tingkat nasional dan berhasil meraih juara pertama. Saat berdiri di atas podium, hatinya dipenuhi rasa bangga dan bahagia. Ia tahu, semua ini tidak lepas dari kerja kerasnya sendiri, serta dukungan dan dorongan dari Qin Jiao.

Qin Jiao juga meraih prestasi di klub sastra. Tulisannya sering diterbitkan di majalah kampus dan ia memenangkan juara kedua dalam kompetisi sastra universitas. Ia mulai mencoba menulis novel, menuangkan kisah masa remajanya ke dalam buku.

Pada suatu sore yang cerah, Ke Baiting dan Qin Jiao duduk di rumput kampus, memandangi pohon sakura di kejauhan. Bunga sakura berguguran, tampak seperti mimpi yang indah.

"Qin Jiao, terima kasih karena selalu menemaniku," ucap Ke Baiting pelan. "Tanpamu, mungkin aku tidak akan mencapai prestasi hari ini." Qin Jiao tersenyum, "Tidak perlu berterima kasih. Kamu juga selalu menemaniku, menjadikanku lebih tangguh dan percaya diri."

Keduanya saling menatap dan tersenyum, hati mereka dipenuhi kehangatan dan rasa haru. Mereka tahu, di hari-hari mendatang, mereka akan menghadapi lebih banyak tantangan dan peluang bersama, serta bersama-sama memancarkan cahaya masa remaja mereka.

Waktu mengalir seperti air. Ke Baiting dan Qin Jiao telah menghabiskan masa-masa indah di kampus. Mereka saling mendukung dan menyemangati di jalan menuju kedewasaan, menuliskan bab masa remaja mereka dengan keringat dan kerja keras. Layaknya bunga iris di kampus yang mekar di bawah sinar mentari, mereka memancarkan cahaya yang paling indah.