Bab 35: Paman Tampan
Awalnya, Chen Jie merasa sebaiknya ia mengajak Wei Kailin makan sebagai ucapan terima kasih. Namun, setelah mendengar ucapan Wei Kailin, ia baru menyadari bahwa ia benar-benar tidak memiliki satu pun pakaian olahraga. Hal ini memang tidak mengherankan, selama bertahun-tahun Chen Jie selalu menjalani hidup yang penuh pelarian, mana mungkin ia sempat mengikuti kegiatan olahraga. Lemari pakaiannya hanya berisi baju formal dan pakaian santai.
“Jujur saja, aku memang tidak punya. Kalau begitu, terima kasih sudah mau menemaniku, Nona Cantik.”
“Jangan banyak bicara, nanti pulang kerja tunggu aku.”
Dengan begitu, sepulang kerja Chen Jie akhirnya punya kegiatan, tak perlu bosan pulang ke rumah sendirian. Namun, muncul masalah baru. Karena Wei Kailin belum terlalu mengenal dirinya, tidak mungkin Chen Jie membawa mobil mewahnya yang bernilai jutaan untuk sekadar makan malam dan jalan-jalan bersama Wei Kailin. Tapi jika naik mobil Wei Kailin, besok pagi ia harus ke kampus dengan apa? Mau naik taksi atau kendaraan umum, di kota sebesar Qibin, rasanya seperti sedang menjalani hukuman.
Namun, dipikir-pikir pun Chen Jie tak menemukan solusi. Ia pun memilih tidak memikirkannya lagi, setelah tidur siang, ia langsung pergi mengajar.
Pekan olahraga adalah salah satu peristiwa penting bagi para mahasiswa dalam setahun. Tak heran banyak mahasiswa yang menunggu pelajaran sambil membicarakan hal itu. Namun, ketika Chen Jie masuk ruang kelas, semua langsung diam. Ini sudah menjadi kebiasaan refleks para mahasiswa tersebut. Selama ini, kelas mereka diampu oleh Zhou Meiqin, jadi ketika melihat Chen Jie, mereka tampak sangat bersemangat.
Seperti biasa, Chen Jie langsung memulai pelajaran tanpa basa-basi. Sejak pertemuan pertama, ia sudah meninggalkan buku pelajaran nasional dan mulai mengajar langsung dari karya “Permata Sastra”. Setelah lebih dari sebulan, banyak mahasiswa mulai memahami makna di balik kata-kata yang sulit dalam karya itu, sehingga kini mengajar menjadi jauh lebih mudah bagi Chen Jie.
Sebelum pelajaran usai, Chen Jie berkata dengan nada bersahabat, “Besok kita akan mulai pekan olahraga, jadi persiapkan diri kalian dengan baik dan istirahat lebih awal. Untuk para pria, jangan begadang menonton film dewasa, dan para wanita, jangan pergi ke klub malam. Aku tidak percaya tahun ini Fakultas Humaniora kita akan mendapat peringkat rendah lagi.” Setelah itu, kelas pun dipenuhi tawa dan tepuk tangan.
Sama seperti para mahasiswa yang harus mempersiapkan diri, Chen Jie pun merasa perlu bersiap. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali mengikuti pekan olahraga, apalagi malam ini ia harus menghadapi seseorang yang cukup sulit. Usai pelajaran, Chen Jie kembali ke kantor guru. Sudah waktunya pulang, sebagian besar guru sudah lebih dulu pergi. Saat itu, ia masih memikirkan masalah mobil, dan setelah berpikir lama, tetap saja tidak menemukan solusi.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Wei Kailin menelepon, “Hei, kenapa kau belum turun juga? Kalau bukan karena menunggumu, aku sudah sampai rumah sekarang.”
“Mana aku tahu kau menunggu di bawah? Aku segera ke sana.”
Chen Jie pun turun. Benar saja, mobil Volkswagen Beetle kuning itu sudah terparkir di sana. Ia masuk ke kursi penumpang di depan.
“Nah, sebutkan, mau traktir aku makan malam mewah apa?”
“Kamu benar-benar nggak malu ya? Atau mau coba makan daging naga?”
“Dasar mesum! Jangan harap aku luluh. Kudengar di Jalan Jingwei ada restoran Kanton yang enak, siapkan dompetmu, ayo kita berangkat!” Wei Kailin menekan pedal gas dalam-dalam dan mobil pun melaju.
Menurut Chen Jie, cara Wei Kailin ini cukup licik, tidak memberinya kesempatan untuk menolak. Namun, ia tidak terlalu peduli soal uang, toh bagi Chen Jie jumlah itu tidak berarti apa-apa.
Restoran Tongluowan terletak di lokasi strategis di Jalan Jingwei, khusus menyajikan masakan Kanton kelas atas. Kebetulan waktunya makan malam, Wei Kailin cukup kesulitan mencari tempat parkir. Setelah duduk di sofa lantai dua, Wei Kailin langsung merebut menu dan memesan enam hidangan: angsa panggang gaya Kanton, kwetiau sapi goreng kering, pare isi buah segar, kacang polong Belanda, cumi goreng tepung, dan satu piring daging asap. Chen Jie sampai melongo melihatnya. Setelah selesai memesan, ia menyerahkan menu pada Chen Jie, “Hei, dasar mesum, aku sudah pesan segini dulu, sisanya terserah kamu.”
Chen Jie ternganga, “Serius, Nona Cantik, segini saja tidak cukup? Apa kamu punya perut besi?”
“Udah, jangan banyak omong. Kalau nggak mau pesan, ya sudah.”
Sebenarnya, sebagai perempuan, Wei Kailin mana mungkin sanggup menghabiskan semua itu. Ia sengaja memesan sebanyak itu hanya untuk mengerjai Chen Jie. Pada akhirnya, sebagian besar makanan tetap dimakan oleh Chen Jie. Usai makan, Wei Kailin memanggil pelayan untuk membayar, “Dasar mesum, giliranmu yang bayar.” Sambil berkata demikian, ia menatap Chen Jie dengan mata besarnya yang bening, menunggu ia mengambil uang.
Harga makanan di sini memang mahal, total lebih dari tujuh ratus yuan. Chen Jie pun terlihat sibuk mengaduk-aduk saku bajunya, lama tak juga mengeluarkan uang, sampai pelayan mulai tampak gelisah. Wei Kailin mulai merasa bersalah, mengingat Chen Jie yang bahkan belum mampu membeli mobil, hanya mengandalkan gaji bulanan dari sekolah. Untuk hidup normal sih cukup, tapi makan malam seperti ini memang bikin iba.
“Hei, dasar mesum, ya sudah, kalau memang tidak bisa, biar aku saja yang bayar malam ini.”
Namun, saat itu juga Chen Jie dengan ekspresi jenaka mengeluarkan selembar uang lima yuan dan meletakkannya di meja. “Sepertinya memang harus kau yang traktir, uangku cuma segini.”
Rasa iba Wei Kailin langsung lenyap, ia bangkit dan bersiap pergi. Namun, tiba-tiba Chen Jie mengeluarkan kartu bank berwarna emas dari sakunya dan berkata pada pelayan, “Maaf, saya bayar pakai kartu.” Seketika, wajah pelayan berubah penuh hormat, membuat Wei Kailin heran.
Setelah keluar dari restoran, Wei Kailin membawa Chen Jie ke pusat perbelanjaan pejalan kaki di tengah kota yang tak jauh dari situ, tempat belanja paling populer di Qibin. Setelah memarkir mobil, Wei Kailin langsung mengajak Chen Jie masuk ke sebuah toko besar berlantai tiga yang menjual berbagai merek olahraga.
“Nih, dasar mesum, harusnya kamu bisa menemukan yang cocok. Kalau tidak ada, kita cari ke toko sebelah.”
Chen Jie mulai melihat-lihat pakaian, sedangkan Wei Kailin juga membantu memilihkan. Sudah lama Chen Jie tidak memakai pakaian olahraga, ia benar-benar tidak tahu model seperti apa yang cocok dipakai. Sampai lama pun ia belum menentukan pilihan. Sebaliknya, Wei Kailin begitu cekatan, ia langsung mengambilkan dua kaos, satu celana panjang olahraga, dan satu celana pendek olahraga.
“Dasar mesum, kenapa lama sekali? Coba saja yang ini!”
Dengan raut muka aneh, Chen Jie masuk ke ruang ganti. Biasanya ia memang selalu mengenakan pakaian santai bermerek mewah, tapi kebanyakan orang tidak mengenali merek-merek itu. Pakaian itu pun lebih menonjolkan sisi tampan Chen Jie. Namun, begitu ia mengenakan pakaian olahraga, bentuk tubuh yang indah dan otot-otot yang kuat langsung terlihat jelas. Begitu keluar dari ruang ganti, banyak gadis di sekitar langsung memperhatikannya.
Wei Kailin sempat terkejut, lalu tiba-tiba berkata, “Hmm, ternyata benar-benar paman yang tampan.”