Bab 69: Teman Sekamar yang Aneh
Meskipun dewasa ini isu homoseksualitas semakin sering dibicarakan di masyarakat, namun tidak semua orang memiliki kecenderungan tersebut. Awalnya, Liu Li sama sekali tidak terpikir ke arah itu, tetapi ketika Chen Jie menyampaikan hal itu dengan cara seperti tadi, justru membuat orang jadi berpikir lain. Liu Li pun buru-buru membela diri, "Siapa yang pikirannya sejorok kamu, sungguh tak pantas jadi seorang guru. Aku bilang ya, kalau selama kita satu kamar ada barangku yang hilang, aku pasti lapor polisi."
Memang benar, Chen Jie tadi agak cabul, tetapi ucapan Liu Li ini jelas sudah agak berlebihan. Bahkan Yu Guoping yang biasanya pendiam pun merasa tidak nyaman, "Pak Liu, jangan sembarangan bicara, kita semua rekan kerja, saya harap tidak mendengar ucapan tak bertanggung jawab seperti itu lagi." Namun Chen Jie malah tampak santai, "Tak masalah, Bu Yu. Hei, Nak, kalau ada barangmu yang hilang, aku ganti sepuluh kali lipat."
"Chen Jie, kamu memang aneh!" Liu Li berkata sambil merebut kartu kamar dan melangkah ke lift dengan kesal. Suasana yang awalnya penuh semangat mendadak jadi hambar karena kejadian ini. Namun sebagai orang yang terlibat langsung, Chen Jie justru tidak tampak marah, malah dengan santai mengeluarkan sebungkus rokok dan membagikannya pada rekan-rekan yang lain sambil bercanda.
Bisa ditebak, ketika Chen Jie menuju kamar dan mengetuk pintu, butuh waktu sepuluh menit hingga akhirnya Liu Li membukakan pintu. Begitu masuk, Chen Jie langsung tertawa, Liu Li sudah menguasai lemari pakaian dan memasang gembok kecil di sana. Ia pun berkata dengan nada lebih menohok, "Toh barangmu tak banyak, jadi aku pakai lemarinya. Lagipula, tempat tidur yang satu di bawah AC, aku tak suka kena angin, jadi kamu yang tidur di situ."
Entah kenapa, hari ini Chen Jie tampak sangat gembira, ia sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Dengan santai ia meletakkan ranselnya di atas tempat tidur, menutup jendela rapat-rapat, lalu menyalakan AC dengan kekuatan maksimal dan mengarahkan udara langsung ke tempat tidur Liu Li. Ia pun duduk santai di atas ranjang, menyalakan rokok.
Daerah wisata Gunung Fenghuang memang dikenal sejuk, jadi sebenarnya menyalakan AC tidak diperlukan. Ditambah dengan bau rokok yang menusuk hidung—sesuatu yang sangat tidak disukai Liu Li—ia pun jadi tak tahan lama-lama.
“Chen Jie, maksudmu apa sih? Sudah kubilang aku tak suka kena AC, sekarang malah merokok di kamar, sungguh tak sopan.”
Chen Jie pun tersenyum licik, “Lihat saja, kamu sudah banyak aturanku, aku cuma merokok satu batang saja. Lagipula, tak tahan bau rokok ya jangan hirup, buka saja mulut lebar-lebar.”
Liu Li jelas tak mampu beradu mulut dengan Chen Jie yang penuh akal dan dalih. Wajahnya memerah karena kesal, tapi ia tak mampu membalas. Dengan jengkel ia pun mengambil remote dan menyalakan televisi.
Menurut jadwal dari kampus, mereka akan menginap dua malam di sini—malam ini waktu bebas, besok mendaki Gunung Fenghuang dan malamnya berendam air panas di hotel, lalu lusa pagi akan berangkat pulang.
Sebenarnya Chen Jie berniat tidur lelap malam ini, namun sudah terlalu banyak tidur di bus, jadi ia tidak merasa mengantuk. Mau menonton TV, ternyata sudah lebih dulu dikuasai Liu Li, jadi ia terpaksa ikut menonton acara hiburan yang membosankan itu.
Tiba-tiba Liu Li bergumam, “Lumayan, gratisan, ya dipakai saja.” Ia mengambil kunci, membuka lemari, mengambil perlengkapan mandi, dan dengan hati-hati mengunci kembali lemari itu. Lalu ia membawa handuk dan perlengkapan mandi menuju kamar mandi.
“Tak kusangka kau punya kebiasaan aneh, selesai buang air besar langsung pakai handuk mandi,” goda Chen Jie.
Liu Li berhenti sejenak, menoleh dengan bangga, “Aku cuma takut saat mandi nanti kamu diam-diam menggeledah sakuku, jadi harus masuk kamar mandi dulu baru buka baju.” Alasan itu membuat Chen Jie hampir tertawa terpingkal-pingkal. Ia benar-benar tak habis pikir dengan cara pikir Liu Li, seolah-olah dirinya benar-benar seorang miliuner yang sakunya penuh uang dolar dan takut sekali dicuri.
Akhirnya Chen Jie bisa mengambil remot dan mengganti saluran TV. Ia benar-benar tak tahan menonton acara hiburan yang membosankan itu. Liu Li mandi selama empat puluh menit lebih, dan belum juga selesai. Barulah Chen Jie paham maksud gumaman Liu Li tadi—mungkin biasanya di rumah ia tak pernah mandi, jadi sekarang puas-puasin mandi gratis.
Beberapa saat kemudian, ponsel Chen Jie berdering. Rupanya ada pesan dari Zhou Meiqin. Ia sedikit terkejut, namun setelah dibuka, ternyata Zhou Meiqin mengajaknya jalan-jalan ke kota. Chen Jie kesal, ia membanting ponsel ke atas ranjang, dan menggerutu, “Sial, ide bagus begini kok baru diajak sekarang…”
Zhou Meiqin biasanya sangat pendiam dan tampak dingin, sehingga di kampus ia tidak punya banyak teman dekat. Satu-satunya yang agak akrab dengannya adalah Wei Kailin, yang usianya terpaut lebih dari sepuluh tahun lebih muda. Akibatnya, sampai sekarang kondisi keluarganya pun masih jadi misteri di kantor. Kali ini, kebanyakan orang memilih sekamar dengan teman dekat, sedangkan Zhou Meiqin cukup kesulitan mencari teman sekamar.
Untung saja, selama ini Yu Guoping memang tidak terlalu sering bergaul dengan bawahan, tetapi selalu memperhatikan Zhou Meiqin. Maka kali ini, Yu Guoping pun mengajaknya sekamar. Yu Guoping memang jarang berinteraksi langsung dengan rekan-rekan, namun ia sangat mengerti situasi di kampus. Sebenarnya ia tahu bahwa Li Dong punya niat jelek terhadap Zhou Meiqin, jadi mengajak Zhou Meiqin tinggal bersamanya adalah cara agar Zhou Meiqin tak perlu khawatir diganggu.
Zhou Meiqin meminta Chen Jie menunggunya di seberang hotel untuk menghindari gosip. Bila bukan karena bosan berada di kamar, dengan karakternya ia pasti tidak akan berani mengajak Chen Jie keluar lebih dulu.
Keluar dari hotel, Chen Jie melihat di seberang jalan berdiri seorang wanita matang mengenakan celana jeans gelap, kaos putih, sandal hak tinggi, dan membawa tas tangan kecil yang elegan. Meski tanpa riasan berlebihan, kecantikannya sungguh memukau.
“Bu Zhou, hari ini Anda benar-benar cantik. Jalan bareng Anda, saya bisa berbahaya nih,” ujar Chen Jie dengan gaya bercandanya.
“Pak Chen jangan bercanda, saya ini sudah tua,” jawabnya dengan suara merdu disertai senyum tipis. Andai saja Chen Jie bukan orang yang sudah banyak pengalaman dengan wanita, ia pasti sudah terpesona sepenuhnya.
“Kira-kira, kita mau jalan-jalan ke mana?” tanya Chen Jie.
“Katanya di pusat kota ada pasar, kita ke sana saja. Saya tidak mengganggu waktu Pak Chen, kan? Bu Yu tidak mau keluar, saya benar-benar bosan di kamar.”
“Anda ini terlalu sungkan, Bu Zhou. Saya juga sedang bosan, ayo kita pergi.”
Seiring waktu, Zhou Meiqin sudah mulai lebih santai di hadapan Chen Jie, bahkan sudah bisa bercanda. Meski begitu, ini pertama kalinya mereka jalan berdua, jadi saat berjalan di jalanan pun ia masih menjaga jarak.