Bab Dua Puluh Enam Kakak Tampan, Kamu Hebat Sekali, Mengetik Sangat Cepat!

Di kehidupan ini, aku tak akan pernah lagi mengecewakan sahabat masa kecilku. Nyanyian angin di pagi hari 5073kata 2026-02-08 23:35:43

Setelah urusan penting selesai, suasana hati pun langsung terasa lebih ringan. Suzelin membuka QQ miliknya—nomor lima digit—yang kalau dijual di masa depan pasti bernilai sangat tinggi.

Nomor QQ lima digit hanya bisa didaftarkan pada tahun 1998. Saat itu, warnet di Tiongkok masih sangat langka, dan biaya internet yang mahal sudah membuat banyak orang penasaran mundur teratur, sehingga pengguna internet pun amat sedikit.

Namun, Suzelin memang termasuk di antara gelombang pertama rakyat dunia maya. Ia tipe orang yang selalu tertarik mencoba hal baru, tak jarang rela mengorbankan apa saja demi sesuatu yang segar. Kondisi ekonomi keluarganya cukup baik, uang jajan dari orang tuanya juga tak sedikit. Memang, warnet dengan tarif empat puluh yuan per jam belum pernah ia coba, tapi begitu harga internet turun menjadi sepuluh yuan per jam, ia pun memberanikan diri masuk ke warnet pertamanya dan sejak itu jadi pelanggan tetap.

Kala itu, segalanya di dunia maya masih terasa sangat asing dan menarik baginya. QQ baru saja diluncurkan, ia pun langsung mendaftar untuk sekadar mencoba.

Kalau terlambat setahun, hingga 1999, hanya bisa dapat nomor QQ enam digit. Tahun 2000, yang tersedia tinggal nomor QQ tujuh digit.

Andai bisa hidup kembali di tahun 1998, Suzelin pasti akan mendaftar segudang nomor QQ lima digit. Nomor cantik di masa depan bisa dijual puluhan juta, bahkan yang kurang menarik pun tetap laku di atas sepuluh ribu.

Nomor QQ tujuh digit nilainya sudah tak seberapa, Suzelin pun tak tertarik menambah koleksi, meski investasinya tanpa modal, namun menunggu hasilnya terlalu lama.

Tampilan QQ edisi tahun 2000 masih sangat sederhana, murni hanya perangkat lunak komunikasi daring, jauh dari segala fitur mewah masa depan—tidak ada hewan peliharaan QQ, album foto, mencuri tanaman, musik, dan sebagainya—bahkan fitur tanda tangan QQ pun baru muncul di versi 2001.

Saat ini, perangkat lunak chatting ini sepenuhnya gratis.

Suzelin tak kuasa menahan rasa nostalgia.

Sang burung penguin itu dulu begitu polos, bukan seperti raksasa teknologi di masa depan yang mengedepankan “top up untuk bahagia, kalau tak punya uang, silakan minggir!”

Baru pada versi 2002, penguin meluncurkan layanan berbayar pertamanya—QQ Show, tepatnya di QQ versi 2002 beta II.

Sebelum QQ Show hadir, pihak pengembang bahkan sempat mempertimbangkan untuk memungut biaya per chat. Untunglah QQ Show membawa pemasukan pertamanya, kalau tidak, siapa tahu apakah kerajaan penguin di masa depan akan benar-benar lahir.

Namun dibandingkan dengan QQ edisi 1998, versi tahun 2000 tetap membawa sedikit pembaruan, salah satunya fitur pesan ke alat BP.

Sesuai namanya, fitur ini memungkinkan pengguna mengirim pesan ke alat BP.

Pada masa itu, ponsel masih sangat mahal, banyak orang masih menggunakan alat BP. Tapi Suzelin bisa menebak, sembilan puluh sembilan persen dari kalian pasti belum pernah mencoba fitur tersebut.

Fitur avatar khusus belum tersedia, jadi QQ Suzelin masih menggunakan avatar klasik pria berkacamata hitam—dari gambar avatar saja sebenarnya bisa ditebak karakter penggunanya, seperti Suzelin yang memilih avatar ini jelas suka tampil keren.

Ini bukan avatar paling populer; laki-laki, terutama yang muda, lebih suka avatar pria rambut coklat yang terlihat lebih tampan, sementara avatar paling digemari para perempuan adalah yang berambut merah anggur—dua avatar ini mungkin menguasai hampir setengah pengguna QQ saat ini.

Tiba-tiba, jendela chat bermunculan, disertai suara peringatan batuk yang terus menerus, sederet avatar pun mulai berkedip.

Bagi yang baru bermain QQ, melihat pemandangan ini seperti mendapat suntikan semangat, rasanya sangat menggembirakan.

Namun, sebagai seseorang yang telah terlahir kembali, Suzelin justru tetap tenang.

Pesan-pesan itu hampir semuanya dari para gadis. Suzelin tentu tak pernah menambah teman laki-laki sembarangan. Pada masa ini, para pria yang suka menyamar jadi perempuan di dunia maya masih sangat sedikit, jadi identitas gender pengguna QQ biasanya sesuai dengan avatarnya.

Suzelin adalah tipe “jagoan sosial” seperti istilah zaman sekarang. Di dunia nyata saja ia bisa membuat ibu kantin tersipu-sipu, apalagi di dunia maya, ia benar-benar lincah.

Ia sangat terbuka dan pandai menggoda dalam obrolan, penuh jurus-jurus rayuan.

Orang lain, setelah menambah teman baru, biasanya membuka percakapan dengan,

“Hai!”

“Halo!”

“Kamu umur berapa?”

“Kamu cewek, kan?”

“Senang berkenalan!”

Dan seterusnya.

Setelah mengenal, pertemuan kedua biasanya seperti ini,

“Ada?”

“Di mana?”

“Kamu lagi apa?”

“Sudah makan?”

Dan seterusnya.

Kalau ingin mengumpulkan seratus cara membunuh obrolan, cukup cari pengguna QQ generasi awal sekitar tahun 2000-an untuk diteliti.

Biasanya, obrolan seperti itu tak berjalan lama, si gadis pun akan berhenti membalas.

Sedangkan gaya Suzelin sangat berbeda.

Baru saja menambah teman baru.

“Wah, hebat! Berhasil menangkap satu makhluk imut!”

Kalimat pembuka ini memang terdengar agak aneh dan norak, bahkan mungkin membuat lawan bicara mundur?

Tidak juga.

Dibandingkan sapaan hambar seperti “hai” dan “halo”, rayuan seperti ini justru lebih berkesan, langsung meninggalkan impresi mendalam pada para gadis.

Pada masa ini, banyak perempuan memang mencari sensasi saat mengobrol di dunia maya, dan di antara sapaan membosankan dan rayuan nakal, banyak yang lebih memilih yang kedua.

Lantas, kenapa tidak menyapa dengan “cantik” saja?

Karena panggilan itu terlalu umum. Semua perempuan dipanggil begitu, sudah terlalu biasa, tidak akan membuat senang, bahkan terasa hambar. Sebutan “makhluk imut” terasa lebih lucu dan akrab.

Tentu saja, ada juga gadis yang merasa pembukaan seperti ini terlalu genit dan memilih untuk tidak membalas.

Tapi itu tak masalah.

Kalau tak ada tanggapan, berarti lawan bicara kurang seru.

Tipe gadis yang kaku seperti itu peluangnya kecil untuk diajak bercanda, jadi tak perlu membuang waktu internet tiga yuan per jam yang berharga—langsung hapus saja.

Yang bisa menerima sapaan seperti itu dan masih mau lanjut mengobrol, hampir pasti bisa diajak main.

Suzelin menyebut teknik ini sebagai “menentukan target secara presisi”.

Selain itu, memilih nama akun juga sangat penting, ibarat menajamkan kapak sebelum menebang pohon.

Nama akun Suzelin adalah “Ganteng Sejak Balita”.

Terdengar kekanak-kanakan, bukan?

Namun di masa ini, nama seperti itu justru cukup trendi.

Kuncinya, nama seperti ini jelas membuat orang tak mengira kamu pria tua genit, melainkan anak muda yang penuh gaya, sehingga orang lebih mudah menurunkan kewaspadaan.

Muda itu modal, siapa sih yang tak suka anak muda?

Jika kamu sok dewasa dan memilih nama seperti “Angin Tak Membekas”, “Melebihi Diri”, “Terbiasa Sendiri”, seolah-olah penuh makna, orang lain justru sulit menebak umurmu dan mungkin langsung kehilangan minat.

Pilihlah nama yang menarik, tambah lebih banyak teman perempuan, tebarkan jala seluas mungkin, pasti ada yang mau diajak ngobrol santai.

Contohnya, ada seorang gadis yang membalas, “Hahaha, kamu lucu banget!”

Ganteng Sejak Balita: “Aku bukan cuma lucu, tapi juga ganteng!”

Gadis: “Cih, jangan terlalu percaya diri!”

Ganteng Sejak Balita: “Mau bagaimana lagi, bawaan lahir yang bagus tak mengizinkan aku minder. Aku benar-benar iri pada mereka yang tak tahu caranya narsis, beda denganku, hidupku selalu penuh pesona!”

Gadis: “Duh, aku nggak tahu kamu benar-benar ganteng atau tidak, tapi yang pasti kulitmu tebal banget!”

Ganteng Sejak Balita: “Kalau kulitku nggak tebal, gimana bisa melindungimu dari hujan dan angin?”

Gadis: “Hahaha, mulutmu manis banget. Kamu umur berapa?”

Ganteng Sejak Balita: “Kamu maksud umur yang mana?”

Gadis: “Ya umur, apalagi?”

Ganteng Sejak Balita: “Duh, aku sempat kaget, kupikir kamu langsung to the point.”

Gadis: “???”

Beberapa detik kemudian.

Gadis: “Dasar nakal!”

Ganteng Sejak Balita: “Oke deh, karena kita sudah akrab, aku kasih tahu ya. Jawaban dua pertanyaan itu sama-sama 17.”

Gadis: “Aku cuma tanya umur, bukan yang lain, dasar!”

Dan seterusnya.

Kalau sudah sampai obrolan seperti ini, sudah jelas lawan bicara juga cukup seru, gampang diajak main.

Tapi kadang juga ada tantangan.

Misalnya, pertemuan kedua secara daring.

Gadis: “Lagi apa?”

Ini salah satu trik membunuh obrolan, tapi hanya kalau dipakai cowok. Cewek punya hak istimewa.

Bagi sang perayu, ini ujian kecil. Kalau dijawab jujur, topik bisa jadi membosankan.

Jadi harus kreatif.

Ganteng Sejak Balita: “Aku lagi berdoa!”

Gadis: “Berdoa di warnet?”

Ganteng Sejak Balita: “Iya dong. Sebelum login QQ, aku berdoa supaya kamu online. Eh, ternyata doaku terkabul!”

Gadis: “Hahaha, masa sih ^_^”

Ganteng Sejak Balita: “Kalau aku bohong, semoga disambar petir!”

Gadis: “Oke deh, aku percaya!”

Ganteng Sejak Balita: “Ngomong-ngomong, makhluk imut, aku mau cerita sesuatu yang aneh. Tadi pagi waktu bangun, tiba-tiba aku merasa tubuhku bertambah tinggi semalam, sampai selimutnya jadi kurang panjang!”

Gadis: “Mana mungkin, nggak ada orang yang tiba-tiba tambah tinggi dalam semalam!”

Ganteng Sejak Balita: “Memang nggak mungkin, soalnya ternyata selimutnya dipakai menyamping!”

Gadis: “Hahaha, berani-beraninya kamu bohongin aku, dasar nakal!”

Ganteng Sejak Balita: “Aku dulu polos banget, nggak pernah bohong, semua gara-gara kamu nih, jadi harus tanggung jawab!”

Gadis: “Hahaha!”

Pertemuan daring ketiga.

Ganteng Sejak Balita: “Makhluk imut, aku tadi malam ke warnet. Jalan sendiri di malam hari, sekitaran gelap, tadi barusan aku takut banget!”

Gadis: “Lho, kamu bisa takut juga? Padahal aku kira kamu pemberani.”

Ganteng Sejak Balita: “Bukan takut apa-apa, cuma aku ini terlalu ganteng, takutnya orang lain nggak sempat lihat.”

Gadis: “Hahaha!”

Ganteng Sejak Balita: “Aduh, listrik di sini mati!”

Gadis: “Kalau mati listrik, kok masih bisa online?”

Ganteng Sejak Balita: “Soalnya aku lagi chat sama kamu!”

Gadis: “Terus hubungannya apa sama aku?”

Ganteng Sejak Balita: “Kamu terlalu jago bikin listrik, mungkin inilah kekuatan cinta!”

Gadis: “Hahaha!”

Dan seterusnya.

Lewat obrolan, kamu bisa mengenal tipe lawan bicara. Gaya ngobrol harus disesuaikan.

Kalau gadisnya tipe ceria dan terbuka, gunakan lebih banyak rayuan, kadang selipkan candaan dewasa, biasanya mereka suka seperti itu.

Kalau gadisnya sensitif dan melankolis, berikan lebih banyak kata-kata motivasi, mereka akan menganggapmu sahabat sejati.

Setelah QQ punya fitur kirim foto, cara meminta foto juga harus pakai trik.

Tak bisa langsung minta begitu saja, harus sedikit kreatif.

“Bisa kirim fotomu yang cantik nggak? Aku mau buktiin ke temanku bahwa bidadari itu nyata!”

“Aku semalam mimpi tentangmu, walaupun belum pernah ketemu, tapi di mimpi kamu cantik banget. Aku yakin itu kamu. Kirimin dong fotonya, biar aku tahu mimpiku benar atau tidak!”

Dan seterusnya.

Kalau sudah cukup akrab dan lawan bicara memang menarik, biasanya mereka mau mengirim foto. Tipe begini layak dipertahankan.

Jika menolak secara halus, Suzelin pun paham.

Setelah ngobrol lama, tiba-tiba putus kontak juga kurang sopan.

Tapi gaya obrolannya akan langsung berubah drastis.

“Ada?”

“Di mana?”

“Kamu lagi apa?”

“Sudah makan?”

Dan seterusnya.

Kalau lawan bicara tetap aktif menghubungi, balasannya hanya,

“Oh!”

“Baiklah!”

“Masa?”

“Hehehe.”

Dan seterusnya.

Beberapa kali saja, hubungan langsung merenggang.

Orang yang lebih blak-blakan, begitu tahu lawan bicaranya bukan gadis cantik, mungkin langsung hapus kontak.

Tapi Suzelin, meski suka bermain-main, tetap punya prinsip. Ia memilih dingin dan perlahan menjauh, agar tak melukai harga diri lawan.

Karena terlalu jago menggoda, begitu banyak gadis yang aktif menghubungi Suzelin, bahkan ada yang mengaku ingin datang ke kotanya.

Namun, di dunia nyata, Suzelin belum pernah bertemu dengan teman dunia mayanya.

Mungkin karena sejak kecil sudah terbiasa dengan kehadiran Qin Shiqing, teman masa kecilnya yang sangat cantik, standar selera Suzelin jadi tinggi. Ia merasa tak ada gadis dunia maya yang bisa menandingi Qin Shiqing.

Lagi pula, fitur kirim gambar di QQ saat itu belum ada, tak bisa minta foto, jadi tak tahu wajah lawan bicara.

Kalau benar-benar datang, bisa-bisa harus mengucap selamat tinggal dengan berat hati.

Ada seorang teman sekampus di kehidupan sebelumnya, setelah belajar teknik rayuan dari Suzelin, sukses besar di dunia maya: selama empat tahun bertemu puluhan teman dunia maya, semua perempuan yang mendatanginya.

Akibat terlalu asal, kadang-kadang harus menerima “kejutan” yang kurang menyenangkan, tapi temannya itu cukup sportif, meski sering kecewa, tetap menemani lawan bicara, layak disebut panutan cinta dunia maya.

Namun, terlalu jago menggoda pun kadang merepotkan, karena tiap kali online, selalu ada banyak gadis yang ingin ngobrol. Untungnya, di masa ini, kebanyakan gadis masih mengetik sangat lambat, sedangkan Suzelin yang sudah mahir mengetik cepat, bagaikan seorang legenda.

Dengan sepuluh jari menari di atas keyboard, ia dengan mudah berganti obrolan dengan banyak gadis, kadang sempat bermain kartu di platform daring atau menonton sesuatu.

Setelah mengobrol sepuluh menitan, datanglah seorang gadis. Rambutnya dikeriting besar, mata bulat dengan lensa besar—penampilan khas anak gaul masa itu.

Ia mengenakan atasan leopard ketat yang memperlihatkan perut, usia masih sangat muda tapi sudah berusaha tampil seksi.

Suzelin secara diam-diam menutup situs edukasi di komputernya.

Ada gadis di samping, tetap harus menjaga citra.

Saat itu, komputer di warnet tinggal sedikit. Namun, di sebelah Suzelin masih ada tiga tempat kosong.

Gadis itu sempat melirik Suzelin dua kali, lalu dengan sengaja duduk di komputer sebelah, menyalakan mesin.

Suzelin punya wajah bad boy yang menawan, tipe yang sangat disukai gadis gaul. Pilihan gadis tadi sudah cukup jelas: ia tertarik pada Suzelin.

Setelah login, gadis gaul itu mengenakan headset besar, membuka Winamp, lalu masuk ke QQ.

Kelihatannya ia masih amatir, mengetik sangat pelan, matanya terpaku di keyboard, mencari huruf satu per satu dengan telunjuk kiri dan kanan.

Butuh waktu lama untuk membalas pesan teman, lalu perhatiannya beralih ke Suzelin.

Ia melihat Suzelin dengan sebatang rokok di bibir, sesekali menghembuskan asap, tatapan fokus ke layar, jari-jarinya bergerak cepat mengetik, berpindah antar program dengan lancar.

Mata gadis gaul itu sampai terpana, belum pernah melihat “aksi” secanggih ini.

“Kak, kamu hebat banget, ngetiknya kenceng banget!”

Suzelin pun tertawa geli.

Ia sudah sering mendapat pujian.

“Kak, kamu hebat banget, jago main game!”

“Kak, kamu hebat banget, kuat minum!”

“Kak, kamu hebat banget, bawa Ferrari satu tangan!”

“Kak, kamu hebat banget, sudah dua jam lebih!”

Dan seterusnya.

Tapi baru kali ini Suzelin dipuji karena jago mengetik.

Ah, zaman memang sungguh berbeda!