019. Panen Tak Terduga

Dewa Ninja dalam Jagat Komik Amerika Murid Siluman 2437kata 2026-03-04 23:50:45

Terhadap jawaban Sawanda, Rog tidak merasa terkejut sedikit pun.

Begitu ia menyadari Sawanda sudah melunak, ia sudah tahu bahwa Sawanda pasti akan menyerahkan Erika kepadanya.

Wajah Rog tetap tenang, namun yang duduk di sisinya, Sang Iblis Malam Matt, serta Erika yang berdiri di sisi Sawanda, justru memperlihatkan ekspresi terkejut luar biasa.

Matt tercengang karena ia tidak pernah membayangkan bahwa organisasi Tangan, yang terkenal kejam dan keji, bisa menunjukkan sikap seramah itu.

Bahkan ketika orang yang duduk di hadapannya adalah salah satu dari lima pemimpin besar Tangan, yakni Sawanda, ia tetap merasa hal itu sungguh di luar nalar.

Ini adalah Tangan, organisasi yang bahkan penguasa dunia hitam macam Kingpin pun tak berani meremehkannya.

Tangan yang masyhur di dunia gelap karena kekejaman dan kebrutalannya, kini dengan mudah saja mengalah?

Matt pun mulai meragukan apakah prinsip yang ia pegang selama ini masih bermakna.

Selama ini ia mempertaruhkan nyawa untuk menegakkan keadilan, namun ternyata semua itu tidak ada artinya dibandingkan kekejaman Rog yang membinasakan tanpa ampun.

Konsep keadilan yang selama ini ia yakini, pada akhirnya kalah oleh cara paling sederhana—membalas kekerasan dengan kekerasan.

Sama seperti Matt, Erika yang semula berdiri tegak pun tidak mampu menahan tubuhnya bergetar setelah mendengar Sawanda menyerahkan dirinya begitu saja kepada Rog.

Setelah dicuci otak, organisasi Tangan menjadi satu-satunya keyakinan yang tersisa dalam hati Erika.

Mengetahui dirinya bukan tandingan Rog, ia pun melanggar perintah Murakami dan kembali ke atap gedung.

Ia tak keberatan berkorban demi Tangan, namun ia tak ingin organisasi tempat ia bernaung itu mengalami kerugian besar di sini.

Ia memang mempercayai Tangan, namun yang sungguh ia pedulikan hanyalah kelima pemimpin mereka.

Ia rela mati di sini, di tangan Rog.

Namun Sawanda dan Murakami tak boleh terluka sedikit pun. Karena itu, meski harus melanggar perintah, ia tetap kembali ke atap.

Ia ingin mengawal Sawanda dan Murakami keluar dengan selamat, dan setelah mereka aman, ia akan mengorbankan nyawanya untuk menahan atau membunuh Rog.

Tapi ia tak pernah menyangka, Sawanda yang selama ini ia anggap sebagai panutannya, begitu mudah menyerahkan dirinya kepada Rog.

Ternyata dalam pandangan mereka, dirinya sama saja dengan para ninja yang selama ini hanya dianggap alat.

Erika pun teringat pada para ninja Tangan yang ia anggap sekadar alat, teringat juga bagaimana ia memperlakukan mereka.

Semakin dipedulikan, semakin menyakitkan.

Walau Erika berusaha keras menahan getaran tubuhnya dan mengontrol emosinya, namun orang-orang yang hadir di sana jelas bukan orang biasa, sehingga keganjilan itu segera disadari oleh Rog dan yang lain.

Rog tidak bereaksi apa pun. Baginya, apakah emosi Erika stabil atau tidak sama sekali tidak penting, yang terpenting adalah penilaian sistem.

Sawanda pun demikian, ia tak menunjukkan ekspresi apa pun. Namun apakah benar ia tidak merasakan apa-apa, hanya dirinya sendiri yang tahu.

Dari ketiga orang itu, Matt-lah yang paling bereaksi.

Menyadari keganjilan Erika, Matt mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, segera bangkit dan menghampiri Erika, berusaha menghiburnya.

Namun saat kedua tangannya terangkat ke udara, ia terhenti. Ia tiba-tiba sadar, Erika yang ada di hadapannya kini bukan lagi Erika yang ia kenal dulu.

Selain itu, ia pun tak tahu lagi harus menggunakan identitas apa untuk menghibur Erika.

Mantan kekasih? Kakak seperguruan? Teman kuliah? Sesama warga New York?

Ketika Matt akhirnya duduk kembali di sofa dengan wajah sendu, Rog membuka halaman sistem penugasan, melirik sekilas, dan menemukan apa yang ia cari.

"Isi tugas: Membebaskan Erika dari kendali Tangan; Status tugas: Selesai; Hadiah tugas: 20 Koin Ninja telah dikirim!"

"Koin Ninja tersisa: 25!"

Koin yang langsung masuk membuat suasana hati Rog seketika membaik.

Karena sistem telah menyatakan tugas selesai, itu berarti Erika telah membuat keputusan akhirnya.

Soal apakah keputusannya lebih karena menjalankan perintah atau karena hati yang sudah benar-benar mati, hanya Erika sendiri yang tahu.

"Aku terima niat baik dari Tangan! Sebenarnya secara pribadi, aku tidak terlalu bermasalah dengan Tangan. Ini semua hanya urusan pekerjaan, kau mengerti maksudku."

Orang yang ramah tak layak dimusuhi. Melihat Sawanda tahu cara bersikap, Rog pun tak keberatan memberi muka padanya.

"Aku mengerti, dan aku bisa menjamin pada Tuan Rog, Tangan tidak akan mengungkit masalah ini lagi!"

Tak bisa disangkal, orang yang telah hidup selama ratusan tahun memang berbeda. Melihat betapa ramahnya Sawanda, Rog merasa ia sendiri belum tentu mampu bersikap seperti itu.

"Dan aku juga bukan orang yang tak mau mengalah. Dua tugas terakhir memang sempat membuat kalian rugi, khususnya karena salah satu orang penting kalian jadi korban. Jadi, sebagai permintaan maaf, jika nanti Tangan punya tugas yang cocok, aku bisa mempertimbangkan untuk menerima."

Mendengar ucapan Rog, baik Sawanda maupun Matt sama-sama tertegun.

Sawanda tak menyangka Rog benar-benar memasukkan Tangan ke dalam daftar kliennya.

Saat menyelidiki identitas Rog, Tangan sudah mengerahkan banyak upaya, termasuk mencari tahu orang-orang yang pernah menggunakan jasanya.

Karena itu, mereka tahu, Rog bukan tipe orang yang menerima semua tugas.

Dan yang lebih penting, setiap tugas yang ia terima, hasilnya selalu tuntas.

Mungkin tugas-tugas yang bisa diselidiki Tangan hanyalah sebagian kecil dari semua tugas Rog, namun informasi itu saja sudah cukup untuk membuat mereka menaruh perhatian.

Awalnya, Sawanda hanya berharap dengan melunak sedikit, Rog mau menghentikan aksinya. Namun kini, yang diperoleh Tangan jauh melebihi rencananya.

Meski Rog sangat selektif soal tugas, bahkan jika ia hanya menerima satu tugas saja dari Tangan, itu sudah menjadi keuntungan besar bagi mereka.

Berbeda dengan kegembiraan Sawanda, hati Matt justru semakin runyam.

Sejak awal Matt sudah tahu Rog bukan pahlawan seperti yang lain, tetapi ia tetap tak rela jika Rog sampai membantu atau bekerja sama dengan Tangan.

Namun Matt juga sadar, ia tak punya hubungan pribadi apa pun dengan Rog.

Apa pun yang ingin dilakukan Rog, tugas apa pun yang ingin ia terima, itu sepenuhnya hak pribadi Rog, meski kliennya adalah Tangan.

Sementara itu, Rog sendiri tidak terlalu memikirkan hal itu. Baginya, menjadikan Tangan klien bukanlah sesuatu yang aneh.

Ia bahkan pernah menerima tugas dari Kingpin, apalagi dari Tangan.

Asalkan tugas dari Tangan lolos penilaian sistem, maka Tangan boleh menjadi kliennya.

Soal apakah ia nanti akan mendapat cap pahlawan atau penjahat, ia sama sekali tak peduli.

Julukan pahlawan super memang terdengar indah, tapi harga yang harus dibayar tidaklah murah.

Setelah berbasa-basi sebentar, Sawanda tersenyum sambil menyerahkan sebuah kartu bank berisi lima juta dolar kepada Rog, lalu mengantarkan mereka sendiri sampai ke pintu utama gedung.

Adapun mayat para ninja yang berserakan di lobi lantai satu, saat mereka sedang berbicara tadi, sudah dibersihkan oleh orang-orang Tangan hingga tak bersisa sedikit pun, bahkan setetes darah pun tidak.