Bab 35: Kepala Naga di Dalam Cermin
Sakura Matou menatap Roland dengan kebingungan, hati-hati menggeser kepala lelaki itu agar ia bisa berbaring dengan lebih nyaman di pangkuannya. Ia tak memahami apa yang terjadi pada Roland, namun karena lelaki itu memerintahnya untuk menunggu, Sakura pun menurutinya.
Berpikir, meragukan, dan mengambil keputusan sendiri—logika semacam itu telah lama ditinggalkan dalam didikan Matou Zouken. Namun, semua ini tidak sepenuhnya salah kakek; Sakura adalah seorang anak yang telah dibuang.
—Tidak ada yang membutuhkan aku.
Itulah perasaan terbesar Sakura selama setahun terakhir. Sebelum dikirim ke keluarga Matou, ayahnya sudah dengan tegas melarangnya menggunakan nama Tohsaka; demi menghindari curiga, sekalipun bertemu ibu atau kakaknya, ia tak boleh mendekat.
Karena ia adalah anak keluarga Matou sekarang.
Sesampainya di rumah Matou, kenyataan yang kejam langsung menghadangnya. Zouken memang berjanji tak akan menyiksa secara fisik, namun secara mental, ia melakukan segala cara. Ia bahkan tak perlu menciptakan monster; cukup dengan menunjukkan realita yang ada.
Zouken menjelaskan alasan Tohsaka mengadopsinya secara gamblang, lalu menunjukkan masa depan Sakura di keluarga Matou. Juga, jika ia berani melawan, apa yang akan terjadi padanya.
Tak akan ada seorang pun yang menolong, baik orang tua, kakak, maupun siapapun. Saat itu, Sakura merasa dirinya sudah berdiri di tepi jurang, tinggal menunggu dorongan terakhir untuk benar-benar hancur.
Dan orang yang mendorongnya akhirnya, adalah Matou Kariya, pria yang sebelumnya ia gantungkan harapan.
Pria itu bilang akan mengembalikannya ke Tohsaka? Apa ia benar-benar tahu yang ia ucapkan? Sakura sudah mempelajari rahasia sihir keluarga Matou; bagi keluarga penyihir, meneliti warisan sihir sama saja dengan tak kenal kompromi.
Itu sesuatu yang bahkan anak kecil seperti Sakura pahami; keluarga Tohsaka tak akan menerima, pasti langsung mengembalikannya. Jika pun tidak, ia tak akan bisa hidup keluar kota, akan dipantau ketat oleh keluarga Matou, mencegah kebocoran rahasia.
Menjadi arwah tanpa masa depan, tanpa tempat bernaung.
Namun ia bahkan tak mampu menolak. Kebaikan yang naif itu telah benar-benar menjerumuskannya ke dalam jurang.
Hari itu, sang kakek mengumumkan satu fakta.
Pendidikan sihir keluarga Matou akan dihentikan baginya; jika Paman Kariya menang, ia akan mendapatkan kebebasan.
Akhirnya, tempat berlindung terakhirnya pun lenyap.
Di rumah Matou, Sakura adalah sosok transparan—tak ada yang berani bicara dengannya, tak ada yang mendekat, tak ada yang membutuhkan.
Sakura, selain namanya, tak punya apapun.
Di malam-malam awal, ia masih menyimpan dendam, bertanya-tanya mengapa ayah mengirimnya, lalu mulai menyesal mengapa bukan kakaknya yang terpilih.
Lambat laun, Sakura mulai mematikan perasaannya.
Ia tak sekuat kakaknya, tak sebaik kakaknya, dan juga tak seterbuka. Sifat aslinya sedikit nakal, namun demi mendapat pujian orang tua, ia selalu berusaha terlihat patuh.
Belakangan, Sakura bahkan menyesal tak melompat ke sarang serangga; setidaknya ia bisa memiliki identitas yang jelas, bukannya seperti sekarang, tak dibutuhkan siapa-siapa.
Tiba-tiba, sang kakek bilang akan mengirimnya pergi.
Untuk kedua kalinya ia dibuang, jejaknya di keluarga Matou benar-benar terhapus. Tapi, kalau dipikir positif, setidaknya ia masih diberi nama keluarga untuk dipanggil.
Sudah tak penting. Tak ada yang membutuhkan Sakura Matou; ia hanya akan menjalani hidup seperti biasa di lingkungan baru, lalu dibuang lagi.
Hingga datangnya cahaya pagi itu.
Pemuda asing itu berkata, “Aku membutuhkanmu.”
Sakura adalah milik Roland, tak akan diberikan pada siapapun.
Pernyataan yang keras dan mengerikan itu justru membuat Sakura bergetar. Ia akhirnya dibutuhkan, ia melihat harapan akan keselamatan.
Sekalipun menghadapi bahaya atau kematian, dibanding masuk ke sarang serangga, itu bukan apa-apa. Meski hanya sekadar dimanfaatkan, bisa mati sebagai Sakura Matou milik Roland sudah cukup baginya.
Sakura bersandar pada tubuh Roland; aroma yang ia hirup adalah sesuatu yang asing, aroma lelaki.
Saat Roland baru mendekat, tubuhnya sempat ingin mendorongnya, naluri kewaspadaan anak kecil di lingkungan asing. Namun segera, keinginannya mengalahkan semua itu.
Sejak meninggalkan keluarga Tohsaka, ia tak pernah berdekatan dengan siapapun seperti ini.
“Roland… sedang gemetar?”
Karena tubuh mereka saling bersentuhan, Sakura menyadari keanehan pada tubuh Roland.
Meski kehilangan kesadaran, tubuhnya tetap jujur memantulkan perubahan besar yang dialami Roland.
Ini adalah mukjizat yang melampaui sihir, sebuah pencerahan jiwa.
Walau tak mengerti, Sakura tahu Roland sedang dalam keadaan lemah.
Padahal sebelumnya, ia mampu berbicara ramah dengan kakek yang menakutkan, namun kini, melihat wajah Roland yang muda dan tak berdaya, Sakura sadar ia bukanlah orang dewasa yang matang seperti yang dikatakan.
Melainkan seseorang yang lemah dan membutuhkan perawatannya.
Kontras yang besar, dan pengakuan atas nilai dirinya yang ditemukan, membuat Sakura benar-benar tersentuh, mengguncang seluruh perasaannya.
Menunggu dan mendekatnya Roland adalah undangan tak bersuara bagi Sakura.
Melihat Roland yang sekarang, rasa syukur, hormat, serta sedikit ketakutan di hati Sakura berubah menjadi sebuah perasaan yang aneh.
—Ingin merawatnya.
“Ternyata Roland pun membutuhkan aku.”
Dengan wajah memerah, meski hanya menahan sebagian berat tubuh Roland, tubuh mungil Sakura tetap terasa pegal, namun ia tetap diam.
Ia menatap wajah Roland yang sangat dekat, mengulurkan jari, lembut membelai rambut Roland. Melihat tingkahnya yang aneh, entah mengapa, Sakura tersenyum kecil.
“Roland membutuhkan aku.”
Pikiran itu seolah menancap di benaknya, wajahnya bersinar lembut, penuh naluri melindungi.
“Sakura?”
Roland perlahan membuka matanya, kembali sadar. Ia memandang gadis di depannya, wajahnya berseri lembut, rambutnya terasa nyaman di kepala Roland yang berbaring di pelukan Sakura.
“Maaf, Roland, apakah aku membangunkanmu?”
“Tak apa, berapa lama aku pingsan?”
Roland memotong permintaan maaf Sakura, menyadari apa yang terjadi sebelumnya. Pandangannya pada Sakura kini lebih tulus; entah apa yang terjadi, ia merasa jarak terakhir antara dirinya dan Sakura lenyap.
Meski ia bingung bagaimana perasaan Sakura berubah secepat itu, Roland tahu ada hal yang lebih penting menantinya.
“Sakura?”
Roland mencoba bangkit, namun Sakura yang patuh malah terdiam, menatap wajahnya dengan kebingungan.
“Ah,” dipanggil Roland, Sakura baru tersadar, menatap wajah Roland seolah memastikan, lalu menjawab.
“Kurang dari dua menit, sepertinya.”
“Begitu?”
Roland tampak berpikir, bangkit dari sofa, berjalan ke cermin di sisi ruang tamu—cermin besar peninggalan pemilik lama.
Ia menyipitkan mata, menatap ke dalamnya.
Pakaian yang rapi dan sederhana, tangan yang pucat dan indah, lalu perlahan Roland melihat wajahnya sendiri.
Itu bukan lagi wajahnya, bahkan bukan wajah manusia, melainkan kepala naga yang agung, penuh aura misterius dan kuno, mulia serta berat.
Di dalam mata yang suram, cahaya merah seperti api masih membara, dingin dan menggoda.
Ia mengenal betul rupa itu, sebab kontrak roh yang melingkar di sarung pedang sebelumnya persis sama.
Roland memiringkan kepala, naga di cermin juga meniru gerakannya. Ia menyentuh wajah sendiri, rasanya seperti biasa, tak ada perubahan, namun bayangan di cermin benar-benar berbeda.
Fakta itu membuat Roland sadar, kekuatan Jiwa Sang Penguasa kini telah menjadi miliknya.
[Roh Kontrak: Jiwa Sang Penguasa]
Manifestasi: Bayangan di cermin akan menampilkan wujud jiwamu.