Terima kasih atas undangannya. Saat ini aku berada di Fuyuki, baru saja menjadi pengguna Stand, dan sekarang bekerja di sebuah minimarket di kawasan bisnis. Setiap hari paling lambat pukul delapan mal
Kunci Segala Makhluk. Itulah sebutan yang diberikan Roland pada cincin yang kini melingkar di jarinya. Sejak pagi ini, cincin perak nan mewah itu tiba-tiba saja muncul di tangannya. Karena rasanya seolah menyatu dengan kulit, kehadirannya nyaris tak terasa.
Ketika Roland akhirnya menyadarinya dan mencoba melepasnya dengan penuh rasa ingin tahu, ia segera menemukan keanehan cincin itu. Meskipun sudah ia letakkan di atas meja dan menutup pintu kamar, sepersekian detik kemudian cincin itu kembali melingkar di jarinya, seolah tak pernah lepas. Disimpan di dalam kotak terkunci atau dilemparkan ke luar jendela, hasilnya tetap sama—cincin itu kembali ke tangannya. Saat Roland masih pusing memikirkan cara mengatasi sang Kunci Segala Makhluk serta menebak-nebak apa fungsi benda yang tampak seperti cheat ini, jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
Dan setelah itu, ia tiba-tiba berpindah dunia.
Itulah mengapa Roland kini duduk sendirian di bangku dekat gerbang taman, hanya mengenakan kemeja tipis dan jaket tipis di saat orang-orang lain sudah memakai pakaian tebal musim dingin.
“Jadi, ini Jepang? Atau dunia paralel yang disebut-sebut itu?”
Dengan tenang, Roland mengamati sekeliling. Ia bukanlah mahasiswa pertukaran pelajar, namun papan nama di gedung-gedung tinggi dan tulisan Jepang di papan jalan dengan jelas menunjukkan lokasinya. Yang mengejutkan, Roland sama sekali tidak terkejut dengan kenyataan bahwa ia telah berpindah dunia.
Sebab, begitu ia tiba di dunia baru ini, di benaknya langsung muncul berbagai informasi dan kemampuan