Bab Satu: Kedatangan Pertama di Kota Fuyuki

Semesta Lintas: Bermula dari Ratu Pembunuh Burung kecil yang gemuk dan lembut 3650kata 2026-03-05 00:59:52

Kunci Segala Makhluk. Itulah sebutan yang diberikan Roland pada cincin yang kini melingkar di jarinya. Sejak pagi ini, cincin perak nan mewah itu tiba-tiba saja muncul di tangannya. Karena rasanya seolah menyatu dengan kulit, kehadirannya nyaris tak terasa.

Ketika Roland akhirnya menyadarinya dan mencoba melepasnya dengan penuh rasa ingin tahu, ia segera menemukan keanehan cincin itu. Meskipun sudah ia letakkan di atas meja dan menutup pintu kamar, sepersekian detik kemudian cincin itu kembali melingkar di jarinya, seolah tak pernah lepas. Disimpan di dalam kotak terkunci atau dilemparkan ke luar jendela, hasilnya tetap sama—cincin itu kembali ke tangannya. Saat Roland masih pusing memikirkan cara mengatasi sang Kunci Segala Makhluk serta menebak-nebak apa fungsi benda yang tampak seperti cheat ini, jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas siang.

Dan setelah itu, ia tiba-tiba berpindah dunia.

Itulah mengapa Roland kini duduk sendirian di bangku dekat gerbang taman, hanya mengenakan kemeja tipis dan jaket tipis di saat orang-orang lain sudah memakai pakaian tebal musim dingin.

“Jadi, ini Jepang? Atau dunia paralel yang disebut-sebut itu?”

Dengan tenang, Roland mengamati sekeliling. Ia bukanlah mahasiswa pertukaran pelajar, namun papan nama di gedung-gedung tinggi dan tulisan Jepang di papan jalan dengan jelas menunjukkan lokasinya. Yang mengejutkan, Roland sama sekali tidak terkejut dengan kenyataan bahwa ia telah berpindah dunia.

Sebab, begitu ia tiba di dunia baru ini, di benaknya langsung muncul berbagai informasi dan kemampuan yang dimiliki cincin Kunci Segala Makhluk itu.

Kunci Segala Makhluk bukan sekadar alat untuk melintasi dunia, tetapi juga bisa menganugerahkan berbagai kekuatan supranatural pada Roland. Alasannya memilih Roland pun sederhana: ia memiliki kualifikasi.

Kualifikasi di sini bukanlah kecerdasan, bakat, atau kepribadian Roland sendiri, melainkan kemampuan untuk menjalin kontak dengan sesuatu yang tidak diketahui di kekosongan. Singkatnya, inspirasi Roland sangat tinggi.

Kemampuan yang dalam kehidupan nyata tidak terlalu menonjol, bahkan cenderung berbahaya ini, justru menjadi alasan Kunci Segala Makhluk mengikat diri padanya.

Di dalam Kunci Segala Makhluk tersimpan banyak roh kontrak. Mereka pernah menjadi entitas istimewa—ada yang dulunya dewa kuno, ada yang manusia luar biasa, atau bahkan makhluk dari dunia lain. Kecuali beberapa pengecualian, kebanyakan roh kontrak itu kini berada pada kondisi setengah mati, nyaris tidak berbentuk jiwa.

Agar kekuatan mereka tetap ada namun kehendaknya terkikis, pemilik Kunci Segala Makhluk dapat membuat kontrak, membayar harga tertentu untuk mendapat kekuatan roh kontrak, dan setelah memenuhi syarat khusus, benar-benar menyerap mereka sehingga kekuatannya menjadi milik sendiri.

Namun pada dasarnya, Kunci Segala Makhluk hanyalah alat tanpa kesadaran. Tanpa pengguna, kekuatannya tidaklah lengkap, karena kontrak selalu membutuhkan dua pihak.

Dalam perjalanannya yang tanpa tujuan di berbagai dunia, mencari tuan sambil secara mekanis menciptakan roh kontrak baru, kadang ada roh kontrak yang karena suatu kebetulan, lolos dari penampungan dan tersebar di berbagai dunia.

Sebagai orang yang terpilih oleh Kunci Segala Makhluk, tugas Roland adalah mengumpulkan kembali roh-roh kontrak yang tersebar itu, meningkatkan statusnya, hingga akhirnya benar-benar menjadi pemilik sejati Kunci Segala Makhluk.

Dari berbagai aspek, Kunci Segala Makhluk benar-benar bisa disebut cheat yang luar biasa. Meski punya tujuan, itu bukanlah paksaan. Jika ia ingin bermalas-malasan dan hidup di dunia ini selamanya, itu pun tidak masalah.

Sebagai alat murni, Kunci Segala Makhluk tidak akan memaksa Roland menyelesaikan misi dengan ancaman hukuman. Pesan yang disampaikannya hanya memberitahu cara meningkatkan status saja.

Kecuali kejutan di awal ketika ia tiba-tiba dipindahkan ke dunia lain, Roland sangat puas mendapatkan cheat ini, toh di dunia asalnya pun ia tak punya sesuatu yang mengikatnya.

“Tapi, apa benar ini dunia lain?”

Roland agak canggung dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Karena letaknya di pintu masuk taman, cukup banyak orang berlalu-lalang. Penampilannya yang hanya mengenakan jaket tipis di antara orang-orang yang mulai mengenakan pakaian tebal membuatnya cukup mencolok.

Jika bukan karena usianya yang baru dua puluhan dan wajah mudanya yang masih seperti mahasiswa, mungkin jumlah tatapan penasaran yang ia terima akan jauh lebih banyak.

Setelah hampir setengah jam mengamati, Roland bisa menyimpulkan bahwa ini adalah dunia modern. Meski belum tahu perbedaan sejarah dan budayanya, dari segi teknologi, tampaknya sedikit lebih awal dari dunia asalnya.

Dilihat dari pakaian orang dan ibu-ibu yang menemani anak-anak bermain di taman, tampaknya tidak ada kemampuan supranatural yang dikenal masyarakat… setidaknya di permukaan.

“Bagaimanapun, sebaiknya aku kumpulkan informasi dulu.”

Roland berdiri dan berjalan ke dalam taman. Di bangku dekat taman bunga, seorang pegawai kantoran bersetelan jas sedang membereskan kotak bekalnya, lalu bangkit dan bergegas keluar taman.

Tampaknya ia tidak berniat mengambil surat kabar yang tadi ia letakkan sembarangan di sisi bangku. Meski Roland hanya pernah membaca koran saat kecil, ia tahu benda tipis itu dulu punya peran penting dalam dunia informasi.

Selama setengah jam tadi, baik para ibu yang mengawasi anak-anaknya, maupun para pekerja kantoran yang makan siang di taman, tak satu pun yang terlihat memainkan ponsel. Bahkan para pekerja yang sibuk pun, untuk melihat waktu memilih jam tangan atau jam besar seperti tiang bendera di tengah lapangan.

Bagi seseorang yang hidup di masyarakat modern, ini pemandangan yang sangat aneh. Di kompleks tempat tinggal lamanya saja, yang nyaris tak ada anak muda, para lansia pun ada yang menonton video di ponsel dengan suara keras.

Jika tidak salah, surat kabar ini pasti akan memberinya banyak informasi. Meski begitu, Roland tidak berharap satu koran bisa menjawab semua pertanyaannya tentang dunia ini.

Ia membuka surat kabar itu, duduk di bangku, menutupi wajahnya dengan lembaran lebar koran, dan mulai membaca karakter yang ia kenal.

Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah tulisan kecil berwarna hitam di bagian atas kolom koran. Di samping angka tanggal, ada keterangan tahun Heisei keenam dalam tanda kurung.

“Tahun 1994, ya? Bukankah ini masa ekonomi gelembung?”

Secara refleks, ia mulai membaca dari kiri, lalu matanya silau oleh deretan huruf kana dan kolom-kolom pengumuman kecil. Bagi orang yang sama sekali tidak menguasai bahasanya, membaca koran yang penuh tulisan jelas bukan pengalaman menyenangkan.

Dewi takdir memang sering memperlihatkan sisi nakalnya secara tak terduga.

Ketika Roland mengira ia takkan menemukan apa-apa dan mulai melirik judul utama yang memakai karakter Han, ia menemukan sebuah judul: “Suhu 11,2 Derajat, Rekor Tertinggi Kota Fuyuki”.

Di sebelah kanan judul itu, tertera nama surat kabar dalam huruf tebal di latar hitam: “Berita Fuyuki”.

Istilah ini sangat familiar baginya. Meski tak berani menyebut dirinya penggemar berat, Roland sudah menonton cukup banyak karya dari seri ini.

Namun, jika benar-benar harus hidup sebagai orang biasa di Kota Fuyuki, meski Roland merasa dirinya cukup tenang, ia tetap akan sedikit guncang.

Kisah sehari-hari Kota Fuyuki yang bisa hancur dalam sekejap sudah lama ia dengar.

Meski tak tahu persis tahunnya, menurut perhitungan waktu, saat ini jelas merupakan masa Perang Cawan Suci keempat.

Roland menarik napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya, namun rasa panik yang mengendap hanya bisa sedikit mereda.

Secara umum, jika ingin melakukan ujian hidup, bukankah biasanya dimulai dari dunia School Apocalypse? Menempatkan orang biasa langsung di dunia Tipe Bulan, bukankah terlalu berlebihan?

Kalau pun ada untungnya, setelah meneliti seluruh koran, selain satu kolom kecil tentang kasus pembunuhan, Roland tidak menemukan berita menghebohkan seperti ledakan gas. Artinya, Perang Cawan Suci keempat sepertinya belum benar-benar dimulai.

Namun itu tak cukup menenangkan. Di tengah siang musim dingin yang suram, angin utara yang dingin seolah menggambarkan suasana hati Roland yang perlahan jatuh ke titik nadir.

Ia menutup rapat jaketnya, berusaha menahan dingin, lalu menyentuh perutnya dan menyadari masalah lain yang lebih nyata.

Dibanding Perang Cawan Suci keempat yang tak jelas kapan mulai, masalah tempat tinggal malam ini dan makan apa berikutnya jauh lebih mendesak.

Ia kini mengalami tiga kesulitan sekaligus: tak bisa bahasa, tak punya dokumen penduduk, dan tak punya uang sepeser pun. Di kota asing pula. Begitu euforia pindah dunia memudar, rasa takut dan khawatir akan masa depan langsung menyerangnya.

Saat berada dalam bahaya, barulah seseorang menyadari betapa berharganya kehidupan damai yang sering diabaikan.

Melihat koran di tangannya bergetar ditiup angin, wajah Roland menghitam. Ia mulai curiga, jangan-jangan ini pertanda dari langit—baru saja pindah dunia, langsung diberi tantangan seperti ini?

“Lagipula, pencapaian menjadi gelandangan bukan dicetak di sini, kan? Bukankah itu khas benua seberang? Bukankah pelajar SMA yang jadi ciri khas Jepang?”

Sambil mengeluh, Roland menepuk pipinya untuk mengusir rasa cemas. Menghadapi masalah, ia tak boleh diam saja. Lagi pula, meski diberi pilihan untuk meninggalkan Kunci Segala Makhluk, ia pasti tetap memilih untuk memegangnya.

Tak ada orang yang bisa berpaling dari keajaiban yang ada di depan mata.

Selain itu, ia masih punya satu kesempatan untuk membalikkan takdir.

Roland mengelus cincin di jarinya, meresapi pesan yang disampaikan.

Kunci Segala Makhluk

— Jumlah roh kontrak: nihil
— Kesempatan mengambil roh kontrak: satu

Cincin ini bukan alat pengabul keinginan, juga tak bisa seperti sistem utama yang dengan mudah memilih kemampuan sesuka hati. Namun, alat ini bisa menciptakan roh kontrak di antara semesta, mustahil tidak peka pada pemilik pilihannya.

Roland tidak mengharapkan kekuatan untuk menghancurkan dunia. Seperti halnya roh kontrak yang bukan kantong ajaib tanpa konsekuensi, ia hanya menginginkan sebuah kesempatan.

“Ambil roh kontrak.”

Setelah merenung sejenak, Roland memberikan perintah dalam hati, memejamkan mata, menanti takdir tiba.

Kemudian, cahaya perak yang kacau muncul di balik kelopak matanya, berputar dan meliuk, membawa hasil yang akan ia terima.

— Roh Kontrak: Yoshikage Kira