Bab 006: Kekuatan Pikiran Tak Terbatas
“Sayang, aku datang…” Mark, lelaki yang jujur dan terus terang, langsung berteriak penuh semangat, bahkan nada suaranya jadi sumbang. Lututnya menekuk, tubuhnya melayang di udara dengan sudut empat puluh lima derajat, lalu mendarat telanjang bulat di atas batu kristal landak laut.
Tingkah seperti itu membuat Sembilan, yang melayang di udara, merasa sangat jijik. Namun… dia juga hampir tertawa! Sesaat kemudian, batu kristal landak laut sebesar bukit kecil itu memancarkan cahaya biru gelap yang terang benderang. Sinar biru tipis seperti benang halus menjalar keluar dari setiap sisi batu itu, seperti ular kecil yang merayap.
Hanya dalam satu tarikan napas, Mark yang sedang berbaring di atas batu itu, tubuhnya langsung diliputi cahaya biru yang semakin kuat. Warnanya seolah menyatu dengan batu di bawahnya. Tak terhitung sinar biru menembus pori-pori Mark, masuk ke dalam tubuhnya. Bersamaan dengan masuknya cahaya itu, batu kristal landak laut tiba-tiba mengecil sepuluh persen.
Sembilan, permata roh yang tengah melayang, tiba-tiba memancarkan cahaya merah lalu kembali ke lautan kesadaran Mark! Jika saat pertama tiba di dunia ini, lautan kesadaran Mark hanya sebesar gudang kecil, kini, berkat sinar biru yang jatuh ke dalamnya dari segala arah, luas lautan itu berkembang pesat, sampai bisa terlihat dengan mata telanjang.
Hanya dalam sekejap, gudang itu berubah menjadi vila kecil dengan dua pintu masuk dan keluar. Pada saat yang sama, permata roh itu bersinar tujuh warna, dan dari cahaya itu keluar seorang gadis kecil berpakaian ungu, rambut hitam mengkilap, wajah cantik seperti boneka porselen. Matanya memandang tajam ke arah benang hitam yang mengikuti sinar biru.
“Ini wilayahku, enyahlah!” Sembilan berseru dengan suara nyaring, mengangkat tangan kanan yang putih seperti giok, lalu melempar permata roh dari telapak tangannya. Selanjutnya, permata roh itu tiba-tiba muncul di atas lautan kesadaran, cahaya tujuh warna membesar, meliputi segala penjuru!
Di dalam cahaya itu, benang hitam yang mengikuti sinar biru langsung meleleh seperti salju terkena matahari, lenyap tanpa bekas di antara lautan kesadaran. Sembilan memandang lewat lautan, melihat Mark yang berwajah bodoh dan masih menempel erat di atas batu kristal landak laut.
“Lelaki brengsek—” Meski sejak awal Sembilan sudah bersikap tak kooperatif terhadap Mark karena jenis kelaminnya, dan bahkan setelah Mark ketahuan selingkuh, dua perempuan langsung mengeroyoknya, Sembilan tetap berjanji menjaga keselamatan Mark. Janji Sembilan sangat berharga.
Karena itu, walau ia tak suka Mark, Sembilan tetap membantu lautan kesadaran Mark berkembang dengan cepat tanpa efek samping berkat sinar biru misterius. Kini, lautan itu sudah sebesar danau, bahkan masih terus berkembang menembus penghalang ruang kosong di sekelilingnya.
Di luar! Mark dengan wajah penuh kegembiraan menahan emosinya, menggenggam erat anggota tubuhnya agar tidak terjatuh dari batu kristal yang makin mengecil. Sementara itu, suatu keberadaan misterius tiba-tiba memperhatikan tempat ini. Pandangannya menembus alam semesta, menembus atmosfer…
“Di mana jebakan yang kusimpan di dalamnya?” Suara keberadaan itu terdengar heran. Lalu matanya melihat Mark yang berwajah idiot, tiga garis hitam muncul di wajah abstrak keberadaan itu. Dengan satu pikiran, ia menggeser batu kristal itu.
“Boom—”
“Jangan pergi!” Mark merasakan batu kristal bergerak, langsung berteriak, dan menggenggam batu itu sekuat tenaga. Kalau saja batu itu punya lubang, Mark pasti sudah menggunakan anggota tubuh kelima untuk mencengkeramnya!
Keberadaan abstrak itu mendengar kata-kata Mark dan wajahnya menjadi gelap, lalu mengangkat batu kristal itu ke udara.
Gemuruh!
Seketika, seluruh lubang itu berguncang seperti gempa bumi, debu memenuhi ruang bawah tanah. Setelah asap reda, Mark tampak dekil, terjepit di bawah batu kristal yang kini mengecil sebesar batu besar.
“Bagaimana bisa…” Keberadaan itu terkejut, melihat Mark yang tetap hidup. Padahal batu kristal yang berisi sepuluh persen hukum miliknya itu diciptakan khusus untuk dirinya sendiri, bukan untuk manusia biasa.
“Jangan pergi, semuanya milikku…” Mark yang terjepit masih menggenggam batu itu erat, seperti monyet memanjat pohon.
“Boom—”
“Boom—”
“Boom—”
Sepuluh menit kemudian, keberadaan misterius itu dengan wajah penuh garis hitam menatap Mark yang tak bisa dilepaskan dari batu itu. Kalau saja tempatnya tidak begitu spesial dan ia bisa keluar, pasti sudah menampar Mark sampai mati.
“Sial…” Keberadaan itu menggertakkan gigi perak entah ada atau tidak, merasakan sepuluh persen hukum yang ia lepaskan kini dihisap Mark. Ia memandang batu kristal yang kini mengecil menjadi bongkahan kecil, lalu menatap Mark yang lima anggota tubuhnya menjulur ke atas, menggenggam batu, dengan senyum mesum.
“Aku akan mengingatmu.”
Di atas lautan kesadaran! Sembilan, gadis kecil berpakaian ungu, memandang lautan yang kini sudah lebih dari sepuluh ribu meter persegi. Ia mengusap keningnya yang sebenarnya tidak berkeringat, lalu menatap Mark dengan kesal.
“Lelaki brengsek, tidak takut mati kekenyangan!” Sembilan berteriak galak. Lautan kesadaran Mark yang awalnya cuma gubuk tua, sebenarnya sangat cocok dengan tubuhnya. Tak pernah ada masalah penggunaan berlebih atau mimisan aneh. Tapi setelah lautan itu membesar, masalahnya jadi serius.
Kalau bukan karena Sembilan menjaga lautan yang kini seperti samudra, lautan itu pasti sudah bergolak seperti badai. Dengan kondisi tubuh Mark saat ini, hanya butuh satu detik untuk terkoyak oleh lautan yang tiba-tiba membesar.
Setengah jam kemudian!
Mark, telanjang bulat, berbaring di dasar lubang dengan puas, menjilat bibirnya. Ia menunduk melihat batu kristal landak laut yang kini hanya sebesar butiran kecil. Setelah berpikir sejenak, Mark mengambil butiran itu dan menelannya.
Dalam pemahaman Mark, menyerap batu itu seperti membaca progress bar. Kalau baru sampai sembilan puluh sembilan koma sembilan persen, file itu belum utuh. Seratus persen, itulah yang dikejar Mark!
Di dunia yang semakin berbahaya ini, punya sedikit kemampuan bertahan hidup sangat penting. Soal Sembilan, dengan pengalaman bertahun-tahun sering dikerjai, Mark sudah memilih untuk mengabaikannya.
Beberapa saat kemudian, berbaring di lubang berlumpur, Mark menikmati sensasi menggelitik tadi. Setelah puas, ia bangkit berdiri!
Sesaat kemudian!
“Plak—” Mark tiba-tiba jatuh ke samping, dan bertanya, “Sembilan, apa yang terjadi?”
“Mark, kau tahu peribahasa tentang duduk di kursi yang bukan miliknya?”
“…Perempuan di atas, laki-laki di bawah?”
“Boom… Itu bukan, yang benar adalah ‘tidak pantas menduduki posisi itu’, dasar brengsek!”