Bab 063: Meminta Mantan Pacar Membeli Mantan Pacar
Harus diakui! Cara yang digunakan Phil Coulson memang membuat Mark merasa muak, tapi tetap saja itu berhasil menyentuh kelemahan Mark! Hanya satu kata: jasa. Selama lembaga penegak hukum ada, mereka takkan pernah merasa cukup dengan sedikit jasa.
Alasan mengapa Coulson bersikeras menarik Mark ke dalam timnya, tanpa Mark jelaskan pun, ia sudah bisa menebaknya! Tak lain hanya ingin menilai kemampuannya dalam operasi gabungan kali ini.
Namun!
Setelah terdiam sejenak, Mark melirik pasangan S.H.I.E.L.D. yang tak diundang itu beserta seorang hippie, lalu berkata datar, “Kasus ini, aku yang memegang kendali, paham?”
“... Tentu saja!” Coulson buru-buru membekap mulut si hippie yang hendak kembali berulah, lalu menampilkan senyum khasnya kepada Mark.
Mark melirik ketiganya, lalu berkata, “Jadi, kenapa kalian masih di sini?”
Ketiganya saling pandang.
Baru saja Coulson hendak bicara, Mark sudah menguap dan berkata, “Kenapa terburu-buru, keluarga Kim menculik Barbara hanya agar bisa menjualnya dengan harga tinggi di pelelangan. Sebelum pelelangan berakhir, Barbara tidak akan kenapa-kenapa.”
Setelah itu, Mark berjalan menuju tangga sambil berkata, “Waktu keluar, jangan lupa tutup pintu. Terima kasih!”
Setelah berkata begitu, ia tak lagi menghiraukan tiga orang yang sama sekali tak menyangka Mark akan bertindak di luar nalar, dan terus berjalan menuju tangga.
Sejak pagi-pagi buta sudah dibangunkan oleh suara musik Annie, kepalanya hampir terasa mau meledak...
Ia melirik ke kamar tamu, di mana Annie asyik berbaring di tempat tidur sambil membaca novel.
Ketika kembali ke kamar tidur, ia melihat Kate duduk diam di atas ranjang, berbalut jubah mandi.
Mark sempat tercengang sejenak!
Kate menoleh ke arahnya dan berkata, “Apa aku harus khawatir?”
Mark tersenyum lembut, memeluk Kate dan berkata, “Khawatir apa?”
Kate tak menghiraukan Mark yang mengendus lembut di rambutnya, lalu berkata datar, “Kau tahu apa yang kumaksud.”
“Tentu saja tidak!” Mark memeluk Kate, dagunya bertumpu di bahu Kate seraya tertawa, “Barbara sudah menikah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Aku juga berharap begitu, Mark!”
“... Aku janji!”
Pukul tiga sore!
Mark memarkir Chevrolet-nya di pinggir jalan, menatap sekeliling, lalu berjalan menuju gereja yang menjulang di antara rerimbunan hijau.
Begitu masuk ke dalam gereja, suasananya redup dan suram, hanya beberapa lilin di sudut-sudut ruangan yang menjadi sumber cahaya.
Saat itu, di dalam gereja tak terdengar suara sedikit pun. Sosok anggun yang duduk di baris ketiga sisi kanan perlahan berkata setelah mendengar langkah Mark, “Aku ingat waktu kecil dulu, entah pagi maupun sore, gereja ini selalu dipenuhi umat yang berdoa kepada Tuhan...”
“... Lalu sekarang?” Mark duduk di belakang mantan kekasihnya, Vivian Gucci, menengadah memandang sosok yang terpaku di salib di dinding.
Menurut perkataan Jiumei, di atas segala dunia dan alam hanya sepuluh Dewa Agung dari Sepuluh Wilayah Bintang dan beberapa Dewa Suci Tak Terucapkan yang abadi. Sedangkan dewa-dewa barbar Barat, konon sudah dihancurkan menjadi debu sejak jutaan tahun lalu...
Vivian menundukkan kepala, melepas kacamata hitamnya, lalu berbisik, “Sekarang, gereja ini sudah terbengkalai...”
Mark diam saja, sebab ia tahu kalimat berikutnya dari Vivian pasti yang paling penting.
Vivian tersenyum tipis, berkata, “Waktu umurku enam tahun, ayahku sakit parah. Aku berlari ke sini, memohon belas kasihan Tuhan! Para umat di sini juga berkata Tuhan akan melindungiku...
Tapi!
Ayahku tetap meninggal sepuluh hari kemudian...
Setelah itu!
Orang-orang yang waktu itu di gereja ini berkata Tuhan akan melindungiku, semuanya kujual ke Afrika untuk menggali berlian...”
Benar saja!
Mark mengernyitkan dahi, diam saja.
Hubungan Mark dan Vivian sudah berlangsung sejak SMA hingga kuliah, dan waktu kelas dua belas, Vivian selalu tampil seperti wanita es. Saat itu, Mark tak pernah menyadari ada kegilaan terlarang tersembunyi di balik wajah dinginnya.
Ketika ia menyadari, sudah terlambat—sebilah pistol wanita telah menempel di keningnya...
“...Lalu sekarang!” Vivian yang duduk di depannya berkata tanpa menoleh, “Kau bahkan punya nyali memintaku membawamu ke pelelangan, hanya demi mantan kekasihmu...”
Ia berbalik, menatap Mark dengan mata tajam yang memesona, sudut bibirnya terangkat mengejek. “Mark Louis, lelaki yang mengambil sesuatu paling berharga dariku...
Siapa yang memberimu keberanian seperti itu...
Dasar apa kau berpikir aku akan membawamu masuk ke pelelangan keluarga Kim hanya karena ucapanmu?”
Mark menjawab tanpa nada, “Karena aku, takkan pernah mencoba menyakiti mantan kekasihku.”
Vivian mendengus, “Sekarang kau sudah menyakitiku.”
“Dua puluh satu Mei, seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan.”
“Apa maksudmu...”
Mark melirik tato di pergelangan tangan kanannya—sebuah malaikat jatuh versi mini.
Itu adalah tato yang dibuat waktu kelas dua belas, setelah enam bulan berpacaran dengan Vivian, atas usulan Vivian sendiri. Satu-satunya tato di tubuh Mark.
Di pergelangan tangan kiri Vivian juga ada tato—hanya saja, miliknya bergambar malaikat cahaya.
Dulu Vivian berkata, dengan begitu, saat musim panas tiba dan mereka bergandengan tangan, orang-orang bisa melihatnya.
Perpaduan malaikat dan iblis...
Mark terdiam sejenak, menghela napas, lalu berkata pelan, “Hari ketika Kepolisian New York untuk ketiga kalinya melakukan penggerebekan besar-besaran ke markas Hell’s Kitchen...”
Tahun 98, saat itu Hell’s Kitchen dilanda perang antar geng besar-besaran, sampai tiga petugas polisi patroli pun ikut jadi korban.
Gubernur, walikota, dan Kepala Kepolisian New York sama-sama murka, bersama Jenderal Ross dari militer, bertekad membersihkan Hell’s Kitchen...
Setelah tiga bulan razia tanpa henti, anggota kelompok kriminal kecil Hell’s Kitchen hampir memenuhi semua penjara di sekitar New York.
Bahkan beberapa kelompok besar pun babak belur dalam operasi itu!
Namun, hanya satu keluarga yang tidak tersentuh badai itu.
Keluarga Gucci!
Bahkan, setelah badai berlalu, mereka langsung menguasai empat puluh persen pasar penyelundupan senjata dan narkoba...
Menjadi pemenang terbesar dari badai itu!
Setelah mendengar penjelasan Mark, mata Vivian menyipit, menatap Mark dan berkata, “Jadi, kertas itu kau yang menyelipkan?”
Mark tersenyum rendah hati, berkata datar, “Ngomong-ngomong, tak perlu berterima kasih!”
Tatapan Vivian seketika berubah, menatap Mark lekat-lekat hingga membuat Mark sedikit merinding.
Mark tertegun, tak mengerti apa-apa.
Ia mengira Vivian kambuh lagi...
Sesaat kemudian!
Vivian tiba-tiba berteriak marah pada Mark, “Brengsek, ternyata benar kau! Kau tahu karena itu, semua keluarga lain waktu itu mengira keluarga Gucci pengkhianat! Dasar bajingan kau...”