Banyak yang berkata bahwa hidup dan mati hanyalah perkara sepele, jika tak terima maka hadapilah. Namun, hanya mereka yang pernah merasakan kematianlah yang benar-benar memahami betapa berharganya keh
Di negara dengan jumlah penduduk terbanyak di planet ini, nama Wang Lei barangkali adalah nama yang begitu biasa hingga tak bisa lebih sederhana lagi. Dari lebih dari sembilan puluh juta orang bermarga Wang di seluruh negeri, terdapat dua ratus sembilan belas ribu seratus dua puluh tujuh orang yang bernama Wang Lei (data tahun 2014). Setiap generasi delapan puluhan, di masa sekolahnya, pasti pernah memiliki satu atau bahkan beberapa teman bernama Wang Lei di sekitarnya. Ini cukup membuktikan betapa populernya nama ini, sekaligus menunjukkan betapa biasanya nama tersebut.
Di sebuah kota besar yang katanya terletak di barat laut, tokoh utama kita, Wang Lei, duduk diam di kamar kontrakannya sendiri. Matahari musim panas di barat laut selalu terbenam terlambat. Pukul sembilan malam, banyak orang biasa yang telah makan malam mulai berjalan di jalanan, menikmati kesejukan yang perlahan mengusir panas. Para pedagang kaki lima dan toko-toko kecil di sekitar jalan membuka panggangan mereka, aroma daging kambing yang dipadu dengan jintan menyebar kuat di udara, terbakar di atas api.
Aroma itu menembus jendela, menggoda indera penciuman Wang Lei. Ia sudah seharian penuh tidak makan, kejang di perutnya mengingatkannya bahwa tubuhnya butuh asupan energi. Namun, secara mental, Wang Lei tampak tidak terguncang hebat. Selalu saja, Wang Lei merasa dirinya seharusnya menjadi orang yang luar biasa. Ia mendambakan cinta yang membara, kehidupan seperti dalam drama televisi, atau merasa bahwa ia layak menjadi sosok yang meninggalkan jejak mendalam bagi dunia.
Namun, sayangny