Bab Tiga: Semua Gadis Bernama Madongmei Adalah Gadis Baik
Setelah terlambat setengah hari kembali ke markas pelatihan, sudah bisa diduga bahwa Ma Dongmei mendapat “sambutan pengering rambut” dari “Si Tua Fu Yan”. Sulit membayangkan bahwa seorang perempuan keturunan Rusia yang baru beberapa tahun menjadi warga Republik ini bisa begitu piawai dalam bahasa, mulut Fu Sansheng yang tampak tak seberapa besar itu bisa memarahi orang yang berbuat salah seharian penuh tanpa mengucapkan satu kata kotor pun. Di antara seluruh anggota tim bola voli wanita Sungai Yangzi, mungkin hanya Ma Dongmei yang bisa tahan, sementara yang lain biasanya sudah menangis tersedu-sedu bahkan sebelum separuh waktu berlalu.
“Eh, dia mengomeli kamu lagi, ya?”
Baru saja selesai menerima “pengering rambut” secara manusiawi, begitu kembali ke latihan, Mei-mei langsung ditanya oleh rekan setim di sebelahnya.
Tiga hari yang lalu, Ma Dongmei hanya meminta izin pada kapten Lin Na dan sejak itu belum kembali lagi. Alasan meminta izin pun tidak dijelaskan dengan gamblang kepada Lin Na. Ma Dongmei memang selalu santai terhadap urusannya sendiri, sehingga ia sangat disukai teman-temannya. Namun, setiap berurusan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Wang Lei, Ma Dongmei menjadi sangat sensitif. Ia tidak ingin orang lain tahu bahwa Wang Lei sebelumnya pernah mencoba bunuh diri.
“Tidak, hanya sakit saja. Akhir-akhir ini kondisi badan Kakak Lei kurang baik. Nanti aku harus menyiapkan makanan yang benar-benar bergizi untuknya.”
“Hihi, kalau kamu sendiri yang jadi makanannya, pasti langsung sembuh...”
Kehidupan atlet, dalam bayangan orang awam, identik dengan keringat dan air mata, latihan keras tanpa henti, lalu akhirnya merebut medali emas. Pola inilah yang selalu dipromosikan oleh Republik. Namun, kenyataannya, para gadis dua puluhan ini tak jauh berbeda dari orang kebanyakan. Mereka tetap manusia biasa, di usia seperti itu pun sama-sama dipenuhi rasa ingin tahu terhadap lawan jenis.
Para anggota tim voli wanita Sungai Yangzi sebenarnya sudah cukup paham dengan situasi Ma Dongmei. Meski tak sedikit yang merasa aneh dengan keputusan keras kepala Ma Dongmei merawat Wang Lei, terutama dengan kondisi Wang Lei yang seperti itu, namun terhadap Ma Dongmei sendiri, sebagian besar anggota tim merasa iba pada gadis polos yang sama sekali tak punya niat buruk ini.
Biasanya, pemain seperti Ma Dongmei yang lahir dari keluarga atlet ternama dan punya kemampuan menonjol justru akan menimbulkan kecemburuan. Tapi novel ini bukan kisah intrik istana, dan pemain voli wanita bukanlah para selir istana. Setelah latihan yang nyaris membuat mereka lemas, tak ada yang masih punya energi untuk bersaing secara licik. Lagi pula, Ma Dongmei memang benar-benar punya kemampuan istimewa. Meski di dunia ini memang ada segelintir orang yang senang menjatuhkan orang lain meski tak menguntungkan dirinya, jumlahnya tetaplah sedikit. Tim voli wanita Sungai Yangzi bisa mendominasi bola voli Republik selama bertahun-tahun bukan karena intrik, melainkan karena manajemen yang ketat, bahkan setara dengan standar tim nasional.
Canda-tawa dan olok-olok di antara rekan-rekan pun langsung lenyap seketika saat “Si Tua Fu Yan” kembali. Selanjutnya, mereka harus mencoba menghemat setiap tetes tenaga untuk menghadapi latihan yang begitu berat.
Sementara itu, Wang Lei yang sendirian di rumah tidak langsung terburu-buru memulai latihan pemulihan fisik. Meski kedua jiwa kini telah menyatu dengan sempurna, Wang Lei yang “luar biasa” itu sudah menjalani dua tahun hidup suram, nyaris terputus dari dunia luar. Ia sendiri yang menutup hatinya, memutuskan hubungan dengan orang-orang sekitar. Hal ini membuat Wang Lei kini merasa asing terhadap segalanya di sekelilingnya.
Selain itu, “sistem” milik Wang Lei baru saja selesai diperbarui. Ia harus mencarinya, lalu “memuat” dan mencerna berkas-berkas lama sebelumnya.
Ruang dan waktu yang benar-benar baru, jiwa yang baru pula. Walaupun sebagian jiwa ini memang milik ruang waktu ini, tetapi tetap saja bukan seluruhnya. Wang Lei yang baru harus kembali menyesuaikan diri dengan dunia ini, kembali ke kehidupan sosial yang telah lama ia tinggalkan.
Bayangkan saja, di Bumi, ada seorang pemuda di kota yang tidak menggunakan media sosial, tidak menelpon siapa pun, tidak berinteraksi dengan siapa pun di sekitarnya. Orang seperti ini mungkin hanya akan masuk ke rumah sakit khusus yang sangat tertutup. Bahkan pria paling introver sekalipun tetap punya dua-tiga teman dekat dan tetap punya kebutuhan fisik yang ingin dipenuhi, karena tangan sendiri, sebaik apa pun, tetap saja tak bisa “selembut” itu.
Kamar yang Ma Dongmei sewa dengan gajinya sendiri memang tidak besar, namun semua perlengkapan di dalamnya lengkap. Sebenarnya baik Ma Dongmei maupun Wang Lei bukanlah orang yang kekurangan uang. Meski hubungan Ma Dongmei dengan orang tuanya jadi kurang baik karena ia bersikeras merawat Wang Lei yang cacat, gajinya sekarang cukup untuk menjalani hidup nyaman bersama Wang Lei, asalkan tidak terlalu boros. Bahkan Ma Dongmei merasa hidup seperti inilah yang ia inginkan. Lagipula, keluarga Wang Lei juga tergolong berada. Sebelum kakinya patah dan orang tuanya meninggal, Wang Lei sudah bermain di liga profesional selama empat tahun. Uang itu, ditambah dengan santunan dari asuransi, membuat Wang Lei tidak kekurangan materi—yang ia butuhkan hanyalah sikap hati yang tenang dan berani.
Menyalakan komputer dan menyambungkan ke internet, Wang Lei yang baru mulai mencoba membaur dengan kehidupan barunya.
Satu lagi sore yang diisi latihan ekstra. Para gadis tim bola voli wanita Sungai Yangzi tampak seperti baru diangkat dari air, basah kuyup oleh keringat. Tapi tak satu pun dari mereka menghiraukan soal penampilan, yang mereka inginkan hanyalah segera berbaring di ranjang dan tidur nyenyak.
Karena hanya berlatih setengah hari, Ma Dongmei masih tampak segar. Namun, ia sama sekali tak berani bersikap santai, khawatir kembali jadi sasaran latihan tambahan dari “Si Tua Fu Yan”. Yang paling ia inginkan saat itu hanyalah segera menuju kantin. Hari ini ada menu daging sapi, makanan favorit “Kakak Lei”-nya.
Padahal Ma Dongmei punya cukup uang untuk membeli aneka makanan lezat di luar, tapi pertama, waktu luangnya sangat terbatas, dan kedua, makanan di luar, seberapa pun mereka mengklaim sehat, tak akan lebih aman daripada masakan koki dan ahli gizi khusus di markas latihan. Itulah sebabnya, setiap selesai latihan, Ma Dongmei selalu cepat-cepat mengambil dua porsi makanan untuk dibawa pulang.
Tentu saja, Ma Dongmei juga bisa membeli bahan makanan sendiri dan memasak di rumah. Tapi ia tahu benar ia tak punya bakat jadi koki. Pernah sekali ia memasak untuk Kakak Lei-nya, dan Wang Lei memakan habis tanpa berkedip. Namun, Ma Dongmei, yang biasanya agak ceroboh, tahu bahwa saat itu Wang Lei benar-benar tak peka terhadap dunia luar. Untuk mencegah Wang Lei-nya “keracunan” masakannya sendiri, gadis itu lebih memilih mempercayakan menu kepada koki di markas.
Sesampainya di rumah, Ma Dongmei mendapati Kakak Lei-nya tidak berbaring tak bergerak di tempat tidur, melainkan sedang duduk di depan komputer, mendengarkan musik sambil berselancar di internet. Seketika wajah Ma Dongmei berseri-seri, kedua lesung pipit di pipinya pun tampak makin dalam.
“Kakak Lei, ini, daging sapi kesukaanmu.”
“Ya, terima kasih, Mei-mei. Kurasa semua yang bernama Ma Dongmei itu gadis baik.”
“Ah, kau kenal perempuan lain bernama Ma Dongmei juga?”
“Iya, kenal. Suaminya bernama Xia Luo.”
“Wah, dia sudah menikah? Pasti usianya jauh di atasku, ya?”
“Benar, usianya memang lebih tua darimu. Ayo makan dulu, setelah ini akan kuceritakan kisah Xia Luo dan Ma Dongmei...”