Bab 13: Tiga Kemampuan
Kakek Pei meletakkan gagang telepon, namun ia tetap duduk terdiam cukup lama. Keheningan itu seolah menariknya masuk ke dalam memori masa lalu akibat sepatah kata dari lawan bicaranya.
Di usia senja, manusia memang mudah mengenang masa lampau, terutama hari-hari penuh kejayaan. Pei Ju tidak tahu banyak tentang apa yang pernah dilakukan kakeknya, ia hanya tahu bahwa setiap tahun baru, selalu ada orang-orang yang datang berkunjung dengan sikap yang sangat hormat. Dari sanalah ia bisa sedikit menarik kesimpulan.
Namun, semakin cemerlang masa lalu seseorang, semakin tajam pula rasa kehilangan yang dirasakan di masa tua. Kalimat terakhir yang diucapkan lawan bicaranya tadi adalah keinginan untuk melihat "Pedang Pemenggal Dewa" muncul kembali di dunia persilatan. Itu berarti, pedang tersebut sudah sangat lama tidak menampakkan diri.
"Kakek, apa itu Pedang Pemenggal Dewa?" tanya Pei Ju.
Sebelumnya, Kakek Pei tidak pernah menceritakan hal ini, seolah sengaja menghindarinya.
Kakek Pei terdiam sejenak sebelum perlahan membuka suara, "Awalnya, aku tidak berniat memberitahumu semua ini. Aku hanya berpikir alangkah baiknya jika kau tumbuh sebagai orang biasa. Namun, sejak kecil kau menunjukkan bakat luar biasa dalam ilmu pedang. Gerakan pedang yang diajarkan sekali saja langsung kau kuasai. Bahkan tanpa pernah diajari cara melukai orang dengan pedang, kau sudah bisa menggunakan jurus-jurusnya dengan mahir."
"Jumat lalu, kau menunjukkan bakat dalam ritual penyatuan roh di arena 'Aula Roh'. Kau adalah bibit unggul untuk berlatih. Jika penampilanmu di sana buruk, kau mungkin hanya bisa menjadi seorang pemain atraksi pedang di tengah masyarakat modern saat ini."
"Namun, kau justru memiliki bakat itu." Kakek Pei menoleh menatap Pei Ju.
Pei Ju merasa tatapan kakeknya saat itu tidak seperti biasanya; tatapan itu begitu mendominasi dan tajam. Namun, tak lama kemudian, kakeknya kembali memejamkan mata.
"Seseorang, sehebat apa pun dirinya di masa muda, jika di masa tua ia tidak memiliki pewaris atau keturunan, maka masa tuanya sama saja dengan kematian. Ia hanyalah nisan yang masih bernapas; orang datang berziarah saat mereka butuh, dan melupakannya saat mereka tidak lagi memerlukan."
Pei Ju tidak tahu harus berkata apa. Ia bisa merasakan gejolak emosi yang asing di dalam hati kakeknya.
"Aula Pedang Pemenggal Hantu adalah tempat yang membawa sial. Ayahmu mewarisi aula ini, namun akhirnya ia dirasuki roh halus dan mati secara misterius. Seorang pemenggal hantu justru mati karena dirasuki hantu, bukankah itu pertanda kesialan?" tanya Kakek Pei dengan nada berat.
Bukan berarti Pei Ju tidak pernah bertanya ke mana ayahnya pergi. Saat kecil, ia mengira ayahnya pergi jauh, dan saat beranjak dewasa, ia tahu ayahnya telah tiada. Namun, ia tidak pernah tahu detail kematiannya. Dari sepenggal kata orang lain, ia bisa menebak-nebak, tetapi mendengar langsung dari mulut kakeknya tentu memberikan kesan yang berbeda.
Pei Ju tidak mampu menjawab.
"Jika ingin tahu tentang Pedang Pemenggal Dewa, hanya mereka yang mewarisi Aula Pedang yang bisa mengetahuinya. Namun, setiap pewaris aula ini selalu berakhir dengan nasib buruk. Apakah kau masih ingin tahu?" Kakek Pei menyerahkan keputusan itu pada Pei Ju.
Ia sendiri mengalami dilema sejak awal; takut Pei Ju tertimpa kesialan karena Aula Pedang Pemenggal Hantu, namun juga tidak rela jika warisan keluarga Pei terputus di tangannya. Itulah sebabnya ia mengajarkan ilmu pedang setengah-setengah dan membiarkan Pei Ju membaca catatan rahasia keluarga.
Mendengar itu, tanpa ragu sedikit pun, Pei Ju berkata, "Kakek, aku adalah bagian dari keluarga Pei, aku tumbuh besar di aula ini, bagaimana mungkin aku tidak mewarisinya? Aku ingin menjadi penerus Kakek, aku ingin Pedang Pemenggal Dewa kembali muncul di dunia dan membangkitkan kejayaan Aula Pedang Pemenggal Hantu keluarga Pei."
Kakek Pei tertawa. Tawa yang awalnya tersenyum berubah menjadi tawa terbahak-bahak, lalu perlahan berubah menjadi tawa kering yang hampa.
Pei Ju terdiam memperhatikannya, karena ia tidak merasakan secercah kebahagiaan pun dalam tawa kakeknya. Ia tidak tahu bahwa dulu, kakeknya pernah menanyakan hal yang sama kepada ayahnya, dan ayahnya pun memberikan jawaban yang serupa. Ayahnya juga memiliki bakat luar biasa, di usia muda sudah dikenal luas dan memiliki banyak kenalan. Meski meninggal muda, orang-orang yang dikenalnya dulu kini telah menjadi tokoh-tokoh hebat, dan mereka selalu menghela napas menyesal jika mengenang ayahnya.
"Baiklah. Jika sudah memutuskan, Kakek akan menceritakan seluruh warisan pedang keluarga kita. Jika ini memang kesialan, biarlah itu menjadi takdir kita bertiga." Napas Kakek Pei perlahan menjadi tenang, seolah telah membuat keputusan bulat.
"Yang disebut Pedang Pemenggal Dewa hanyalah sebutan lain untuk warisan ilmu pedang di aula kita."
"Dunia ini dipenuhi roh. Roh tidak mengenal baik atau buruk, sama seperti hewan buas yang memangsa, itu adalah naluri mereka. Begitu pula saat roh bersentuhan dengan manusia, merasuki tubuh adalah naluri mereka. Mereka memiliki berbagai kemampuan, dan untuk mendapatkan kemampuan itu, kita harus belajar dari mereka."
"Proses belajar itu disebut penyatuan roh, dan untuk melakukannya dibutuhkan ritual. Setiap roh memiliki watak yang berbeda, maka ritualnya pun berbeda. Di aula kita, terdapat arena ritual terisolasi, itulah warisan aula kita."
"Di dalam arena ritual tersebut, kau bisa mempelajari keahlian, namun seberapa banyak yang kau serap bergantung pada dirimu sendiri. Sama seperti berguru, guru yang sama bisa menghasilkan murid dengan kemampuan yang berbeda-beda."
"Di Aula Pedang kita, melalui ritual 'Menginap di Kuil Penguasa Gunung', kau bisa mempelajari ilmu pedang tenaga dalam yang mampu memenggal hantu. Ada pula satu metode latihan batin yang disebut 'Tekad Tanpa Takut', gunanya agar tidak mudah diganggu oleh roh dan dewa. Terakhir, ada teknik dewa yang disebut 'Wibawa Harimau' atau 'Wibawa Dewa' yang harus dipelajari dari sang Penguasa Gunung. Jika kau bisa menguasai ketiganya, barulah kau dianggap benar-benar menerima warisan."
"Namun, selain leluhur pendiri aula, aku sendiri hanya bisa dibilang baru menguasai dasarnya saja. Karena Wibawa Dewa begitu tajam jika disatukan ke dalam pedang, hantu biasa tidak akan sanggup menahan satu tebasan pun. Itulah sebabnya ilmu pedang ini mendapatkan julukan Pedang Pemenggal Dewa," tutur Kakek Pei dengan nada haru.
"Jadi, warisan kita ini disebut juga Warisan Pedang. Jika kita bersedia menerima murid dari luar, komite manajemen akan memberikan gaji dan subsidi, serta kita bisa memungut biaya pendidikan."
"Namun, keluarga Pei memiliki wasiat leluhur: warisan Aula Pedang hanya diturunkan kepada anggota keluarga, dari ayah ke anak, dan tidak diberikan kepada orang luar maupun anak perempuan." Kakek Pei menghela napas panjang.
Pei Ju merasa dadanya berdegup kencang. Ia yang selama ini hanya mengintip di ambang pintu misteri, kini mulai melihat dengan jelas apa yang ada di balik kabut tebal tersebut.
"Kakek, bagaimana caranya agar pedangku bisa memenggal hantu?"
"Hanya dengan menguasai ilmu pedang tenaga dalam dan memahami hakikat warisan pedang, serta berlatih keras, kau baru bisa memenggal hantu. Tentu saja, kau sudah memiliki warisan 'Tekad Tanpa Takut'. Kau harus sering merasakannya hingga menjadi naluri untuk melindungi dirimu dari gangguan roh."
"Tapi ini sulit sekali dilatih," keluh Pei Ju. Sebelumnya di klub pedang, ia hanya merasakan hal itu secara pasif. Untuk memanggil emosi itu secara aktif, ia masih merasa kebingungan.
"Ini perlu perenungan. Sudah terlalu larut, nanti akan Kakek ajarkan lagi. Pergilah mandi, besok kau harus sekolah," ujar Kakek Pei.
Pei Ju telah mendengar terlalu banyak hal hari ini, emosinya naik turun, dan ia merasa lelah baik fisik maupun mental. Ia pun patuh pergi mandi dan langsung tertidur begitu menyentuh kasur.
Setelah ia terlelap, lampu di aula dimatikan, dan kegelapan menyelimuti ruangan. Namun tiba-tiba, embusan angin muncul di dalam aula, menggerakkan kain hitam di atas meja persembahan. Angin tak terlihat itu seolah tangan tak kasat mata yang hendak menyingkap kain tersebut.
Di tengah kegelapan, samar-samar terdengar suara tawa sinis yang tertahan.
Tatapan Kakek Pei yang tadinya redup seketika menjadi tajam, seolah ia bisa melihat dengan jelas di tengah kegelapan. Ia menatap ke arah altar di atas meja dan melangkah mendekatinya.