Bab 4: Mengenali Hantu dan Pantangan
Pei Ju berdiri di ambang pintu Kuil Dewa Gunung, menatap ke dalam, sementara dari belakangnya berembus angin dari luar kuil, membawa dingin lembab dari pegunungan.
Tempat ini sungguh begitu nyata.
Ketika ia memandang lagi wajah dua penjual keliling itu, melihat cuaca buruk yang terukir di raut mereka, pakaian yang mereka kenakan, pelindung betis dan sepatu di kaki mereka, dua pikulan barang itu, serta keausan pada penyangga rak dagangan, semuanya terasa begitu nyata.
Ia berdiri di ambang pintu tanpa bergerak, sementara kedua penjual keliling itu justru sedang menatapnya.
Dan ia pun mengamati mereka berdua, berusaha membedakan di antara mereka, yang mana yang akan menjadi hantu.
Meski baru berusia lima belas tahun, ia bukanlah anak yang penakut sejak kecil. Apalagi pada saat hidup dan mati seperti ini, ia menarik napas panjang, menekan ketakutan yang semula ada di dalam hatinya, lalu mengubahnya menjadi dorongan yang kuat.
Ada orang yang bila takut akan gemetar, terpojok ketakutan, tak berani bergerak seperti burung puyuh. Namun ada pula yang setelah dilanda takut dan cemas, justru memantulkan dorongan yang besar.
Akan tetapi, ia tidak gegabah membuka mulut. Justru penjual keliling yang lebih tua itu lebih dulu berbicara.
“Malam semakin larut dan embun pun tebal, Tuan Muda cepatlah datang ke dekat api untuk menghangatkan diri, mengusir dingin.” Penjual tua itu menyambut Pei Ju. Keriput di wajahnya memancarkan kesan akrab, seperti paman dari tetangga sebelah.
Sedangkan penjual muda itu hanya mengangkat mata memandang Pei Ju, lalu sedikit menggoyangkan pantatnya, seolah ingin memberi ruang, tetapi nyatanya hampir tidak bergeser sama sekali.
“Baik, terima kasih.” kata Pei Ju dengan sopan, lalu mendekat ke api unggun dan melepaskan keranjang buku di punggungnya.
“Hm? Tuan Muda, logat bicaramu dari mana? Bukan orang setempat, ya?” tanya penjual tua itu dengan heran.
Pei Ju segera mengerti bahwa meski di sini semua orang bisa saling memahami ucapan, logat tetap berbeda, dan penjual ini yang berdagang di wilayah tersebut tentu sangat mengenal daerah itu.
Dalam benaknya terlintas seluruh larangan dalam upacara “Malam Menginap di Kuil Dewa Gunung”.
Kakeknya pernah berkata, jika seseorang masuk lalu identitasnya dicurigai, ia mungkin akan dianggap sebagai hantu oleh yang lain. Dan setelah dianggap hantu, hantu yang sesungguhnya akan membujuk orang-orang lain untuk membunuhmu.
Identitasnya sekarang adalah seorang pelajar, yang dapat memarahi roh jahat, menyingkap keberadaan mereka, memaksa mereka tampak, lalu dibunuh oleh Dewa Gunung di tempat ini.
Seorang pendekar pedang lainnya juga memiliki kemampuan menebas hantu dengan pedang.
Di dalam “Malam Menginap di Kuil Dewa Gunung”, ada dua orang yang tak akan berubah, yaitu pendekar pedang dan pelajar.
Tentu saja, Dewa Gunung pun tidak akan berubah.
Namun kakeknya juga pernah memperingatkan, jangan sekali-kali menganggap Dewa Gunung sebagai manusia, karena Ia sendiri pun adalah roh, bahkan roh yang kuat, hanya saja sedang terkurung. Jika diberi kesempatan, Ia pasti akan berbalik menyerang.
Roh hanyalah sebutan yang kini lebih seragam dan terdengar lebih baik. Dalam sejarah, di dalam maupun luar negeri, ada berbagai macam istilah: hantu, siluman, penjelmaan, arwah, iblis, makhluk gaib, dan sebagainya.
Dan selain pelajar serta pendekar pedang, yang lain semuanya belum pasti.
Ia samar-samar ingat kakeknya pernah berkata bahwa kemunculan penjual keliling di Kuil Dewa Gunung adalah hal yang buruk, sebab penjual keliling berkelana di dunia, kadang benar kadang salah, dan mereka mungkin juga menguasai beberapa ilmu sesat. Mereka berjalan dari desa ke desa menjajakan barang; bila bisa terjual, akan dijual, dan jika ada kesempatan, mereka bahkan bisa menculik serta memperdagangkan perempuan dan anak-anak.
Memikirkan itu, kewaspadaan Pei Ju terhadap senyum ramah si penjual keliling bertambah beberapa lapis.
Hanya saja, sekarang pihak itu bertanya apakah ia orang dari wilayah ini atau bukan, dan ia makin paham bahwa dirinya harus menjawab dengan tepat.
Namun ia datang dengan ingatannya sendiri, bukan dengan ingatan pelajar ini, sehingga ia tidak mengetahui betul keadaan geografis tempat ini. Ia pun tak berani banyak bicara, karena ia tahu jelas bahwa menjawab salah akan membawa masalah.
Walau ia tidak tahu wilayah ini, ia tahu beberapa pantangan memasuki Kuil Dewa Gunung.
Misalnya: tidak boleh menyebut “harimau”, tidak boleh menyebut “penjaga bayangan”, tidak boleh menunjuk patung Dewa Gunung dengan jari, dan jangan pernah membelakangi patung Dewa Gunung.
Keduanya duduk tanpa membelakangi arca Dewa Gunung, jelas mereka tahu pantangan itu.
Kakeknya juga pernah berkata, “Di dalam kuil, ketika kau menunjukkan celah, ‘hantu’ biasanya akan menjadi yang pertama melompat keluar untuk menyerangmu.”
Pei Ju berpikir cepat. Karena tak paham keadaan wilayah, ia hanya menjawab samar-samar, “Benar, saya sudah berjalan berkali-kali sehari. Saya hendak pergi ke ibu kota untuk mengikuti ujian.”
“Oh, rupanya Tuan Muda adalah seorang yang punya kedudukan. Hanya saja, kini jalan menuju ibu kota sudah terputus. Bagaimana Tuan Muda bisa pergi ke sana untuk ujian? Tuan Muda, mengapa tidak kau ceritakan saja, lahir pada tahun dan bulan apa!”
Saat penjual tua itu berkata demikian, matanya di balik cahaya api justru seolah memantulkan sinar. Tangannya sudah masuk ke dalam bajunya, seakan sedang menggenggam sesuatu.
Pei Ju tak mampu segera menjawab.
Pada saat itu, penjual muda itu seperti baru tersadar, lalu mundur sedikit dan berkata, “Jangan-jangan kau ini hantu? Pelajar hantu, kau pelajar hantu?”
Tentu saja Pei Ju bukan pelajar hantu, tetapi itu tidak menghalangi dirinya merasakan bahaya, terutama ketika tatapan si penjual tua tiba-tiba berubah menjadi berbahaya.
Ia merasa, begitu benda di dalam pelukan orang itu dikeluarkan, ia akan mati.
Lebih lagi, ia melirik si penjual muda. Dalam pantulan cahaya api di tanah, ia mendapati mata penjual muda itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Matanya agak miring, tak lurus, tatapannya juga aneh, seolah sedang memandangi mangsa.
Berdasarkan isi “Catatan Pemenggalan Aneh Keluarga Pei” yang ada di rumahnya, khususnya bagian mengenali hantu, hatinya sudah memiliki jawaban samar.
Selain itu, “hantu” sering kali akan keluar lebih dulu untuk menyerang, dan kadang-kadang akan lebih dulu memfitnah orang lain.
Melihat adegan itu, pikiran pertamanya adalah: “Apakah penjual muda ini hantu?”
Dalam hatinya timbul semangat untuk memarahi dan membongkar lawan, tetapi ia juga takut salah sasaran, karena kesempatan hanya ada satu.
Semangat seorang pelajar memang tidak banyak. Di tempat seperti ini, berani terus-menerus berhadapan dengan roh jahat saja sudah sangat jarang. Begitu ia ragu sejenak, semangat itu pun merosot lagi, seolah tak pernah ada.
Karena ia tidak segera menjawab, tatapan penjual tua itu makin berbahaya. Di dalam pelukannya seolah ada sebilah pedang yang hendak dicabut.
Begitu sensasi itu muncul, ia segera menyadari bahwa sikap penjual keliling itu terasa sangat familiar. Bukankah itu justru awalan dari ilmu pedang warisan keluarganya sendiri?
Hanya saja sekarang orang itu setengah berjongkok, bukan dalam sikap mencabut pedang dari samping yang standar, tetapi rasa itu sama saja, dan seolah-olah pedang itu akan kapan saja dicabut untuk menebas lehernya.
Jangan-jangan aku akan mati di sini di bawah pedang kakekku sendiri.
Saat tegang, justru ia menjadi semakin tenang. Ia segera berbalik dan memandang pendekar pedang lusuh yang bersandar di sana. Si pendekar tetap tak bergerak, bersandar di dinding, kepala miring seolah tertidur, dan bahkan sampai sekarang pun tak ada sedikit gerak apa pun.
Bukankah Nyonya Wen saat duduk di depan meja delapan dewa juga begitu? Ia dikendalikan oleh Xiaoqiu, dan dirinya sendiri semula juga sedang dikendalikan, tetapi setelah masuk ke sini, kendali Xiaoqiu atas dirinya terlepas.
Memikirkan itu, ia segera berbalik dan menunjuk penjual muda sambil membentak, “Menurutku kaulah hantu itu!”
Sekali tunjuk dan sekali bentakan itu, seketika muncul dari dasar hatinya wibawa dan semangat seorang pelajar, yang mengikuti arah jarinya seolah-olah menerobos masuk ke dalam hati si penjual muda.
Penjual muda itu bahkan tampak panik dengan jelas, lalu dengan agak gagap membela diri, “Ka- kau, jangan sembarangan memfitnah orang baik. Bagaimana mungkin aku hantu? Aku dan guruku membawa barang dan berjualan di daerah ini. Guruku bisa menjadi saksi untukku.”
Mendengar itu, Pei Ju justru makin yakin.
Namun pada saat itu, penjual tua yang setengah jongkok di tanah tiba-tiba berdiri. Bersamaan dengan itu, dari dalam pelukannya memancar seberkas cahaya pedang yang sunyi dan bening.
Ternyata di dalam pelukannya tersembunyi sebilah pedang pendek.
Dialah pendekar pedang itu.