Bab 84: Amarah Membara di Kepala Demi Sang Kekasih
Qin Mo terlempar beberapa meter jauhnya akibat tendangan itu. Saat Meng Ning sadar kembali, ia melihat sosok gagah berdiri tegak, mengangkat Qin Mo dan kembali menghajarnya tanpa ampun.
Itu adalah Fu Tingxiu.
Walaupun hanya terlihat dari belakang dan mengenakan masker, Meng Ning tetap mengenalinya.
Kali ini Fu Tingxiu menghajar Qin Mo jauh lebih kejam dibandingkan saat ia menghajar Gu Changming sebelumnya.
Orang-orang di sekitar yang menyaksikan kejadian itu, tak berani mendekat.
Fu Tingxiu mencengkeram kerah Qin Mo, memperingatkan dengan suara keras, "Keluarga Qin hari ini sudah sampai di ujungnya, bahkan Qin Weicang sekalipun tak bisa melindungimu."
Qin Weicang adalah direktur utama Grup Qin, sekaligus ayah Qin Mo.
Status sosial Qin Weicang sangat tinggi. Meng Ning pun pernah mendengar namanya dan melihatnya dalam berbagai laporan ekonomi. Tak banyak orang yang berani memanggil namanya begitu saja.
Baru saja Qin Mo begitu angkuh, tapi kini, bertemu Fu Tingxiu, ia bahkan tak mampu melawan.
Fu Tingxiu lebih angkuh, lebih kejam.
Batu keras bertemu batu keras.
Qin Mo menatap mata Fu Tingxiu yang dingin membeku, hatinya dilanda ketakutan, tubuhnya gemetar, dan ia bicara dengan susah payah, "Tadi hanya bercanda saja..."
Ia melihat hawa pembunuh yang tajam di mata Fu Tingxiu. Qin Mo percaya Fu Tingxiu benar-benar mampu membunuhnya.
"Kalau begitu, aku akan main-main denganmu juga."
Fu Tingxiu tersenyum penuh darah, menarik Qin Mo masuk ke dalam rumah, menutup pintu. Segera terdengar suara jeritan menyayat dari dalam, tak berhenti-henti. Setelah beberapa menit, suasana di dalam pun sunyi. Orang-orang di luar baru berani bergerak.
Wan Meili maju mengetuk pintu, "Buka pintu! Berani melukai Qin Mo, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja. Buka pintu!"
Pintu terbuka, Fu Tingxiu berdiri di sana dengan aura membunuh yang kental. Wan Meili menatap matanya, hatinya bergetar, kata-kata yang hendak ia ucapkan pun tertahan.
Secara naluriah, Wan Meili mundur selangkah, memberi jalan.
Fu Tingxiu melangkah melewati Wan Meili, pandangannya tajam menyapu semua orang, lalu berbalik menuju Meng Ning, langsung mengangkatnya dan membawanya pergi, tak ada yang berani menghalangi.
Meng Ning sangat ketakutan tadi. Kini, dengan dada yang bisa ia sandari, semua pertahanan dirinya runtuh, ia memegangi baju Fu Tingxiu dengan erat dan tubuhnya gemetar.
"Maaf, aku datang terlambat," ujar Fu Tingxiu dengan penuh rasa sayang, memeluknya lebih erat.
Lapisan ketegaran Meng Ning hancur oleh satu kalimat perhatian itu.
Ia merangkul pinggang Fu Tingxiu, membenamkan kepalanya di dada pria itu.
Fu Tingxiu melangkah keluar, hari ini ia juga menghadiri acara di tempat itu. Liang Chao tiba-tiba menelepon, melaporkan keberadaan Meng Ning, baru ia tahu Meng Ning datang ke Klub Wanxi, mencari Wan Meili.
Baik itu putri keluarga Wan maupun putra keluarga Qin, Fu Tingxiu sangat tahu bagaimana tabiat mereka. Ia khawatir tentang Meng Ning, maka ia langsung meninggalkan mitra bisnisnya, naik ke lantai atas mencari Meng Ning.
Namun ia tetap terlambat, membiarkan Meng Ning terluka.
Di luar Klub Wanxi, deretan mobil mewah terparkir, belasan pengawal berbaris rapi dengan sikap hormat di samping mobil, memperlihatkan kekuatan yang luar biasa.
Luo Cheng berdiri di depan mobil mewah, menunggu Fu Tingxiu.
Deretan mobil mewah di pintu masuk sangat mencolok. Klub Wanxi memang tempat elit, tapi jarang ada pemandangan seperti itu, apalagi mobil mewah di depan dengan nomor plat lima digit delapan yang begitu mencolok.
Saat itu, Fu Tingxiu keluar membawa Meng Ning.
Melihat Fu Tingxiu keluar, Luo Cheng hendak mendekat, namun ia melihat Meng Ning di pelukan Fu Tingxiu, langsung tetap berdiri di tempat.
Fu Tingxiu diam-diam memberi isyarat agar mereka tetap menunggu di tempat.
Fu Tingxiu datang ke sana untuk urusan bisnis, ia tidak membawa mobil Chevrolet-nya. Tapi sekarang bukan saatnya Meng Ning tahu identitasnya, jadi ia hanya bisa membawanya untuk naik taksi.
Fu Tingxiu terus berjalan sambil menggendong Meng Ning. Setelah emosinya mulai tenang, ia bertanya dengan suara lembut, "Sudah lapar?"