Bab 39 Malam Romantis

Setelah menikah secara tiba-tiba, identitas rahasia suami dari keluarga kaya tak lagi bisa disembunyikan Sepanjang jalan bermekaran 1776kata 2026-02-08 23:41:55

Meng Ning merasa seolah-olah sudah tak bisa membersihkan diri dari kecurigaan bahwa ia menggoda Fu Tingxiu, meski melompat ke Sungai Kuning sekalipun.

Fu Tingxiu sendiri juga sempat tertegun, ponselnya dalam mode pengeras suara, jadi tentu saja ia mendengar suara Qin Huan.

Sepertinya, ia pulang di waktu yang… kurang tepat.

“Ning Bao, kamu dengar, kan? Kalau kamu masih belum bisa, aku punya beberapa referensi, coba lihat dan pelajari…”

Meng Ning terkejut sampai buru-buru memutus sambungan telepon, saking paniknya, sampai ponselnya terlepas dan nyaris jatuh ke lantai.

Ia cemas sekali, karena ponsel itu baru saja ia beli. Kalau rusak, harus keluar uang lagi untuk membeli yang baru.

Beruntung, ia segera mengulurkan kedua tangan, sehingga ponselnya terselamatkan.

Fu Tingxiu berdiri di ambang pintu, wajahnya tanpa ekspresi, meski sebenarnya ia juga kebingungan.

Karena ingin menyelamatkan ponsel, Meng Ning sudah setengah berlutut di lantai, handuk mandi yang membalut tubuhnya pun agak melorot. Dari sudut pandangnya, Fu Tingxiu hampir melihat segalanya…

Dengan canggung, Meng Ning menarik handuk itu lebih erat.

“Itu… aku tadi belikan kamu teh susu, harusnya masih hangat,” ujarnya dengan senyum paksa, lalu buru-buru menambahkan, “Qin Huan memang suka bercanda, jangan dianggap serius.”

Fu Tingxiu tersenyum cerah, menggoda, “Jadi tiba-tiba aku jadi penasaran, hadiah pernikahan dari Qin Huan waktu itu, piyama tidur, kan?”

Ucapan Fu Tingxiu yang begitu terus terang langsung membuat wajah Meng Ning memerah.

Baru saja selesai mandi, kulitnya putih bersih, merona kemerahan. Saat malu seperti ini, pesonanya benar-benar tak tertandingi.

Kecantikannya tak dibuat-buat, sehingga membuat perut Fu Tingxiu menegang. Sepanjang hidupnya, baru Meng Ning yang hanya dengan menatap saja sudah membuatnya bereaksi seperti itu.

“Qin… Qin Huan memang suka iseng,” ucap Meng Ning, lidahnya terbelit karena gugup.

“Meng Ning.” Tiba-tiba Fu Tingxiu memanggilnya dengan serius, lalu melangkah mendekat.

Jantung Meng Ning berdegup kencang, tubuhnya seolah terpaku, tak mampu bergerak.

Ia menatap pria itu dengan pipi yang bersemu merah, hatinya bergetar hebat seolah hendak melompat keluar dari dada.

Saat itu, terpikir olehnya, jika Fu Tingxiu meminta ia menjalankan kewajiban sebagai istri, apa yang harus ia lakukan?

Mereka adalah pasangan suami istri yang sah. Jika ia mengajukan permintaan seperti itu, memang wajar adanya.

Saat batin Meng Ning berkecamuk, Fu Tingxiu mengangkat tangan, mengulurkan ke arahnya.

Tangan yang ramping dan tegas, membawa aura khas seorang pria. Meng Ning refleks menggenggam erat handuknya.

Namun, saat ia mengira pria itu akan melakukan sesuatu, Fu Tingxiu hanya merapikan helai rambut yang menutupi keningnya.

“Malam-malam habis keramas, jangan lupa keringkan dulu rambutnya. Kalau tidak, nanti bisa sakit kepala.”

“Eh? Oh!” Meng Ning mengangguk polos, membuat Fu Tingxiu tertawa.

Ia membungkuk, membisik di telinganya dengan nada menggelitik, “Kamu takut aku akan memakanmu?”

Meng Ning semakin malu dan cemas, langsung memejamkan mata dan buru-buru berkata, “T-tidak, kok.”

Responsnya membuat hati pria itu gembira.

Fu Tingxiu mengusap kepalanya lembut, “Bukankah besok kamu masih harus wawancara? Istirahatlah lebih awal.”

Mendengar itu, Meng Ning membuka mata. Fu Tingxiu sudah berbalik, mengambil teh susu di atas meja makan.

Ia sempat mengira tadi pria itu ingin… melakukan sesuatu.

Kalau memang benar, sebenarnya… ia pun tidak menolak…

Namun sikap Fu Tingxiu yang langsung berbalik meninggalkannya, entah kenapa menimbulkan sedikit kekecewaan di hati Meng Ning. Apa benar seperti kata Qin Huan, ia terlalu kaku, sehingga Fu Tingxiu tidak tertarik?

Ataukah… pria itu memang tidak mampu?

Setelah kembali ke kamarnya, Meng Ning tanpa sadar menyentuh rambutnya sendiri. Ia masih bisa merasakan kelembutan tangan pria itu tadi.

Saat itu, ponselnya bergetar, pesan dari Qin Huan terus berdatangan.

Qin Huan: “Ada apa? Kenapa tiba-tiba diputus?”

Meng Ning membalas: “Dia sudah pulang, dan kebetulan mendengar semua yang kamu katakan.”

Tak lama, Qin Huan sudah membalas: “Lalu? Ada percikan api nggak?”

Meng Ning: “Tidak ada. Sekarang kami sudah di kamar masing-masing.”

Qin Huan: “Ning Bao, apa Fu Tingxiu itu tidak mampu? Sudah punya istri cantik, masih saja tidur di kamar terpisah, itu sih nggak normal.”

Meng Ning juga sempat curiga, tapi mempertanyakan kemampuan seorang pria itu agak berisiko.

Ia membalas: “Sepertinya bukan, mungkin karena belum ada perasaan saja. Sudah ya, aku mau istirahat, besok ada wawancara.”

Sebagai istri, Meng Ning memilih untuk tetap menjaga citra Fu Tingxiu di hadapan orang lain, meski harus menahan keraguan di hatinya sendiri.

Sementara itu, Fu Tingxiu yang sudah kembali ke kamarnya, menerima telepon dari Fu Boxuan.

Dalam telepon itu, Fu Boxuan menyampaikan pesan dari Fang Qiong, yang meminta agar Fu Tingxiu segera memberinya cucu.

Fu Tingxiu mengerutkan kening, “Banyak ikut campur.”

“Kakak, itu perintah Mama. Kakak sudah tiga puluh tahun, tidak muda lagi. Pria tiga puluhan yang belum pernah menyentuh wanita, itu wajar nggak? Sudah menikah, tapi masih tidur terpisah, apa itu normal? Kakak… jangan-jangan kakak nggak mampu?”

Fu Boxuan bertanya demikian dengan penuh keberanian, meski sadar nyawanya terancam.

“Uang jajan tahun ini, tidak ada.”

Satu kalimat dari Fu Tingxiu langsung menutup mulut adiknya.

Tak menunggu Fu Boxuan memohon ampun, Fu Tingxiu langsung memutuskan sambungan. Ia tahu betul dirinya baik-baik saja. Kalau saja tadi tidak menahan diri, bara itu pasti sudah menyala.

Namun, meski sudah hidup tiga puluh tahun, urusan seperti itu memang belum pernah ia alami.

Ia benar-benar belum pernah menyentuh wanita, meski beberapa tahun lalu, ia pernah bermimpi tentang hal itu—mimpi yang begitu nyata hingga kini masih terpatri di ingatannya.

Wanita dalam mimpi itu, sama seperti Meng Ning, juga memiliki sepasang mata yang sangat menggoda.