Bab 61: Keinginan Bertahan Hidup Fu Tingxiu
Kini, Gu Changming memandang siapa pun seolah-olah mereka ingin mencelakainya.
"Gu Changming, kau sudah gila." Zeng Jing berkata dengan kecewa, "Aku sudah bersamamu selama bertahun-tahun, kau paling tahu isi hatiku. Untuk apa aku mencelakakanmu? Firma hukum itu kita investasikan bersama, aku mengeluarkan semua tabunganku, bahkan menjual rumah orang tuaku. Kalau aku mencelakakanmu, apa untungnya bagiku?"
"Lalu siapa? Siapa yang ingin mencelakakanku?" Gu Changming tampak linglung. "Pabrik ayahku juga kena masalah, pasti ada orang jahat yang menjebakku, pasti itu selingkuhannya Meng Ning."
Gu Changming benar-benar tak bisa memikirkan siapa lagi. Fu Tingsiu tahu mobil dan rumah mewahnya hanya sewaan, mungkin saja karena iri sehingga ingin menghancurkan reputasinya.
Zeng Jing bertanya, "Kau maksud pria bermarga Fu itu?"
"Kemarin aku bertengkar dengan pria bermarga Fu itu, aku melaporkannya ke polisi, lalu firma hukum dan pabrikku langsung bermasalah. Kalau bukan dia, siapa lagi?"
Zeng Jing meragukan, "Dia cuma pegawai biasa, apa mungkin punya kemampuan sebesar itu?"
"Tidak ada rahasia yang tak bisa terbongkar di dunia ini, pasti pria bermarga Fu itu menyuruh orang menyelidikiku, lalu membongkar semua aibku." Begitu memikirkannya, Gu Changming segera menelpon kantor polisi, menanyakan apakah Fu Tingsiu masih ada di sana.
Namun, jawaban yang diterima Gu Changming adalah tidak ada orang dengan nama itu, bahkan kasus semalam pun tak tercatat.
Mendengar hal itu, Gu Changming langsung sadar bahwa ia telah meremehkan Fu Tingsiu.
Selain nama dan tempat kerja, ia tak tahu apa pun tentang Fu Tingsiu.
Ia benar-benar terlalu meremehkannya.
"Zeng Jing, tolong aku satu hal, pergilah ke Departemen Riset dan Pengembangan Grup Shengyu, cari tahu latar belakang pria bermarga Fu itu."
"Gu Changming, di saat seperti ini kau masih sibuk bersaing dengan Meng Ning? Kau seharusnya berpikir bagaimana menyelamatkan firma hukummu. Sertifikat pengacaraku saja mungkin akan dicabut, firma hukum kita tak bisa beroperasi. Ratusan juta yang kita investasikan akan hilang sia-sia."
Itulah sebenarnya tujuan Zeng Jing menemui Gu Changming. Demi menyenangkan Gu Changming dan demi firma hukum itu, ia telah menanamkan dana ratusan juta. Ia tak bisa membiarkannya hilang begitu saja.
Mata Gu Changming memerah, suaranya keras, "Itu semua tidak penting lagi. Kalau kita tidak tahu siapa yang mencelakakanku, semua usaha kita sia-sia. Cepat pergi dan cari tahu asal usul pria bermarga Fu itu!"
Zeng Jing terdiam sejenak karena bentakan itu, namun akhirnya tetap memilih menuruti keinginan Gu Changming.
Baru saja Zeng Jing pergi, lebih banyak penagih utang masuk ke rumah keluarga Gu. Utang ayah harus dibayar oleh anak, mereka memaksa Gu Changming menyerahkan uang, rumah pun jadi berantakan.
Dalam keributan itu, Gu Changming dihajar oleh para penagih utang, sementara ibunya yang ketakutan segera menelpon polisi.
...
Meng Ning tidur nyenyak semalam. Hari ini ia harus melapor ke kantor, jadi pagi-pagi ia sudah bangun.
Hari pertama kerja, ia benar-benar bingung mau pakai baju apa.
Ia mengambil beberapa setelan untuk minta bantuan Fu Tingsiu memilihkan.
Tiga gaun, satu setelan celana jins dan kemeja. Fu Tingsiu melirik, lalu mengambil celana jins dan kemeja itu, "Pakai yang ini saja."
Meng Ning mencoba menyesuaikan di tubuhnya, "Apa ini tidak terlalu norak?"
Fu Tingsiu berkata serius, "Tidak norak sama sekali, cocok dengan warna kulitmu."
Meng Ning tertawa, "Tertutup rapat begini, selain wajah, bagian kulit mana yang kelihatan? Cocok apa dengan warna kulit?"
Jelas-jelas Fu Tingsiu sengaja berkata begitu, tetapi Meng Ning mengerti maksudnya—agar tak ada sedikit pun kulitnya yang terlihat orang lain.
Fu Tingsiu berdeham, "Hari ini pakai yang ini dulu, beberapa hari lagi aku belikan beberapa setelan baru untukmu."
Meng Ning tersenyum dan bertanya, "Fu Tingsiu, memangnya semua pria seperti ini? Suka melihat istri orang lain berpakaian cantik, semakin terbuka semakin suka, sedangkan istri sendiri semakin tertutup semakin baik."
Kata "semakin" yang pertama berarti semakin sedikit, yang kedua berarti semakin banyak.
Fu Tingsiu tersenyum tipis, "Orang lain aku tidak tahu, aku hanya suka melihat istriku sendiri. Istri orang lain bukan urusanku."
Ucapan penuh rayuan itu membuat seluruh tubuh Meng Ning terasa manis.