Bab 64: Ucapan yang Menjadi Kenyataan
Fu Boxuan merasa dirinya sudah menjilat dengan tepat.
Selama bisa mengambil hati kakak iparnya, bukankah dia akan punya satu lagi penopang di masa depan?
Fu Boxuan tersenyum, kedua tangan bertumpu di atas meja kerja: “Kakak, semalam nonton film sama kakak ipar, bagaimana? Apakah hubungan kalian makin dekat, hati berdebar-debar? Pegang-pegang tangan, cium-cium bibir.”
Menyinggung soal film, Fu Tingsiu menatap Fu Boxuan dengan pandangan dalam: “Uang jajanmu untuk semester depan juga hangus.”
“Ah, kenapa?” Fu Boxuan langsung merengek, menarik lengan Fu Tingsiu: “Kakak, aku sudah miskin sampai mau makan angin, tahun ini uang makanku sudah dipotong, sekarang tahun depan juga, aku harus ngemis di jalanan, kita ini darah daging sendiri, kenapa harus saling menekan?”
Aksi Fu Boxuan sangat dramatis, tinggal keluar dua tetes air mata saja lagi.
Sebagai Wakil Direktur Utama Grup Shengyu, Fu Boxuan memang masih harus bergantung pada gaji dari Fu Tingsiu, meskipun gaji dan uang jajannya itu sebenarnya tidak berarti apa-apa baginya.
Orang ini memang jago akting.
Fu Tingsiu menatap tangan Fu Boxuan yang mencengkeramnya dengan wajah jijik, lalu berkata, “Lepaskan cakar kamu itu.”
Fu Boxuan buru-buru melepas, lalu menatap Fu Tingsiu dengan wajah penuh iba, seperti istri yang sedang merajuk.
“Kakak, apa mungkin filmnya salah pilih? Tidak mungkin, aku sudah pernah nonton film itu, suasananya itu lho, ambigu banget, kalau laki-laki dan perempuan nonton di ruangan gelap, pasti ada percikan-percikan.”
“Terlalu vulgar,” kata Fu Tingsiu. “Suasananya tidak cocok.”
Fu Boxuan langsung paham, tertawa dengan maksud tersembunyi: “Kakak, itu salahku kurang cermat, lain kali kakak ajak kakak ipar nonton di rumah, atau ke bioskop privat yang cuma berdua, bebas mau ngapain saja, suasananya pasti lebih mantap.”
Ucapan Fu Boxuan makin ngawur.
Fu Tingsiu pura-pura hendak memukul Fu Boxuan, yang langsung menghindar sambil tertawa: “Kakak, aku ngerti, aku ngerti. Aku mau ke cabang perusahaan, jenguk kakak ipar, hari pertama kerja takut dia tidak nyaman, kan dia cantik, kalau dikucilkan bagaimana, atau dilirik laki-laki lain, lebih repot lagi.”
“Aku sudah pesan ke Liang Chao di cabang, kamu jangan bikin masalah.” Fu Tingsiu melempar setumpuk berkas ke arah Fu Boxuan. “Jangan cari-cari alasan buat kabur, proyek-proyek ini kamu yang urus.”
Fu Boxuan hampir menangis: “…”
“Kakak, waktu kecil aku ditindas, sekarang juga, malah dipotong gaji lagi. Duh, kenapa dulu aku tidak lari lebih kencang, kalau aku jadi kakak tertua pasti enak.”
Di kalangan keluarga kaya, biasanya kakak beradik berebut posisi pewaris, tapi dua bersaudara keluarga Fu justru berlomba cari kesempatan bermalas-malasan, satu lebih licik dari yang lain.
Fu Tingsiu mengambil jas, memakainya, lalu menepuk bahu Fu Boxuan: “Soal itu, cukup kamu pikirkan saja. Selesaikan tugasmu, nanti waktu kencan aku dan kakak iparmu akan makin banyak, urusan perusahaan, kamu yang perhatikan lebih.”
Fu Boxuan mengerucutkan bibir, menggerutu: “Kenapa ibu dulu tidak melahirkan satu lagi, biar aku bisa santai hidup enak, jadi anak manja, makan tidur saja, atau mungkin ayah punya anak di luar, jadi bisa rebutan warisan. Keluarga kita ini benar-benar anomali di kalangan konglomerat, tidak ada tantangan sama sekali.”
Dengan kekayaan keluarga Fu, hidup bermalas-malasan tujuh turunan pun tak akan habis, Fu Boxuan memang tak pernah punya niat berjuang, buat apa juga, toh tak ada gunanya.
Keluarga Fu memang tidak kekurangan uang.
Fu Tingsiu melemparkan tatapan maut pada Fu Boxuan: “Jangan sampai ibu dengar ucapanmu itu, nanti ayahmu suruh tidur di sofa, kalau kartu kamu diblokir jangan salahkan ayah.”
Fu Boxuan terkekeh: “Aku cuma bercanda, Kak, bercanda. Sudah, kakak lanjut, aku urus proyek, kakak nikmati kencan sama kakak ipar, semoga keluarga Fu cepat punya keturunan.”
Fu Boxuan mana tahu, sekilas ucapannya hari ini, sebentar lagi akan jadi kenyataan.