Bab 40 Wawancara Dimulai

Setelah menikah secara tiba-tiba, identitas rahasia suami dari keluarga kaya tak lagi bisa disembunyikan Sepanjang jalan bermekaran 1470kata 2026-02-08 23:41:59

Fu Tingsyu terjebak dalam kenangan mimpinya itu. Sementara itu, Fu Boxuan yang tampaknya tak pernah kapok, kembali mengirim pesan: "Kakak, kamu selalu tidur di kamar terpisah. Kakak ipar tidak akan berpikir macam-macam, kan?"

Fu Tingsyu teringat reaksi Meng Ning tadi. Jangan-jangan, dia benar-benar akan...

Beberapa menit kemudian.

Tanpa sadar, ia sudah berdiri di depan pintu kamar Meng Ning. Beberapa kali ia berniat mengetuk, namun selalu mengurungkan niatnya.

Keesokan harinya.

Fu Tingsyu mendengar suara Meng Ning bangun dari dalam kamarnya. Ia pun segera bangkit.

“Selamat pagi,” sapa Fu Tingsyu dengan suara lembut.

“Selamat pagi.” Meng Ning menanggapi seolah tak ada yang terjadi, tersenyum tipis, lalu seperti biasa berjalan langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Fu Tingsyu ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi tak ada kesempatan. Setelah berpikir sejenak, ia mengambil gelas dan sengaja menuju dispenser di dekat pintu dapur untuk mengambil air.

Ketika menuang air, Fu Tingsyu melirik ke arah Meng Ning.

Meng Ning sedang memotong tomat, sepertinya akan memasak mi tomat telur.

Meng Ning sama sekali tak memperhatikan gerak-gerik Fu Tingsyu. Fu Tingsyu membawa gelasnya ke ruang tamu, tak lama kemudian kembali ke dispenser untuk mengambil air lagi.

Hal itu ia ulangi sampai tiga kali, tetap saja tak menarik perhatian Meng Ning.

Fu Tingsyu pun akhirnya menyerah. Ia berdiri di depan pintu dapur dan bertanya, “Sudah kamu siapkan semua yang dibutuhkan untuk wawancara hari ini?”

Meng Ning sedang merebus mi. Mendengar suara Fu Tingsyu tiba-tiba, jantungnya sempat berdebar.

Ia menenangkan diri, lalu menjawab ragu, “Eh, sudah kok. Kenapa memangnya?”

“Tidak apa-apa, cuma tanya saja.” Fu Tingsyu tampak sedikit canggung, meneguk air untuk menutupi rasa kikuk, lalu kembali ke ruang tamu.

Rumah mereka memang tak terlalu besar, desain ruang tengahnya terbuka. Selama Fu Tingsyu tidak kembali ke kamar tidur, Meng Ning masih bisa melihatnya dari dapur.

Meng Ning merasa heran, tapi ketika mi sudah matang, ia pun membawanya keluar, “Fu Tingsyu, ayo makan. Sarapan hari ini kita makan mi, coba rasakan, apakah rasanya sama seperti yang terakhir kali kamu masak.”

“Ya.” Fu Tingsyu duduk dan mencicipi, “Enak.”

Meng Ning tersenyum, lalu makan dengan gembira, “Oh ya, semalam Kakak Zhou bilang anaknya sudah dapat donor sumsum tulang yang cocok untuk operasi, dan operasinya malah gratis. Semuanya persis seperti yang kau bilang, sepertinya mereka benar-benar akan keluar dari masa sulit. Mulutmu memang membawa berkah.”

Fu Tingsyu tersenyum, “Kalau mulutku memang membawa keberuntungan, hari ini aku juga doakan semoga kau lulus wawancara.”

Meng Ning tersenyum riang, “Dengan doamu, aku makin percaya diri.”

Fu Tingsyu berkata, “Aku yakin kau pasti bisa.”

Sambil makan mi, Meng Ning bertanya, “Kalau aku lulus wawancara, berarti nanti kita bisa berangkat dan pulang kerja bersama, ya?”

“Divisi kita berbeda, tempat kerja juga tidak sama,” jelas Fu Tingsyu dengan suara tenang, “Sebagian besar waktu aku ada di area industri, bukan di gedung kantor. Selain itu, perusahaan membagi area kerja dengan tegas, setiap lantai punya pembagian tugas masing-masing. Perhiasan hanyalah salah satu bidang bisnis Grup Shengyu. Hari ini kau wawancara di Gedung Shengyu, tapi nanti ruang kerjamu bukan di gedung ini, melainkan di anak perusahaan.”

“Oh, begitu ya.” Meng Ning tidak berpikir macam-macam. Apa pun yang dikatakan Fu Tingsyu, ia selalu percaya.

Gedung Shengyu memiliki lebih dari lima puluh lantai, setiap lantai punya bidang kerja yang berbeda, dan tanpa izin, tidak boleh sembarangan naik ke lantai lain. Setiap lift juga diatur hanya bisa berhenti di lantai tertentu.

Hanya lift khusus presiden direksi yang bisa mengakses semua lantai, sedangkan lift lain tidak bisa.

Wawancara dijadwalkan pukul dua siang. Fu Tingsyu tidak pergi ke kantor pagi itu. Pukul satu siang, ia mengantar Meng Ning ke Gedung A Shengyu untuk wawancara.

Saat Meng Ning turun dari mobil, Fu Tingsyu berkata, “Semoga sukses.”

Meng Ning mengepalkan tangan, “Aku pasti bisa.”

Keduanya saling tersenyum. Meng Ning pun berbalik masuk ke dalam gedung, sementara Fu Tingsyu mengendarai mobilnya ke parkiran bawah tanah, lalu naik ke lantai atas menggunakan lift khusus menuju kantor presiden.

Sekretaris utama Luo Cheng melihat kedatangan Fu Tingsyu, segera mendekat dengan hormat, “Direktur Fu.”

Fu Tingsyu berkata dengan suara jernih, “Hari ini ada perekrutan untuk divisi desain perhiasan. Kau awasi langsung proses wawancaranya.”

“Baik, Direktur Fu.” Sebagai orang kepercayaan Fu Tingsyu, Luo Cheng tentu tahu apa yang harus dilakukan.

Istri pemilik Grup Shengyu ikut wawancara, tak boleh sampai tersingkir oleh orang-orang yang tak tahu apa-apa. Identitas Fu Tingsyu pun tak boleh terbongkar, jadi Luo Cheng yang harus turun tangan.