Bab 75: Meng Ning Mabuk dan Kehilangan Kendali

Setelah menikah secara tiba-tiba, identitas rahasia suami dari keluarga kaya tak lagi bisa disembunyikan Sepanjang jalan bermekaran 2024kata 2026-02-08 23:44:43

Baru saja mereka berdua membicarakan soal romantisme dan suasana hati di dalam mobil, dan begitu sampai di rumah, suasana romantis itu sudah dipersiapkan. Di dalam rumah, kelopak mawar berserakan di lantai, di atas meja tertata steak, anggur merah, dan bunga segar, musik lembut mengalun, dan udara dipenuhi aroma wangi.

Semuanya terasa begitu romantis dan penuh nuansa.

Meng Ning menatap Fu Tingsyu, “Kamu yang menyiapkan semua ini?”

Tak ada wanita yang bisa menolak romantisme.

Fu Tingsyu segera mengerti apa yang terjadi. Tak heran Bibi Fang Qiong terus-menerus menelepon mereka agar cepat pulang, ternyata sudah disiapkan kejutan seperti ini.

Fu Tingsyu berkata jujur, “Ini semua ide Bibi.”

Meng Ning sedikit kecewa, “Kupikir kamu yang menyiapkan.”

Ia benar-benar mengira Fu Tingsyu sudah mulai mengerti caranya bersikap romantis.

Steak itu masih hangat, jelas baru saja matang.

Fu Tingsyu bertanya, “Kamu lapar? Mau makan dulu?”

Meng Ning memang sudah lapar. Melihat steak dan foie gras yang terhidang saja sudah membuatnya ingin menyantap segera.

Karena seluruh lantai penuh kelopak bunga, Meng Ning takut menginjaknya. Ia mengganti sepatu dengan sandal dan melangkah hati-hati ke meja makan.

Dari sebelah, Fang Qiong mengintip lewat celah pintu. Melihat keduanya sudah pulang dan masuk ke rumah, wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan.

Sepertinya harapan untuk segera menimang cucu semakin besar.

Bahkan di dalam hati, Fang Qiong sudah mulai merencanakan pernikahan mereka. Bagaimana mungkin pernikahan pewaris keluarga Fu dilakukan secara diam-diam?

Harus dilaksanakan secara megah dan meriah.

Memikirkan itu, Fang Qiong menjadi sangat bersemangat. Ia langsung menelepon Fu Boxuan dan memberitahu rencananya untuk mempersiapkan pernikahan Fu Tingsyu.

Fu Boxuan berkata, “Ibu, bukankah ini terlalu terburu-buru?”

“Apa yang terburu-buru? Menyiapkan pernikahan itu ribet, harus dipersiapkan sejak awal. Masa menunggu sampai detik-detik terakhir baru repot-repot?”

“Setidaknya diskusikan dulu dengan Kakak. Menurutku Kakak sangat menikmati hidupnya yang sekarang.”

“Itu tidak masalah. Aku siapkan dulu saja, siapa tahu sebentar lagi akan dibutuhkan. Namanya juga sedia payung sebelum hujan.”

Fu Boxuan tidak bisa membantah Fang Qiong, jadi ia biarkan saja.

***

Meng Ning tidak terlalu bisa memotong steak. Melihat beberapa kali ia kesulitan, Fu Tingsyu berkata, “Biar aku saja.”

Fu Tingsyu mengambil piringnya dan memotongkan steak untuknya. Setiap gerak-geriknya memperlihatkan keanggunan dan martabat, melihat dia memotong steak pun sudah seperti menikmati sebuah pertunjukan.

Memang pantas disebut memanjakan mata, seperti Fu Tingsyu inilah maknanya.

Meng Ning bertanya santai, “Kamu pernah belajar etiket?”

“Sering menghadiri jamuan, lama-lama jadi terbiasa.” Fu Tingsyu menjawab ringan, lalu menyerahkan steak yang sudah dipotong pada Meng Ning.

Sambil menikmati steak, Meng Ning teringat sesuatu dan berkata, “Oh iya, catatan pengeluaran bulan ini sudah selesai. Di luar uang beli mobil, bulan ini pengeluaran rumah tangga dua ribu yuan, lalu…”

Meng Ning membuka aplikasi pencatat pengeluarannya dan memperlihatkannya pada Fu Tingsyu.

Fu Tingsyu hanya melihat sekilas, lalu berkata, “Uangnya ada padamu, mau dipakai apa terserah kamu. Aku percaya padamu.”

Baru menikah, Meng Ning juga tak pernah meminta uang pada Fu Tingsyu. Meski uangnya habis, ia pun masih sungkan menggunakan kartu bank yang diberikan Fu Tingsyu.

Pada akhirnya, masih ada jarak dan rasa sungkan, belum sepenuhnya membuka hati.

Meng Ning mengangguk, “Oh.”

“Mau minum anggur?” Fu Tingsyu mengambil anggur merah di meja. “Sedikit saja?”

Sekilas saja, Fu Tingsyu sudah tahu anggur merah itu diambil Fang Qiong dari ruang penyimpan di rumah.

Anggur itu rasanya enak, tapi kadar alkoholnya cukup tinggi.

Meng Ning ingin berkata bahwa ia tak pandai minum, mudah mabuk, tapi suasana sudah terbangun seperti ini, jadi ia mengangguk, “Setengah gelas saja, ya.”

Setengah gelas seharusnya tidak mabuk.

Fu Tingsyu memang tidak berniat membuat Meng Ning mabuk. Menikmati foie gras dengan anggur merah rasanya akan lebih nikmat.

Ia menuangkan setengah gelas untuk Meng Ning, lalu mengangkat gelas, “Untuk memperingati satu bulan pernikahan kita, bersulang.”

Baru saat itu Meng Ning sadar, tanpa terasa, mereka sudah menikah satu bulan.

“Bersulang.”

Meng Ning mengangkat gelas, membenturkan dengan lembut, suara bening terdengar, cahaya lilin oranye memantul di gelas kristal, menyoroti wajah dengan lembut, membuat suasana semakin samar dan romantis.

Meng Ning menyesap sedikit, lalu berkata dengan gembira, “Enak sekali, beda sekali dengan yang pernah kuminum sebelumnya, rasanya lembut, tidak pahit sama sekali.”

Dulu Meng Ning hanya pernah minum anggur murah yang dibeli di supermarket, sementara yang dibawa Fang Qiong dari rumah adalah koleksi langka seharga ratusan ribu.

Meng Ning tak tahan menyesap lagi beberapa kali.

Fu Tingsyu tersenyum tipis, “Asal kamu suka. Nanti aku minta Bibi bawa beberapa botol lagi.”

“Tak perlu repot-repot...”

“Keluarga Bibi memang bisnis anggur merah, beberapa botol saja tak ada artinya.”

“Oh begitu.” Meng Ning percaya, lalu meminum habis gelasnya, sambil tersenyum berkata, “Boleh aku tambah lagi?”

“Tentu.” Fu Tingsyu tersenyum dan menuangkan lagi, “Sekarang coba foie grasnya, rasanya akan lebih istimewa.”

Foie gras ini didatangkan langsung dengan pesawat, sangat segar, disantap bersama anggur merah, sungguh perpaduan sempurna.

Meng Ning segera mencicipi foie gras, lalu berkata penuh takjub, “Enak sekali.”

“Makan seperti ini ada aturannya, anggur merah cocok dengan hidangan tertentu, anggur putih untuk yang lain, rasanya berbeda-beda.”

“Kamu tahu banyak sekali.” Meng Ning tertawa, “Apa seperti arak putih yang dipadukan dengan kacang tanah?”

“Kurang lebih begitu...” Fu Tingsyu tersenyum, di bawah cahaya lilin, anggur merah membasahi bibir Meng Ning hingga tampak begitu memesona, membuat siapa saja tergoda untuk menciumnya.

Ia pun menyadari, Meng Ning memang tidak kuat minum, baru setengah gelas saja pipinya sudah memerah.

Fu Tingsyu menelan ludah, “Sama seperti kamu dan aku.”

“Hmm?” Meng Ning belum mengerti, menatapnya dengan pandangan samar.

Sorot matanya memabukkan, cukup sekali pandang untuk menaklukkan hati.

Fu Tingsyu langsung menggenggam tangan Meng Ning, “Cukup minumnya.”

Kalau diteruskan, sesuatu yang tak diinginkan bisa terjadi.