Bab 43: Ibu Mertua Pindah ke Sebelah
Meng Ning juga berbalik untuk melihat ke arah itu.
Orang yang datang adalah sekretaris utama Fu Tingxiu, Luo Cheng.
Meng Ning memang tidak mengenalnya, tetapi Luo Cheng tahu siapa dirinya.
Namun ini juga pertama kalinya Luo Cheng melihat Meng Ning secara langsung—ini adalah nyonya besar perusahaannya sendiri.
Wawancara pria yang tadi mempermalukan Meng Ning langsung tersenyum menjilat, “Sekretaris Luo, kenapa Anda datang ke sini? Apa ada perintah dari Pak Fu?”
Di Grup Shengyu, posisi Luo Cheng bagaikan kepala pelayan kepercayaan di sisi kaisar, siapa yang berani tak memberinya penghormatan?
“Hanya ingin melihat-lihat.” Luo Cheng tidak mengungkapkan bahwa ia datang atas permintaan presiden. Ia sengaja berjalan ke depan meja wawancara, melirik rancangan milik Meng Ning.
Sebagai seorang pria, Luo Cheng sebenarnya tidak tertarik pada perhiasan, namun saat melihat desain Meng Ning, ia justru timbul keinginan untuk melihat perhiasan itu terwujud.
Melihat Luo Cheng memperhatikan desain Meng Ning, si pewawancara pria berkata sambil tersenyum, “Sekretaris Luo, ini kesalahan dari bagian HRD. Saya memang hendak meminta pelamar ini keluar. Grup Shengyu mana mungkin menerima pegawai hanya lulusan SMA.”
Mendengar itu, Luo Cheng bersyukur ia datang tepat waktu. Kalau tidak, nyonya besar Grup Shengyu pasti sudah tersingkir oleh para bodoh ini.
Meng Ning tidak sudi menerima penghinaan itu, ia berkata, “Jika perusahaan Anda memang tidak menerima lulusan SMA, sebaiknya jangan memasang pengumuman seperti itu. Tolong kembalikan hasil desain saya.”
Luo Cheng pun sempat melirik ke arah tong sampah, melihat CV yang sudah diremas dan langsung mengerti kalau Meng Ning baru saja diperlakukan tidak adil.
“Nona Meng, atas perlakuan tidak sopan dari staf kami, saya mewakili perusahaan meminta maaf pada Anda. Jika Grup Shengyu sudah memasang pengumuman seperti itu, maka tak ada yang boleh mengabaikannya. Saya baru saja melihat desain Anda—sangat bagus. Perusahaan kami memang memandang ijazah, tapi lebih menghargai kemampuan.” Luo Cheng menyerahkan desain itu dengan kedua tangan dan bertanya secara simbolis, “Nona Meng, apa alasan Anda mendesain perhiasan?”
Sekretaris utama presiden Grup Shengyu meminta maaf pada pelamar kerja?
Semua yang hadir terkejut, diam-diam bertanya-tanya apakah Meng Ning punya latar belakang istimewa.
Sikap Luo Cheng sangat rendah hati, sehingga Meng Ning pun mendapat kesan baik padanya.
“Aku ingin semua orang bisa mengenakan perhiasan hasil desainku, agar perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata bisa tergambar lewat desain itu, menyalurkan cinta satu sama lain, mengabadikan momen paling berharga, dan semoga mereka yang saling mencintai bisa bersatu,” jawab Meng Ning.
“Bagus sekali.” Luo Cheng mengangguk dan berkata, “Nona Meng, silakan tunggu kabar dari kami melalui telepon.”
Meng Ning agak bingung, apakah ia sudah ditolak?
Saat melamar kerja sebelumnya, ia juga disuruh menunggu kabar, lalu tak pernah dihubungi lagi.
Menunggu kabar biasanya merupakan cara halus untuk menolak.
Meng Ning tidak memperdebatkan lagi, ia pun mengambil desain dan CV-nya lalu keluar.
Begitu ia pergi, Luo Cheng langsung berkata pada pewawancara pria yang tadi mempermalukan Meng Ning, “Silakan ke bagian HRD untuk mengurus gaji Anda, mulai besok tidak perlu masuk kerja lagi.”
Mendengar itu, wajah pria itu langsung berubah, “Sekretaris Luo, kenapa saya dipecat?”
Hanya gara-gara Meng Ning yang lulusan SMA tadi?
Apa benar Meng Ning punya latar belakang luar biasa?
“Kalian bertugas mencari bakat untuk perusahaan, tapi jika menilai orang dengan prasangka, bagaimana bisa merekrut orang berbakat?” kata Luo Cheng, “Kalau memang tidak cocok di posisi ini, lebih baik mundur dan beri kesempatan pada yang lain.”
Memang Luo Cheng tidak berwenang memecat pegawai, namun ia sangat tahu watak Fu Tingxiu—kalau sampai mempermalukan nyonya besar Grup Shengyu, mana mungkin masih bisa bertahan di perusahaan?
Sampai dipecat pun, si pewawancara pria itu masih belum mengerti latar belakang apa yang dimiliki Meng Ning, atau siapa yang telah ia singgung.
Setelah wawancara, Meng Ning pun pergi tanpa tahu apapun yang terjadi setelahnya.
Ia sendiri juga tidak terlalu berharap bisa diterima.
Saat pulang ke rumah, hari sudah hampir pukul empat sore. Meng Ning mampir ke pasar membeli bahan makanan.
Begitu keluar dari lift, ia melihat Bibi Fang Qiong sedang mengarahkan sekelompok pekerja pindahan untuk memindahkan furnitur ke rumah sebelah.
“Bibi!” seru Meng Ning penasaran, “Bibi, sedang apa?”
“Kau sudah pulang, Ning,” jawab Fang Qiong sambil tersenyum. “Bibi baru saja membeli rumah sebelah. Mulai hari ini, bibi pindah ke sini. Kita jadi tetangga sekarang, Ning, kau senang tidak?”
Meng Ning tertegun.
Satu unit rumah di sini harganya pasti miliaran, dan bibi membelinya begitu saja?
Hanya untuk jadi tetangganya?
“Bibi, serius?” Meng Ning masih terkejut, “Bibi benar-benar membeli rumah sebelah?”
“Tentu saja,” jawab Fang Qiong sambil tersenyum. “Nanti kalau bibi bosan, bisa main ke tempatmu. Oh ya, bibi juga bisa masak. Kalau kau ingin makan sesuatu, bilang saja, biar bibi yang masak, jadi kau tidak perlu terlalu capek.”
Alasan utama Fang Qiong pindah adalah agar bisa langsung menjodohkan Meng Ning dengan Fu Tingxiu—kalau ingin cepat-cepat menggendong cucu, tentu sang ibu mertua harus turun tangan sendiri.