Bab 77: Pria yang Jujur
Saat tengah mencium, Fu Tingxiu menyadari ada yang tidak beres. Gadis itu ternyata sudah tertidur. Fu Tingxiu tidak bisa menahan tawa dan helaan napas, lalu mengecup lembut dahi Meng Ning.
“Kalau semudah ini tertipu, untung saja yang kau temui adalah aku.”
Di mata Fu Tingxiu, Meng Ning adalah gadis polos yang selalu memandang dunia dengan penuh keindahan dan kebaikan. Kini Meng Ning sudah terlelap, jadi Fu Tingxiu pun menahan diri. Akal sehatnya kembali, dan ia ingin pengalaman pertama mereka terjadi saat keduanya benar-benar sadar dan saling membuka hati.
Fu Tingxiu menyelimuti Meng Ning dengan baik, lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi air dingin agar menenangkan diri. Meng Ning tidur pulas, sama sekali tidak sadar apa yang telah terjadi, bahkan tidak tahu di mana ia tertidur.
Setelah mandi, Fu Tingxiu mengenakan piyama. Awalnya, ia ingin meninggalkan kamar itu untuk Meng Ning dan tidur di ruang tamu. Namun, menatap wajah Meng Ning yang cantik, ia akhirnya mengurungkan niat menjadi pria berbudi luhur. Ia pun mengangkat selimut dan berbaring di sampingnya, memeluk Meng Ning dari belakang hingga tertidur.
Ini adalah pertama kalinya Fu Tingxiu memeluk Meng Ning saat tidur, namun perasaan hangat dan akrab yang tidak bisa digambarkan membuatnya nyaman. Meng Ning ternyata tidur dengan tidak tenang, bergerak-gerak dalam pelukannya, lalu berbalik dan menempelkan wajahnya ke dada Fu Tingxiu, kedua kakinya pun melingkar erat pada tubuhnya.
Meng Ning memeluk Fu Tingxiu seperti gurita, dan posisi tidur seperti itu membuatnya merasa aman dan nyaman. Fu Tingxiu menatap wajah Meng Ning yang tenang dalam tidur, tersenyum, dan sorot matanya menjadi jauh lebih lembut.
Malam itu, bagi Fu Tingxiu, terasa seperti siksaan. Memiliki wanita cantik dalam pelukan, namun harus menahan diri agar tetap bersikap suci, sungguh bukan perkara mudah.
Keesokan paginya.
Cahaya matahari menembus jendela, membangunkan Meng Ning. Ia menguap dan meregangkan tubuh, bersiap bangun untuk pergi bekerja, tapi baru menyadari bahwa kamarnya berbeda.
Ini bukan kamarnya.
Ini adalah kamar Fu Tingxiu, dan ranjangnya. Meng Ning begitu terkejut hingga hampir tak bisa berpikir. Ia menoleh, Fu Tingxiu masih terlelap di sampingnya. Dengan wajah memerah, Meng Ning buru-buru membuka selimut dan memeriksa dirinya. Pakaian masih lengkap, tubuh pun tidak ada rasa aneh—sepertinya memang tidak terjadi apa-apa.
Meng Ning diam-diam menghela napas lega. Memang benar, ia tidak boleh terlalu banyak minum alkohol, kebiasaan buruknya saat mabuk benar-benar merepotkan. Ia tidak benar-benar lupa, dan perlahan-lahan mengingat kejadian semalam: ia manja pada Fu Tingxiu, memanggilnya suami, minta cium, bahkan menindih tubuh Fu Tingxiu.
“Sungguh… memalukan sekali.”
Apakah Fu Tingxiu menganggapnya terlalu agresif? Meng Ning menjadi panik, membayangkan citra anggunnya hancur berantakan. Dengan pipi memerah, ia merapikan rambutnya. Sebelum Fu Tingxiu terbangun, ia buru-buru melarikan diri dari tempat kejadian.
Meng Ning berjalan hati-hati keluar. Saat ia turun dari ranjang, Fu Tingxiu membuka mata. Sebenarnya ia sudah terbangun sejak tadi, dan sorot matanya penuh tawa. Agar Meng Ning tidak merasa canggung, Fu Tingxiu sengaja menunggu lama sebelum akhirnya keluar kamar seolah baru bangun.
Meng Ning sudah mengenakan sepatu, bersiap pergi kerja. Karena bangun kesiangan, ia tidak sempat menyiapkan sarapan. Melihat Fu Tingxiu sudah bangun, pipi Meng Ning kembali bersemu merah. “Ehh, kau sudah bangun. Aku harus berangkat kerja, waktunya mepet, sarapan urus sendiri ya.”
Fu Tingxiu melirik waktu. “Aku juga harus ke kantor, sekalian saja aku antar kau.”
“...Baiklah!”
Sudah tidur di ranjang yang sama, masa masih takut naik mobil yang sama?
Fu Tingxiu kembali ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Sementara itu, Meng Ning duduk di ambang pintu, menunggu. Dalam beberapa menit menunggu itu, pikirannya dipenuhi berbagai alasan kenapa Fu Tingxiu tidak mengambil kesempatan semalam.
Apa dia kurang menarik? Atau Fu Tingxiu memang tidak bisa? Dua insan dewasa tidur di ranjang yang sama, benar-benar tidak ada keinginan lain dari Fu Tingxiu?
“Ayo berangkat.” Fu Tingxiu keluar dengan kunci mobil, memutuskan lamunan Meng Ning.
“Baik.” Meng Ning menunduk, dengan patuh mengikuti di belakang Fu Tingxiu.
Ia sengaja berjalan setengah langkah di belakang, pikirannya melayang entah ke mana. Tiba-tiba Fu Tingxiu berhenti, Meng Ning yang sedang menunduk tidak sempat mengerem dan menabraknya.
“Maaf…”
Meng Ning buru-buru meminta maaf.
Fu Tingxiu justru menggenggam tangannya dan menariknya ke depan. “Tadi melamun apa? Jalan kok tidak hati-hati?”
“Ha? Tidak, tidak apa-apa.” Meng Ning terkekeh canggung.
Ia bertanya, “Semalam, kau merasa sedikit menyesal tidak?”
Meng Ning: “...”
Bisakah tidak sejujur itu?