Bab 100: Kamar Pribadi Lailis
Setelah memarkirkan mobil di dalam garasi, Mark menghela napas dan melirik Lailis yang sepanjang perjalanan tak mengucapkan sepatah kata pun. Usai merangkai kata-kata dalam benaknya, ia berhenti sejenak lalu berkata kepada Lailis, “Kita sudah sampai di rumah…”
Alis Lailis sedikit terangkat, ia menatap Mark. Mark membalas dengan senyuman paling lebar yang pernah ia berikan kepada Lailis, gadis yang mewarisi setengah darahnya itu. Setelah perbincangan semalam dengan kekasihnya, Kate, sistem dalam diri Mark sempat mati suri dan berhenti bekerja, namun kini ia kembali aktif, bahkan berjalan seribu persen lebih cepat dari biasanya.
Lailis pun menampakkan seulas senyum ke arah Mark, namun belum sampai sedetik, rona wajahnya langsung berubah muram. Ia turun dari mobil sendirian.
Mark hanya bisa terdiam.
Begitu masuk ke ruang tamu, Mark menyapa kekasihnya, Kate, yang sedang duduk di sofa. Kate begitu serius membaca sebuah buku di tangannya, karya Beverly Hofstadter yang berjudul “Si Anak Manja Tak Bisa Diandalkan”.
Setelah melirik sekilas, Mark bertanya, “Dari mana kamu menemukan buku itu?”
“Aku menemukannya waktu membereskan kamar,” jawab Kate sambil menoleh dan tersenyum kepada Lailis yang berdiri di samping Mark. Ia lalu berkata pada Mark dengan rasa ingin tahu, “Aku tak tahu kamu membaca buku semacam ini.”
Mark mengangkat bahu, “Aku tidak membacanya. Bukankah kamu tahu, nama keluarga ibuku sebelum menikah adalah Hofstadter?”
“Lalu… Beverly itu?” tanya Kate.
“Anggap saja dia tanteku dari pihak ibu,” jawab Mark sambil mengangkat koper di tangannya. “Kamarnya sudah siap?”
Kate meletakkan buku itu ke samping, mengenakan sandal rumah, lalu langsung merebut koper dari tangan Mark. Belum sempat Mark bereaksi, Kate sudah tersenyum pada Lailis dan berkata, “Ayo, aku antar ke kamarmu!”
“Terima kasih,” ucap Lailis setelah melirik Mark dan menggigit bibirnya.
Mark hanya bisa termangu menatap dua perempuan itu menaiki tangga. Apa yang sebenarnya terjadi? Sejak kemarin, saat Kate mengusulkan agar Lailis tinggal bersama mereka, Mark sudah merasa bingung. Dan kini, ia merasa seperti berada dalam kegelapan, meraba-raba tanpa arah.
Bukankah seharusnya, jika mengikuti alur cerita pada umumnya, Kate akan marah besar setelah mengetahui Mark punya anak di luar nikah?
Namun... mungkinkah Mark memang punya aura bawaan tertentu? Mungkin aura kepemimpinan? Atau wibawa yang membuat orang segan? Ia menggeleng, tak menemukan jawabannya.
Mark pun mengambil sebotol bir dari kulkas dan duduk di sofa. Ia melirik buku di sampingnya, tersenyum tipis. Beverly Hofstadter, penulis buku itu, memang tante dari pihak ibunya. Dalam “Si Anak Manja Tak Bisa Diandalkan”, hampir semua kebiasaan sepupunya, Leonard Hofstadter yang sedang menempuh program doktor, ditulis secara rinci. Bahkan, urusan kecil seperti cairan tubuh yang keluar dari Leonard pun tercatat di sana.
Mark menyalakan televisi, merebahkan diri dengan posisi nyaman, menyesap bir, sembari mendengarkan suara-suara dari lantai dua.
Di lantai atas, Kate berdiri di depan pintu kamar yang semalam sudah ia rapikan dan baru selesai dibereskan tadi. Ia menoleh pada Lailis yang berdiri di belakangnya, bibir terkatup rapat.
Kate menunjuk ke arah pintu kamar, “Kamu mau aku temani masuk?”
Lailis melirik Kate dan menjawab datar, “Terserah saja.”
Lailis masih ingat Kate. Pada hari mereka bertemu, ia sempat mencibir Kate yang tengah joging dengan sebutan “burung kenari”. Namun Kate hanya tersenyum, sama sekali tak memedulikan sikap Lailis.
Kate membuka pintu kamar. Begitu masuk, Lailis langsung melemparkan tas ke lantai dan memandang tak percaya pada isi kamar. Nuansa feminin penuh kehangatan itu sangat sesuai dengan impian Lailis.
Ia berlari ke jendela kamar tamu, memandang halaman belakang yang tenang dan indah, serta seekor kura-kura raksasa yang lagi-lagi berpindah dari bawah terik matahari ke tempat teduh. Hewan yang seharusnya suka berjemur itu malah enggan kena matahari—benar-benar aneh bagi spesiesnya. Kalau saja kura-kura bernama Bas itu bukan hewan peliharaan Kate sejak kecil, Mark pasti sudah memasaknya.
Segalanya di kamar itu persis seperti impian Lailis, membuatnya tertawa kecil. Ia lalu merebah di ranjang besar bergaya remaja perempuan.
Kate yang bersandar di ambang pintu tersenyum dan berkata kepada Lailis, “Mark sudah mulai menata kamar ini dari tadi malam. Sebenarnya ia ingin menemuimu dan memberitahumu langsung.”
Lailis tak menjawab, matanya tiba-tiba berbinar. Ia mendekati lemari pakaian yang terbuka dan melihat deretan baju di dalamnya. “Apa ini semua dia yang beli untukku?”
“Bukan,” jawab Kate sambil tertawa. “Mark itu tipe yang tak sudi belanja, jadi semua ini aku yang beli pagi tadi. Kamu suka?”
“Terima kasih,” ucap Lailis tanpa bisa menahan diri. Harga satu saja dari pakaian itu sebenarnya sudah cukup membuat Lailis gentar.
Pada saat itu, dari bawah terdengar suara Mark yang memanggil, “Kate, jangan lupa bilang ke Lailis, semua baju itu uangnya dari aku!”
Kate dan Lailis saling pandang, lalu terkekeh bersamaan.
Beberapa saat kemudian, Lailis memandangi isi kamar dengan ekspresi tak terjelaskan. “Ini kali pertama aku punya kamar sendiri.”
Kate menatap Lailis yang meneliti setiap sudut kamar tamu dengan penuh rasa ingin tahu. “Mark sudah bicara dengan beberapa temannya di pengadilan. Ia sungguh ingin kamu tinggal bersama lagi dengannya...”
Gerakan Lailis sempat terhenti, keningnya berkerut. “Kalau kamu sendiri, bagaimana?”
“Aku?” Kate tersenyum melihat bibir Lailis yang sedikit tersungging. “Aku dengar kok, apa yang kamu katakan tentang aku waktu itu.”
Wajah Lailis langsung memerah.
Kate tertawa, “Aku menganggapnya pujian, tahu!”
Lailis terdiam.
Saat itu, Mark yang merasa tak ada yang menggubrisnya, naik ke lantai dua. Dengan wajah sedikit tegang dan penuh harap, ia menatap Lailis di dalam kamar, “Kamu suka?”
Bagaimanapun, Lailis adalah anak kandungnya. Jujur saja, Mark tak tahu kenapa ia sebegitu gugupnya. Rasanya seperti usai menulis sebuah karangan dan berharap mendapat persetujuan guru.
Dulu, sewaktu menulis karangan dengan gaya orang ketiga, karya Mark pernah dicap tak jelas oleh guru olahraga—karena saat itu guru Bahasa Indonesia sedang cuti melahirkan, dan guru olahragalah yang menggantikan.
Demi Tuhan, Mark bersumpah, kaca rumah guru olahraga itu bukan ia pecahkan dengan tangan. Melainkan... dengan ketapel.