Bab 048: Teh yang Aneh
Si Malas tak berminat bercanda dengan Pemimpin Berjubah Hitam, ia hanya duduk di hadapannya sementara sang pemimpin tanpa sungkan menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri—teh yang memang sengaja ia bawa, masih satu teko dua cangkir, seolah-olah untuk orang lain. Namun, di Aula Babi Tanah ini sudah tak ada siapa pun selain mereka. Teh yang disuguhkan bukanlah teh yang biasa ia minum, ada aroma lembut yang samar, entah memang benar demikian atau hanya pengaruh sugesti, setelah meneguk secangkir, Si Malas merasa seluruh tubuhnya segar dan nyaman, kelelahan saat berada dalam ilusi perlahan-lahan sirna bersama wangi teh yang menenangkan.
Hal itu mengingatkannya pada pakaian yang ia kenakan, segera ia bertanya pada Pemimpin Berjubah Hitam, “Pakaian yang kau berikan ini benda berharga apa? Bukan hanya bisa menahan kekuatan Panggung Dewa, tapi juga bisa menyerap kekuatan spiritual orang lain? Tidak, tidak, aku harus tanya yang lain dulu—aku sudah menyerap begitu banyak kekuatan spiritual yang macam-macam, apa tidak akan membuatku sakit perut? Tidak akan berbahaya bagi tubuhku, kan?”
Setelah berlatih bersama Pemimpin Berjubah Hitam beberapa waktu, Si Malas mulai terbiasa. Ia mendapati sang pemimpin meski tampak dingin, sebenarnya itu hanya ilusi yang muncul karena jubah hitam yang menutupi wajahnya. Pada kenyataannya, ia tidak pernah menunjukkan wajah masam padanya (tentu saja, Si Malas pun tak akan bisa melihatnya), bahkan terkadang suka bercanda, dan tak pernah mempermasalahkan apa pun yang ia katakan.
Karena itu, Si Malas pun semakin santai di hadapannya, seperti ketika bersama Shuang Hua, sehingga tutur katanya pun lebih lepas.
Pemimpin Berjubah Hitam pun benar saja menertawakannya, “Dari tadi bertanya, semua demi kepentinganmu sendiri.”
Si Malas merasa ia sedang menyindir, buru-buru berkata, “Aku juga mempedulikanmu, lho! Waktu itu Paman Guru Kedua datang tanya sambil mengacungkan batu, aku benar-benar tidak tahu harus jawab apa, eh, tiba-tiba batunya menghilang. Aku ingin memberitahumu sejak lama, tapi kau tak pernah muncul menemuiku.” Ketika berkata demikian, tiba-tiba liontin bunga persik di dadanya bergetar, pasti itu Paman Guru Ketujuh yang memanggilnya.
Ia segera berkata pada Pemimpin Berjubah Hitam, “Tunggu sebentar,” lalu masuk ke ruang dalam dan merapal mantra untuk membuka liontin itu. Benar saja, suara santai Xuan Cheng terdengar malas-malasan, “Katanya kau menang? Hebat juga!”
“Kelompok kami yang menang!” Si Malas berusaha mengabaikan rasa kecewa karena jasanya diambil Ruan Ziwen, “Ruan Ziwen yang menemukan Raja Siluman, dan dia juga yang mengambil Inti Siluman.”
“Dulu kau selalu memanggilnya ‘Nona’.”
Si Malas tertegun sejenak, lalu buru-buru tersenyum dan memperbaiki ucapannya, “Keceplosan.”
Xuan Cheng tidak memperpanjang urusan, hanya tertawa pelan dan bertanya kapan Si Malas akan ke Lembah Bunga Persik. Setelah mendengar Si Malas sudah masuk kelas khusus dan berlatih bersama Su Liqing, ia pun berkata, “Kalau begitu, besok malam setelah makan malam sebelum pelajaran malam, datanglah, aku punya sesuatu yang bagus untukmu.”
“Baiklah!” Si Malas segera setuju, lalu mematikan liontin bunga persik dan kembali ke ruang depan. Ia melihat Pemimpin Berjubah Hitam masih duduk diam menikmati teh, hanya saja kali ini ujung lengan jubahnya menutupi jemari tangan.
Melihat Si Malas keluar, Pemimpin Berjubah Hitam meletakkan cangkir tehnya, “Biar kutebak—itu Paman Guru Ketujuh yang selalu kau rindukan?”
“Paman Guru Ketujuh ya Paman Guru Ketujuh, kenapa harus dibilang ‘selalu dirindukan’? Orang yang menempuh jalan keabadian, kenapa ucapannya ambigu begitu.” Si Malas menuang secangkir teh lagi dan menenggaknya, suara tawa ringan Pemimpin Berjubah Hitam pun terdengar, “Seperti sapi meneguk air saja.”
“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Si Malas tak sabar ingin tahu jawabannya, sebab baginya berlatih adalah segalanya. Segala urusan yang ada sekarang tidak ada yang lebih penting dari berlatih; hanya dengan berlatih ia bisa melindungi diri, bisa mencapai keabadian, bisa menuntaskan apa yang belum ia lakukan di kehidupan sebelumnya.
Pemimpin Berjubah Hitam juga bukan orang yang suka mengalah, “Batu yang dibawa Paman Guru Kedua itu aku yang mengambilnya. Setelah kuperiksa, ternyata itu cuma batu biasa, bukan yang aku cari. Saat itu aku sempat berpikir, jangan-jangan kau menipuku, menukar batu palsu untuk mengelabuhiku?”
Si Malas ingin membela diri bahwa ia sendiri tak mengerti, mana tahu batu itu bukan yang diinginkan Pemimpin Berjubah Hitam. Namun tiba-tiba kepalanya pusing, tubuhnya lemas, sebentar saja ia sudah tak berdaya, duduk bersandar di kursi, bahkan mengangkat kepala pun sudah sulit.
“Kau... mempermainkanku...” Baru sadar kemungkinan besar ini gara-gara teh tadi, Si Malas mengutuk dirinya sendiri, bagaimana bisa ia minum minuman dari orang asing begitu saja? Apa karena baru saja keluar dari ilusi, tubuhnya masih lelah, sampai lupa bahwa Pemimpin Berjubah Hitam bisa saja curiga batu itu palsu dan tidak lagi percaya padanya? Yang ada di pikirannya hanya Ruan Ziwen, pakaian, Shuang Hua… sampai-sampai lupa alasan ia diberi pakaian ini!
Terdengar tawa dingin dari balik tudung biru gelap, “Aku hanya menirumu—tadi kau mempermainkan Su Liqing, baru kutahu kau ternyata bisa menerima perlakuan begitu. Kalau begitu, aku pun boleh melakukannya padamu, kan? Kenapa, kau boleh main, aku tidak?”
Bagaimana bisa dia tahu semuanya? Benar-benar seperti bayangan yang tak mau pergi...
Namun Si Malas sudah tak sempat memikirkan itu. Tangan dan kakinya sudah sepenuhnya mati rasa, otaknya seperti dipaku di tiang, tubuhnya seolah terbelenggu, tak bisa bergerak maupun lepas.
Ia hanya bisa menatap Pemimpin Berjubah Hitam bangkit dan berjalan mendekat, lalu melihatnya mengangkat kedua tangan, merapatkan jari telunjuk dan tengah di kiri kanan tudungnya. Sepertinya sedang merapal mantra, tapi entah mantra apa, Si Malas tak tahu. Yang jelas, kini ia hanya bisa pasrah seperti ikan di atas talenan.
Sang pemimpin berdiri di hadapannya dengan cara yang aneh, lalu menurunkan satu tangan, perlahan meraih tangan kanan Si Malas, menggenggamnya lembut, ibu jarinya meluncur perlahan di atas punggung tangan, turun ke jari manis—tepat di tempat Cincin Roh Rubah berada.
Sekejap detak jantung Si Malas berpacu, ingin lari, ingin menangkis, ingin memukul tapi tubuhnya tak bisa bergerak. Mau berteriak pun takut membuat masalah, ia pun menangis lirih, “Kakak, Kakak, semuanya bisa dibicarakan baik-baik...”
Kalimat itu bisa bermakna ia takut disakiti Pemimpin Berjubah Hitam, bisa juga karena takut sang pemimpin akan menyakiti Shuang Hua.
Di saat ia hampir putus asa, Cincin Roh Rubah di jari manisnya tiba-tiba melesat masuk ke dalam meridian, lalu menghilang di pusaran energi dalam tubuh, bahkan rasa dinginnya pun hampir tak terasa.
Jari Pemimpin Berjubah Hitam terus meluncur turun, tapi Shuang Hua sudah tak ada, sehingga tak ada lagi yang menghalangi sentuhan ke ujung jari Si Malas, lalu ia melepaskan genggaman.
Si Malas tak bisa melihat raut wajah ataupun mata Pemimpin Berjubah Hitam, tak tahu apa yang sedang dipikirkannya, hanya samar-samar merasa ia sepertinya sudah menyadari keberadaan Shuang Hua, hanya saja belum tahu di mana. Ia pun tak tahu apa sebenarnya hubungan antara mereka berdua, kenapa begitu gigih mengejar, juga tak tahu siapa di antara mereka yang lebih hebat.
Kekuatan Shuang Hua memang tersegel, sehingga tak punya banyak kemampuan, namun ia mampu lolos dari pelacakan Pemimpin Berjubah Hitam; sementara sang pemimpin tampaknya tak sehebat Shuang Hua, tapi bisa menyusup di Gerbang Surgawi tanpa diketahui para ahli di sana.